Shangri La, kota cantik di ujung provinsi Yunnan

posted in: China | 28

Shangri La merupakan kota ke-4 (terakhir) dari trip Yunnan. Rute untuk eksplore Yunnan ini dimulai dari Kunming, kemudian lanjut dengan kereta ke Dali. Dari sini lanjut ke Lijiang juga naik kereta, kemudian ke Tiger Leaping Gorge, dan terakhir lanjut ke Shangri La.

Agak lupa pertama kali tahu Shangri La dari mana, tapi setelah tahu jadi kepengen ke sini dan mulai deh cari-cari info untuk pergi tempat ini. Shangri La, sebuah kota di Provinsi Yunnan, Republik Rakyat China, konon katanya pertama kali dikenal dunia melalui novel “Lost Horizon” karangan James Hilton tahun 1939. Dikenal juga dengan “Eden in Dream”, saat itu Shangri La dianggap sebagai sebuah tempat yang misterius. Kota ini juga disebut-sebut sebagai replika dari Tibet dimana etnis mayoritas nya adalah Tibetan (I call the city ‘Little Tibet’). Sebutan lain untuk kota ini yaitu ‘The Lost Paradise’.

Shangri La berbatasan dengan Tibet dan Provinsi Sichuan. Dikelilingi Himalayan range, kota ini berada di ketinggian 3.160 mdpl. Bagi wisatawan yang datang ke Shangri La bisa mengalami ‘altitude sickness’ (als), dikenal juga dengan ‘altitude mountain sickness’ (ams). Gejala ‘als’ bisa timbul dikarenakan perbedaan ketinggian dari tempat asal. Untuk mengatasi ‘als’ ini, kita disarankan untuk tidak melakukan aktivitas fisik berat di hari pertama, banyak mengkonsumsi air putih, sayuran, dan buah-buahan. Selain itu bisa juga mengkonsumsi cokelat, biscuit, atau ginger tea yang dipercaya dapat mengatasi altitude sickness. Untungnya saya dan teman-teman sudah sedikit aklimatisasi dari kota-kota sebelumnya jadi tidak sampai kena ‘als’ ini. Info mengenai ‘als’ bisa dibaca di: https://travel4soul.id/2019/08/12/acute-mountain-sickness/

Buat yang mau ke Shangri La melalui Kunming (ibukota Provinsi Yunnan), bisa lewat udara dan darat. Selain Kunming, beberapa kota besar di China juga memiliki penerbangan langsung ke Shangri La, seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, Lhasa, Chengdu.  Sayangnya, belum ada jalur kereta langsung ke Shangri La. Jadi kalau kamu mau ke sini lewat jalan darat, kamu bisa naik kereta sampai dengan Lijiang. Setelahnya lanjut dengan bus atau van ke Shangri La.

Tibet look a like

Nah kemarin itu saya berangkat dari Lijiang ke Shangri La dengan sedikit waktu yang meleset dari rencana. Rencana kami berangkat dari Tiger Leaping Gorge (TLG) naik van yang sudah book sebelumnya dari hotel di Lijiang. Nah seharusnya kan berangkat dr TLG ini jam 15.30. Saya sudah cek ke resepsionis di Tina’s Guest House untuk konfirmasi dan dijawab iya nanti jam 15.30 van-nya ada di parkiran. Jadi saya santai-santai ngobrol. Sekitar jam 15.15 coba iseng nanya lagi, masih dijawab iya jam 15.30. Lemotnya saya 😂, ‘ga nanya nanti dikasih atau atau tidak waktu van-nya sudah ada. ‘ga lama baru deh ada satu orang yang lain nanya berangkat ke Shangri La yah? Dan katanya van sudah ada di parkiran. Langsung kita buru-buru ke parkiran mau masuk ke van, dan ternyata oh ternyata, van nya udah penuh. Padahal harusnya itu van sesuai jumlah orang yang pesen. Staf di Tina’s Guest House pada bingung kenapa bisa overseat gitu, dan akhirnya diminta untuk nunggu mereka cek n ricek. Lumayan lama nunggu akhirnya diinfo katanya kami akan pergi ke Shangri La naik bus umum dari terminal terdekat.

Langsung donk saya konfirmasi ‘ga perlu nambah bayar kan (‘ga mau rugi 😅)? Soalnya kita jelas-jelas udah pesen van malahan ‘ga dapat tempat dan tinggal deh tuh ama si van. Diinfo ama pemiliknya kita ‘ga perlu bayar nambah apapun (ya iyalaah, orang salah dia kan yah 😂). Akhirnya kita diantar dari guest house ke terminal terdekat yang ‘ga dekat (sekitar 30-45 menit perjalanan tanpa macet). Udah nyampe terminal tu bis lagi ‘dimandiin’ jadi ‘ga bisa langsung masuk bis.

‘Rejeki’ dapet bus umum, jadinya duduk kepisah-pisah karena udah penuh dengan orang lokal. Plus dengan berbagai macam aroma dan pernak-pernik di bus kek   aroma bawang, orang-orang sepuh dan ada yang bawa anjing nya naik bus! (yes, anjing gede pulaks, sayang ‘ga photo 😅).

Sejam terlambat dari jadwal harusnya jam 15.30, kami baru mulai meninggalkan TLG sekitar jam 16.40. Untungnya ternyata ‘ga lama-lama banget untuk sampai k Shangri La. Sekitar jam 18.00 sudah mulai masuk ke Shangri La, langsung disambut dengan udara yang lebih dingin (dan atap bus nya ada yg dibuka jadi angin nya kenceng semriwing). Plus, pemandangan Himalayan di kejauhan yang bisa dilihat dari jendela 😍. Sayang saya ‘ga duduk di sebelah jendela, jadi cuma bisa photo sedikit. Ini pun photo sambil dilihatin kakek yang duduk di sebelah saya, mungkin dia mikir norak bener nih turis 😂. maap opaaaa….saya emang norak kalo liat snow peak mountain 😂

view on the way to Shangri La

Sampai di Shangri La dan berhenti di salah satu pom bensin (belum sampai di terminal di Shangr La), karena salah satu teman ada yang sudah harus ke toilet. Dari situ kami lanjut naik taxi dengan berbekal nama hotel & nomor telepon dalam aksara China. Untungnya bapak supir baik, dia telfon ke penginapan untuk tanya alamat. Secara kami hanya komunikasi via bahasa tubuh 🤣. Akhirnya sampai di hotel dengan sukses dan disuguhi ginger tea yang hangat 🥃. Kanpei pertama kami 😆.

tashi delek

Shangri La memiliki tempat wisata yang sangat beragam, mulai dari kuil, national park, dan tentu saja deretan pegunungan Himalaya-nya. Untuk ke tempat-tempat wisata di Shangri La, kamu bisa pergi sendiri atau bergabung dengan tour yang ditawarkan dari penginapan.

Berikut beberapa rekomendasi tempat-tempat yang bisa kamu kunjungi selama berada di Shangri La yang kemarin saya eksplor.

1             Dukezong Ancient Town

Setelah sedikit drama keberangkatan dari TLG, kami sampai di hotel sore hari. Nah kebetulan hotel yang saya pesan persis berada di area Dukezong Ancient Town yang merupakan kompleks kota tua di Shangri La. Plus manajer hotelnya ganteng bin macho abezz (sayang ‘ga minta photo 😅). Setelah check in dan istirahat sebentar langsung keluar untuk keliling di sekitaran sini. Dukezong Ancient City terdiri dari banyak bangunyan yang dijadikan tempat usaha mulai dari toko souvenir, rumah makan dan café/bar dengan bangunan yang khas Tibet.

one of the corner in Dukezong

Setelah keliling area ini dan di jalan pulang kembali ke hotel, kami sampai di main square-nya gitu dan lihat ada kerumuman orang banyak. Nah ternyata, ada beberapa penduduk lokal yang sedang menari diiringi lagu lokal (Tibetan Music). Jadi ternyata, “Tibetan Folk Dances’ ini salah satu yang wajib dilihat selama di Dukezong Ancient Town dimana penduduk lokal akan berkumpul dan menari mengikuti musik local (Tibetan music) setiap sore. => cek video berikut untuk lihat keseruannya : https://www.instagram.com/p/ByHy2jtFKDc/ Kamu juga bisa lho ikutan menari bersama mereka, pede aja sih kalau ‘ga tahu gerakannya 😁.

2             The Biggest Tibetan Prayer Wheel

Kalau kamu berjalan sedikit menjauh dari Dukezong Ancient Town, kamu akan tiba di Guishan Park. Di sini terdapat kuil yang letaknya di atas bukit. Nah, di area kuil-nya ada prayer wheel raksasa yang disebut-sebut sebagai ‘The biggest Tibetan prayer wheel’. Prayer wheel ini tingginya 24meter dan butuh beberapa orang untuk menggerakkan wheel ini saking beratnya kali yah. Untuk sampai di tempat prayer wheel ini emang perlu sedikit usaha harus naik tangga dari depan kuil. Tapi, semuanya akan terbayar dengan pemandangan cantik dari atas. Kamu bisa melihat arah pegunungan Himalaya dan ke arah kota Shangri La dari atas sana. Tempat ini ramai dikunjungi terutama di sore hari.

the biggest Tibeta prayer wheel
afternoon view

3             Shika Snow Mountain

Untuk masyarakat tropis seperti kita, berkunjung ke salah satu tempat untuk bermain salju wajib jadi pilihan utama. Sebenarnya sih ada beberapa snow mountain yang bisa dikunjungi di Shangri La. Nah, pas kesini karena waktu yang terbatas, saya milih ke Shika Snow Mountain yang letaknya paling dekat dari hotel. Berada di ketinggian 4.500 mdpl, untuk sampai di atasnya (phase 2), kita harus ganti cable car di phase 1. Sepanjang perjalanan dengan cable car, kita akan disuguhi pemandangan gunung salju-nya Himalayan Range 💙💙💙.

Himalayan Ranges 💙💙💙😍😍😍💙💙💙
alone on the top of the mountain

Beruntung pas kesini cuacanya cerah, jadi bisa sampai di phase 2. Pas turun dari cable car dan mulai jalan mau keliling, eh mulai berasa agak susah napas,jadi ‘ga bias petakilan juga. Saking senengnya liat Himalayan Range ‘ga mau melewatkan untuk photo-photo walaupun jari-jari tangan langsung beku begitu lepas sarung tangan😅. Di sini selain dingin,  anginnya itu bikin menggigil ampe ke tulang-tulang 🥶. Jangan salah kostum yah kalau ke sini, harus prepare pakaian hangat yang pas. Buat yang ‘ga punya proper jaket ada koq tempat penyewaan jaket dan juga jual oxygen can untuk antisipasi ‘als’.

4.500m above sea level

4             Balagezong National Park

Awalnya tempat ini tidak masuk dalam daftar tempat yang mau didatangi di Shangri-La. Tapi setelah ditawarin dari hotel dan lihat brosurnya cakep banget dan diskusi dengan teman-teman juga mau, akhirnya kami pilih ikut tour dari hotel (lemah iman 😅). Nah tempatnya itu masuk kategori taman nasional. Terletak sedikit di luar kota Shangri La, kira-kira perlu waktu satu jam untuk sampe ke tempat ini. Karena letaknya yang agak jauh kebanyakan yang mau kesini ambil paket tour dan perlu waktu satu hari penuh untuk eksplore tempat ini. Setelah sampai di parkiran utama, kita nanti ganti transportasi naik scenic bus nya untuk mengunjungi beberapa tempat diantaranya Shangri La Grand Canyon, Shambala Stupa, Bala Village, dan Echo Wall. Jangan lupa pilih kursi dekat jendala yah, karena perjalanan pergi dan pulang akan disuguhi pemandangan ‘snow peak mountain’, walopun agak bikin sport jantung karena jalannya yang belok-belok naik turun dan sebelahnya jurang 😆

Balagezong National Park
at Bala Village
Shangri La Grand Canyon

4             Songzanlin Monastery

Merupakan kuil Budha terbesar di Yunnan, sering disebut juga sebagai ‘mini Potala Palace’ karena mirip dengan Potala Palace di Tibet. Informasi dari manajer hotel kami di Shangri La, disarankan untuk berkunjung di sore hari karena tidak terlalu padat dengan turis dibandingkan di pagi hari. Biasanya hotel-hotel di Shangri La juga menyediakan tiket ke Songzanlin Monastery dengan harga diskon. Sayang kami ‘ga kesini karena waktu yang sempit jadi akhirnya beberapa tempat kami skip.

empty street

Selain tempat-tempat tersebut, jangan lewatkan juga untuk berkeliling kota Shangri La dengan berjalan kaki. Jalan kaki disini bener-bener dimanjakan soalnya pedestriannya lebar-lebar, rapi, dan juga di jalan tidak banyak kendaraan jadi malahan berkesan sepi. ‘Ga ada tuh lihat macet dan denger bunyi klakson sahut-sahutan 😄. Ada beberapa spot yang menarik selama perjalanan dan waktu arah pulang ke hotel kami menemukan taman di tengah kota yang cantik. Jadi deh ambil posisi ‘ga mau lewatin tanpa  photo-photo 🤭.

city park

Trus kami juga lewatin tempat yang namanya Diqing Nationalities Culture Square. Kami tidak coba masuk kesini hanya lihat dari pinggir jalan aja. Pintu masuknya sih agak jauh dari pinggir jalan, nah tapi di pinggir jalannya ini ada patung-patung di halamannya.

hallo uncle 😁

Buat yang muslim, jangan khawatir tidak nemu makanan halal. Di beberapa tempat saya lihat banyak tempat makan dengan label halal. Tapi jangan kaget yah, di sini tempat-tempat makan banyak yang menggantung stok daging mereka di depan restoran kayak di pasar-pasar gitu kalau di sini. Mungkin karena faktor udara yang dingin jadi ‘ga perlu disimpen di kulkas 😁.

Rasanya kurang banget cuma bisa eksplor Shangri La hanya 3hari aja. Karna masih  banyak tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi. Waktu saya nyusun itin untuk tempat-tempat yang mau dikunjungi juga bingung pilih yang mana aja karena terbatasnya waktu. Semoga bisa balik ke sini suatu saat nanti untuk eksplor lebih banyak. Soooo, Shangri La harus banget dimasukin ke bucket list kamu, dijamin kamu akan jatuh cinta ama kota cantik ini dan sediakan waktu lebih agar bisa puas eksplornya yah.

💙 loooveeee the city 💙

Chasing ‘Sakura’

posted in: Jepang | 12

Udah tahu donk bunga sakura yang cantik tapi ‘ga panjang umur itu 😅. Pasti udah tahu juga kan biasanya kalau denger sakura ingetnya negara mana? Yups, Jepang! Beberapa tahun terakhir ini Jepang semakin booming menjadi tujuan wisatawan Indonesia yang berlibur ke Jepang di musim semi untuk lihat sakura mekar. Well, sebenenernya sih sakura ada di beberapa negara Asia lainnya kayak Korea, China, atau India tapi emang Jepang itu identik banget yah dengan sakura-nya di musim semi.

Utano Youth Hostel, Kyoto

Setiap tahun, waktunya bunga sakura bermekaran di Jepang itu berbeda-beda tergantung cuaca dan wilayah. Biasanya wilayah utara akan mekar lebih lambat dibandingin ama wilayah selatan karena cuaca di utara lebih dingin. Jadi kalau punya rencana mau lihat sakura di sana, jangan lupa rajin-rajin cek cherry blossom forecast yah.

norak sedikit boleh yah 😄

Perjalanan ke Jepang adalah trip pertama ke negara asalnya Doraemon dan Conan 😄 dan langsung pergi pas di spring karena emang berharap bisa lihat sakura. Kota yang didatangi untuk lihat sakura yaitu Tokyo, Osaka dan Kyoto di akhir bulan Maret.

Mendarat di Osaka dan lanjut perjalanan untuk nginap di Kyoto, saat itu suhu berkisar antara 5-8˚C (🥶 dingiiinnn buat orang tropis macam kita).  Eksplore Kyoto dan Osaka selama 4 hari belum banyak pohon sakura yang full blooming, tapi beruntung bisa lihat pohon yang sudah mulai mekar. Sepertinya tahun itu emang cuacanya lebih dingin jadi sakura-nya terlambat mekar.

sakura di halaman belakang hostel

Setelah eksplore Kyoto, Osaka, dan Kawaguchi perjalanan dilanjutkan ke Tokyo sebagai tempat tujuan terakhir sebelum pulang ke Jakarta. Setelah sampai di Tokyo terasa sekali perbedaan cuaca yang waktu itu di Tokyo suhu sekitar 10-20˚C. Disitu saya merasa pantesan orang Jepang senang dengan musim semi, karena musim dingin-nya itu emang cukup sadis Bersyukur disambut dengan cuaca yang lebih hangat, keberuntungan juga didapat karena sakura sudah banyak yang full blooming di Tokyo ini.

Yiippiieee…!!!

Senangnya bisa lihat sakura dan ikutan hanami. Hanami ini tradisi Jepang untuk lihat bunga sakura yang merupakan lambang kebahagiaan datangnya musim semi. Di saat hanami biasanya orang Jepang sekalian piknik gelar tikar/alas di bawah pohon sakura di taman-taman yang ada di Jepang sambil makan-makan dan kumpul barengan saudara atau teman.

hanami-an

Berikut beberapa rekomendasi tempat di Tokyo untuk melihat sakura dan ikutan hanami:

  1. Ueno Park

Ueno ini taman yang paling ramai dikunjungi untuk lihat sakura dan untuk hanami. Dengan lebih dari 1,000 pohon sakura yang ada, kemanapun mata memandang akan dimanjakan dengan bunga sakura yang bermekaran, mulai dari yang warna pink sampai putih. Ueno Park bisa dicapai dengan naik kereta dan turun di JR Ueno Station, dan keluar di ‘Exit Park’. Untuk jam operasionalnya  mulai jam  05.00 – 23.00 dan harga tiket masuk : JPY 620.

crowded park

Waktu itu saya ke Ueno di hari terakhir. Malamnya akan pulang ke Jakarta dari Tokyo. Udah berasa sombong kek orang asli Jepang pas di Tokyo. Karena kemana-mana udah ‘ga pake jaket, suhu sudah lebih panas sekitar 18-22 ̊C.

2. Shinjuku Gyoen

Taman ini merupakan Taman Nasional yang terletak di kawasan Shinjuku dan merupakan salah satu spot hanami yang paling ramai. Taman-nya sendiri ini luas banget, sekitar 58,3ha dengan berbagai macam jenis sakura. Jam buka Shinjuku Gyoen ini dari jam 09.00 pagi dan tutup jam 16.00. Untuk kesini kamu bisa turun di JR Shinjuku Station  (keluar ke arah pintu selatan trus lanjut jalan kaki sekitar 10menit), Shinjuku-Gyoenmae station (pintu keluar 1 & jalan kaki sekitar 5menit), atau Shinjuku-Sanchome station (pintu keluar E5, sekitar 5menit jalan kaki). Rasanya pengen photo semua sudut saking banyaknya pohon sakura (norak mode on iniihh 🤣).

3. Chidorigafuchi

Chidorigafuchi terletak di arah barat laut dari Istana Kerajaan, tempat ini terkenal untuk melihat sakura yang tempatnya dikelilingi pemandangan yang indah. Salah satu cara paling asik untuk nikmatin sakura bisa dengan naik perahu, dengan biaya 800 yen (di luar musim sakura sekitar 600yen) dari jam 11.00 – 17.30 dengan libur hari Senin. Di sini juga pohon-pohon sakuranya dihias lampu dan lampu hias akan dinyalakan di malam hari sampai dengan jam 10.00 malam. Kamu bias naik kereta dan turun di Kudanshita Station kemudian lanjut jalan kaki sekitar 5 menit, sampai deh.

row .. row..row..your boat

4. Imperial Palace

Kompleks Kerajaan Kaisar Jepang! Emang sih, ‘ga bisa masuk ke dalam istananya dan cuma bisa masuk ke sebagian halaman istana termasuk East Garden, tapi ini aja tempatnya luaaassssss banget! Untuk ke Imperial Palace kamu bisa naik kereta dan turun di Tokyo Station, lanjut jalan kaki sekitar 10 menit. Biasanya ada penjaga yang akan mengarahkan pengunjung untuk kasih tahu harus jalan ke arah mana. Kebayang punya rumah halaman segede gini apa rasanya 🤔

salah satu sudut di halaman Imperial Palace
halaman Imperial Palace yang dibuka untuk umum

5. Hitachi Seaside Park

Terkenal dengan hamparan bunga Nemophilia ini dan awalnya ke sini memang mau lihat bunga Nemophilia. Nah ini tempatnya luas banget dan karena kurang perencanaan menjelajah di sini, jadinya ‘ga bisa nyampe ke tempat Nemophilia (😭 padahal warna bunga ini warna favorit 😭), jadi hanya lihat beberapa pohon sakura yang pas lagi mekar. Untuk ke tempat ini kamu bisa naik kereta JR Joban Line dan turun di Katsuta Station, kemudian lanjut dengan bus sekitar 20-30 menit. Jam buka mulai dari jam 07.00 – 17.00 (bulan Maret – Juli) dengan tiket masuk seharga 450yen.

6. Yoyogi Koen/Yoyogi Park

Salah satu taman kota terbesar di Tokyo, Yoyogi Park tidak memiliki pohon sakura sebanyak taman yang lain. Namun, Yoyogi Park tetap merupakan salah satu tempat favorit untuk melihat sakura dan hanami. Yoyogi Park dapat ditempuh dengan JR Yamanote Line dan turun di Harajuku Station kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 5menit. Tidak ada biaya masuk dan taman buka sepanjang waktu.

Sebenernya masih banyak spot untuk lihat sakura dan hanami-an di Tokyo ini, bisa dicari infonya kalua mau explore lebih banyak. Buat kamu yang mau liburan ke Jepang pas musim semi, book tiket pesawat dan akomodasi jauh-jauh hari yah. Karena peak season, jadi mungkin tiket akan jauh lebih mahal kalau belinya mepet.