Cruising di Halong Bay

posted in: Vietnam | 0

Punya cita-cita ke Raja Ampat tapi tiket mahal? Sama donk ๐Ÿ˜‚ akhirnya malahan terdampar ke Halong Bay deh ๐Ÿ˜…

Awalnya trip ke Vietnam ini ngebahas soal Sapa dengan Mba Ruli dan masuk ke salah satu bucket list trip kami beberapa tahun sebelumnya. Dan akhirnya pada suatu waktu kami memutuskan beli tiket ke Hanoiย  dengan harga ‘ga promo-promo amat ๐Ÿ˜…

Dari situ mulai ngeracunin mba-mba yang lain untuk ikutan, plus ketambahan anggota baru, si cantik Aimee. Jadilah rencana mau eksplore Vietnam bagian utara. Nah Mba Indah yang kepengen ke Halong Bay, jadi deh masuk ke itinerary juga. Siapa tahu abis ke Halong Bay bisa ke Raja Ampat . Aamiin ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜Š

ketambahan anggota baru ๐Ÿ˜Š

Sambil menyusun itinerary, mulai pilih-pilih untuk paket tour Halong Bay dari Jakarta beberapa bulan sebelumnya. Buat yang ingin ke Halong Bay, bisa juga pesan on the spot pada saat kedatangan melalui penginapan. Untuk paket Halong Bay ada yang one day tour saja, dari pagi hingga malam. Mengingat jarak yang lumayan jauh dari Hanoi, kami memutuskan untuk mengambil paket 2D/1N. Jadi bisa merasakan sensasi berlayar ala-ala cruise ๐Ÿ˜€

Awalnya mau pilih Alisa Cruise, tapi dapat info kalau untuk tanggal yang kita mau udah full book (tapi lega juga karena harganya lebih mahal ๐Ÿ˜‚). Akhirnya confirm dengan sister cruise nya, Alisa Boutique Cruise dengan harga yang masih lumayan mihil (menurut sayahhย ๐Ÿ˜‚). Tapi dibanding ke Raja Ampat dan mumpung udah nyampe Hanoi, jadilaah kita fix mau cruising ๐Ÿ˜€

cruise

Hari ke-2 di Hanoi, kami dijemput dari pihak Rosa Boutique di hotel tempat kami menginap. Jemput dan antar ke harbour sudah include dalam harga paket. Sekitar jam 08.30 kita berangkat dari hotel di down town Hanoi. Untuk sampai ke Halong Bay harbour perlu waktu sekitar 3,5 jam. Di perjalanan kita akan berhenti di tempat pemberhentian berupa tempat kerajinan.

Halong Harbour, gerimis mellow

Waktu mau mendekati Halong Bay, cuaca berubah jadi mendung. Bahkan, saat turun dari mobil jemputan mau naik ke boat sudah mulai gerimis. Untuk mencapai kapal pesiarnya, kita perlu naik perahu yang lebih kecil sebentar. Tidak sampai 5menit, akhirnya kita onboard n sailing! ๐Ÿ˜Š

let’s start cruising
langitnya gelap

Setelah pembagian kamar dan simpan barang-barang, kita kumpul di dining area untuk makan siang. Oh iya, servis dari Rosa Boutique OK banget sih (bukan promo yah, tapi emang pic-nya rajin banget follow up dan tanya-tanya kita maunya gimana). Waktu masih di Indonesia, kita ditanya ada preferensi atau pantangan tidak untuk makanan. Nah jadilah saya minta untuk halal food dan ambil amannya minta vegetarian & seafood only.

briefing dari guide

Habis makan siang dan istirahat sebentar kita berhenti di sebuah pulau tempat budidaya mutiara (Pearl Farm). Jadi kita bisa lihat proses mutiara dari awal hingga jadi perhiasan. Cakep-cakep banget yang udah jadi perhiasan, sayang sayah cuma bisa lihat-lihat ajaahh ๐Ÿ˜…

pearl farm
salah satu etalase pearl yang siap dibeli

Setelah dari tempat budi daya mutiara, dilanjutkan dengan aktivitas kayaking. Wuihhh saya yang tidak bisa renang antara pengen dan takut, akhirnya jadilah nekatz ikutan kayaking dengan Mba Ruli ๐Ÿ˜. Dan setelahnya pegel-pegel abis kayakingย ๐Ÿ˜‚. Selagi kami menikmati kayaking,mulai hujan lagi. Setelah selesai kita kembali ke cruise untuk istirahat dan persiapan makan malam.

Ikutan cruise ini benar-benar namanya liburan. Kita cuma leyeh-leyeh dan makan aja ๐Ÿ˜Š . Aimee pun makannya banyak (ngalahin tante-tantenya ๐Ÿ˜).Setelah makan malam, ada pilihan aktivitas diantaranya squid fishing dan karaoke. Saya milih squid fishing bersama dengan yang lain. Tapi jadinya tidak sabar, karena tidak dapat cumi juga. Sepertinya squidnya lagi pada bobo ujan-ujan gitu ๐Ÿ˜Š.

siap2 kolesterol ๐Ÿ˜
cantik yah. awal-awal sayang makannya, tapi ludess juga ๐Ÿ˜

Huhuhuhuuu sayangnya selama cruising cuacanya kalo tidak mendung, gerimis, atau ujan gede ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜จ jadi nya kami tidak bisa menikmati sunset dan sunrise ๐Ÿ˜ฐ. Tapi, tetap saja pemandangannya cantik dan bikin betah photo-photo.

dapat sunset-nya begini ajah
lepas jangkar untuk bermalam

Malam saat kapal lepas jangkar untuk berhenti, hujan turun sepanjang malam. Esok harinyapun tidak ada sunrise dan tidak bisa tai chi di geladak kapal karena masih gerimis. Untuk aktivitas hari ke-2 setelah sarapan kami akan mengunjungi Tung Sot Cave (Amazing Cave). Untuk ke sini kita akan pindah dengan menggunakan perahu kecil kembali. Nah waktu kita pindah perahu dan mulai jalan ke arah cave-nya, masih gerimis dan tangga ke atasnya itu sedikit licin, jadi harus ekstra hati-hati.

dermaga di Tung Sot Cave

Tung Sot Cave ini sangaatt luas. Di dalam gua-nya sendiri sudah tertata rapi, jadi kita hanya tinggal mengikuti jalur sepanjang gua. Jalur masuk dan keluar hanya satu arah, jadi kita tidak akan bertabrakan dengan orang dari arah yang berlawanan. Walaupun sedikit terasa dingin, tapi ternyata eksplore di dalam sini bikin keringetan juga. Setelah eksplore selama sejam, kita kembali ke cruise untuk siap-siap check out dan kembali ke harbour.

path walk-nya searah jadi ‘ga nabrak-nabrak
dari atas pintu keluar Tung Sot Cave

Nah dalam perjalanan kembali ke harbour, ada cooking class masak spring roll yang nantinya akan kita makan bareng-bareng hasilnya. Setelah check out kita makan siang sambil menuju kembali ke harbour. Waktu sampai di harbour cuacanya ceraaaaahh beda dengan kemarin waktu baru sampai ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚. Untuk trip Vietnam ini kami kurang beruntung, dapat cuacanya mellow bin sendu.

Aimee belajar bikin spring roll
sempat dapat langit biru

Dan kami kembali ke Hanoi setelah 3,5 jam. Dari Hanoi kami meneruskan perjalanan k Sapa. Untuk cerita di Sapa cek di sini yah๐Ÿ˜Šย https://travel4soul.id/2019/08/07/sensasi-empat-musim-dalam-satu-hari-di-sapa/

Annapurna Base Camp bagi pemula, bisa banget!

posted in: Nepal | 29
Annapurna Base Camp
Annapurna Base Camp

Buat kamu para pendaki gunung dan/atau pecinta alam, trekking atau mendaki gunung pasti  biasanya rutin dilakukan, ya tidak? Nah, gimana kalo trekking dilakukan oleh orang yang tidak biasa mendaki gunung dan anak kota kek saya (ngaku-ngaku sih ๐Ÿ˜‚)

Sebagai negara yang memiliki beberapa gunung tertinggi di dunia, diantaranya Mt. Everest (8.848mdpl, gunung tertinggi di dunia), Kangchenjunga (8.586 mdpl, ke-3 tertinggi di dunia), dan Annapurna (8.091 mdpl, ke-10 tertinggi di dunia), Nepal merupakan negara yang wajib didatangi pendaki gunung dan pecinta alam dari seluruh dunia paling ‘ga sekali seumur hidup. Begitu banyak aktivitas yang bisa dilakukan, mulai dari โ€˜day hiking tourโ€™, climbing yang membutuhkan dana sangat besar seperti Mt. Everest Climbing, atau trekking dengan begitu banyak rute dan tujuan.

Mulai dari rute trekking yang  โ€˜easyโ€™ seperti Poon Hill, dan type moderate dan yang sangat popular,  yaitu Annapurna Base Camp (ABC) Trek. Hingga yang lebih berat dan menantang  seperti Everest Base Camp Trek. Dan masih banyak rute trekking lainnya di seluruh penjuru Nepal (pengen rasanya pindah ke sana ajah ๐Ÿ˜…)

Buat kamu yang tidak biasa atau tidak punya pengalaman mendaki gunung tapi mau nyoba Annapurna Base Camp Trek, berikut beberapa info yang mungkin bisa berguna :

^ Sebelum trekking ^

1. Riset / survey

Kalau kamu mau pakai guide dan porter dari agency lokal, disarankan untuk survey dan cari rekomendasi dari pihak yang sudah pernah pakai jasa agency tersebut. Coba cari beberapa referensi, jadi kamu bisa bandingkan service, fasilitas & harga yang mereka tawarkan. Berdasarkan pengalaman, dapat guide dan porter yang cocok sangat berguna banget. Selain membantu kita selama  trekking, mereka juga bisa jadi teman ngobrol dan kasih motivasi ke kita. Setelah dapat rekomendasi yang cocok, kamu bisa langsung contact mereka dan berkomunikasi melalui email atau media lainnya.

Alternatif lainnya  kalau kamu sampai di Nepal, bisa tanya-tanya dan cari info ke guide atau porter langsung. Sewaktu saya trekking di jalur ini, saya banyak ketemu pendaki yang hanya ditemani porter merangkap guide dan banyak juga trekkers yang jalan sendiri tanpa porter/guide (banyaknya sih bule-bule).

2. Persiapan Perlengkapan & Fisik

Setelah mendapatkan local tour yang cocok, kamu bisa melakukan komunikasi melalui email mengenai semua hal seperti jadwal trekking, persiapan yang harus dilakukan, dan perlengkapan yang diperlukan. Mereka akan kasih jadwal mulai  hari pertama saat penjemputan sampai pengantaran pulang. Mereka juga akan kasih daftar peralatan yang diperlukan. Diantara perlengkapan yang diperlukan, agency akan info apa saja yang disediakan mereka dan apa yang harus kita bawa sendiri. Kalau kamu tidak mau repot bawa-bawa perlengkapan trekking dari rumah, banyak sih tempat penyewaan peralatan trekking di Thamel, Kathmandu. Kalau kamu  sewa, sediakan waktu lebih yah untuk hunting peralatan tadi waktu nyampe sana.

Untuk persiapan fisik disarankan latihan rutin seperti jogging, jalan pagi, sepedaan, atau renang mulai dari 3 bulan sebelumnya. Berdasarkan pengalaman, latihan naik turun tangga juga berguna banget. Karena rute ABC Trek ini banyak ketemu jalur berupa tangga dan kita akan trekking naik turun bukit dan gunung yang banyak (jadi tidak hanya satu gunung dengan rute mendaki terus seperti umumnya). Mayan bikin dengkul meronta sih ๐Ÿ˜…

3. Beli Asuransi Perjalanan

Ini termasuk wajib untuk beli asuransi perjalanan kalau mau trekking di Nepal. Dengan kondisi udara dingin dan ketinggian di atas 2ribuan meter, kadar oksigen akan semakin menipis. Jadi trekkers berpotensi terkena AMS (altitude mountain sickness). Asuransi berguna kalau kamu terkena AMS dan dalam keadaan darurat lainnya yang mengharuskan kamu dievakuasi dari ketinggian menggunakan helicopter. Denger-denger sih kalau tidak punya asuransi bayarnya bisa bikin jantungan ๐Ÿ˜…

Rute ABC Trek

Yang perlu disiapkan dan dibawa:

Selain peralatan dan perlengkapan trekking, berikut beberapa hal penting yang perlu disiapkan:

* Obat-obatan pribadi

Jangan lupa bawa obat-obat yang biasa kamu konsumsi seperti obat flu, batuk, diare, dan lainnya sesuai kebutuhan. Biasanya sih guide akan sedia p3k dan tea house (tea house ini semacam homestay) juga ada yang  jual obat-obatan. Tapi tidak begitu lengkap dan belum tentu cocok dengan kita. Lebih baik โ€˜sedia payung sebelum hujanโ€™ kan? ๐Ÿ˜Š

* Makanan & camilan

Untuk jaga-jaga kalau kamu tidak cocok dengan makanan di sana, kamu bisa bawa makanan kering seperti kering kentang, rendang, teri kacang, abon, dan pendamping seperti bon cabe, saus sambal/tomat. Cokelat dan biscuit juga perlu dibawa karena berguna banget kalau pas kamu trekking trus berasa lapar tapi belum waktunya makan siang. Cokelat, biskuit, dan makanan manis lainnya juga katanya merupakan obat untuk mencegah AMS selain banyak minum air putih. Sebenarnya kamu bisa beli tea house sepanjang jalur trekking. Tapi semakin tinggi letak tea house, harga-harga juga akan semakin mahal.

* Bottle refill / Termos

Baiknya banget nih kamu bawa botol minuman yang bisa refill jadi bisa mengurangi sampah plastik kalau pas beli minum. Boleh juga bawa termos air panas untuk nyimpan air minum tetap hangat di malam hari.

* Kamera, charger, dll

view yang ditawarkan di ABC Trek

Nah ini kan trekking naik turun gunung yang banyak banget,  jangan berasumsi kamu tidak bisa photo-photo yah ๐Ÿ˜ Kalau kamu trekking ke Annapurna Base Camp Trek, dijamin bakalan pengen berhenti sering-sering untuk photo-photo. Karena pemandangannya super wooowww dan bikin speechless (selain speechless kecapekan juga sih ๐Ÿ˜ฌ). Tapi jangan kelamaan juga photo-photonya yah karena harus mempertimbangkan waktu untuk sampai di tea house berikutnya biar tidak kemalaman.

Untuk charger kamera, power bank, dan handphone boleh bawa cadangan yah, karena di kamar tea house tidak ada colokan listrik. Jadi tempat charger numpang di common area/dining room gitu.

* Topi, kacamata, masker

Koq bawa topi? Kan di gunung udaranya dingin? Jangan salah, di gunung emang udaranya dingin. Tapi karena tempatnya tinggi, paparan sinar matahari juga lebih kerasa dibandingkan dengan dataran rendah. Masker sendiri bisa ngelindungi wajah dari angin.

^ Selama trekking ^

Beberapa hal yang mungkin kamu perlu tahu selama trekking : 

a. Penginapan & Makanan

contoh penginapan selama trekking

Buat yang tidak biasa mendaki gunung dengan banyak pertimbangan (seperti tidak mau tidur di tenda, males ribet masak, atau susah toilet, dll), tenang aajaaaaa, karena trekking di Nepal ini  nyaman banget koq. Sepanjang jalur trekking ada beberapa desa dan tempat pemberhentian yang terdiri dari berbagai macam tea house. Di malam hari, kita akan beristirahat di kamar dengan dipan+kasur. Untuk kamar mandi emang tidak ada di tiap kamar, jadi semacam shared bathroom gitu.

Untuk makan pun kamu tidak harus repot masak. Selama trekking kamu akan berhenti di tea house untuk makan siang dan makan malam di tea house tempat menginap. Semua makanan disediakan fresh dan hangat, karena baru dimasak saat kamu pesan.

Untuk info aja, harga penginapan, makanan, air panas untuk mandi, dan sewa untuk mencharge alat elektronik, semakin tinggi tempatnya akan semakin mahal. Ini dikarenakan tidak ada transportasi ke atas selain keledai atau kuda. Bahkan, mulai ketinggian tertentu di Annapurna Base Camp Trek ini hewan tidak boleh lewat karena mereka mengganggap area tersebut tempat suci. Jadi barang-barang hanya bisa dibawa oleh porter (kebayang kan bawa-bawa barang naik turun gunung ๐Ÿ˜“)

b. Kondisi tubuh

Buat yang trekking ke ABC (dan tempat ketinggian lainnya dengan ketinggian lebih dari 2ribuan meter), biasanya akan ngalamin kepala pusing, sakit kepala, lelah, susah tidur, bahkan mual dan muntah. Ini merupakan tanda-tanda ams dan biasa dirasakan di tempat dengan ketinggian beberapa ribu meter. Jadi, perhatikan banget tanda-tanda dan kondisi badan kamu yah. Kalau ngerasa pusing atau sakit kepala, info ke porter/guide kamu dan coba minum obat. Biasanya kalau ams-nya ringan akan hilang setelah mengkonsumsi obat. Kalau tidak hilang juga dan sampai mual dan muntah, biasanya porter/guide akan bawa kamu turun ke tempat yang lebih rendah  untuk menghindari serangan ams yang lebih parah.

Tips lainnya

Katanya nih bagi yang baru pertama datang ke suatu tempat dengan ketinggian diatas 2ribuan meter disarankan untuk tidak mandi & keramas di 2 hari pertama. Ini dipercaya untuk kasih waktu ke badan kita untuk proses aklimatisasi. Juga supaya badan kita tidak kaget oleh perubahan suhu yang bisa mengakibatkan sakit atau ams. Selain itu, kamu juga sangat disarankan untuk tidak melakukan aktivitas berat seperti lari-lari dan lompat-lompat.

Oh iya, perlu juga diperhatikan nih. Kalau di jalur trekking ketemu dengan porter atau hewan (kuda atau keledai) yang membawa barang, beri jalan dulu untuk mereka yah. Kalau papasan dengan hewan sebaiknya kamu menunggu di sisi yang dalam, bukan di pinggir lembah/jurang untuk menghindari kesenggol dan jatuh.

ABC Trek ini umumnya perlu waktu 10 hari mulai dari kedatangan di Kathmandu hingga kepulangan. Dan untuk waktu trek-nya sendiri sekitar 7 hari (berbeda-beda tergantung rute yang dijadwalkan/dibuat dari setiap agency). Ada lagi yang lebih panjang waktunya dengan rute yang lebih menantang. Untuk waktu trekkingnya sendiri biasanya dimulai jam 08.00 pagi setelah sarapan selama 5-8 jam setiap harinya, tergantung dari kecepatan kita sebagai pendaki.

Sooooo, buat kamu yang pengen nyoba Annapurna Base Camp Trek, go ahead. Banyak info, tips & trik lainnya di internet untuk bahan referensi kamu. Jadi jangan bosan riset, baca, dan tentu persiapkan semua dengan baik yah. It really is one of the experiences you need to do. Go to the mountain, feel the cold and fresh air!ย 

yuk, ikutin keseruan sewaktu trekking ke Annapurna Base Camp di ๐Ÿ‘‰ https://travel4soul.id/2019/08/07/lost-in-himalaya-part-1/ ๐Ÿ‘ˆ dan di ๐Ÿ‘‰ https://travel4soul.id/2019/08/08/lost-in-himalaya-part-2/ ๐Ÿ‘ˆ

Tips Mencegah Acute Mountain Sickness

posted in: China, Nepal, Random Stories | 1

Kamu akan pergi ke suatu tempat dengan ketinggian di atas 2.500m? Perhatikan gejala dan tips mencegah acute mountain sickness di sini.

Pernah dengar tentang Acute Mountain Sickness ini? Disebut juga dengan altitude sickness, penyakit ini biasanya dirasakan di tempat dengan ketinggian di atas 2.500m. Umumnya gejala yang dirasakan cepat lelah, pusing atau sakit kepala, sesak napas, tidak bisa tidur, dan mual.

Buat kamu yang ingin pergi ke suatu tempat dengan ketinggian di atas 2.500m seperti saat trekking ke Everest Base Camp. Dan sedikit ragu atau takut mengenai AMS, jangan khawatir. Infonya acute mountain sickness ini bisa dihindari koq.

Yuks simak beberapa tips untuk pencegahan acute mountain sickness:

acute mountain sickness bisa terjadi di ketinggian ini
Everest Base Camp

Aklimatisasi

Kalau kamu sedang menuju ke suatu tempat dan ada opsi untuk lewat jalan darat, usahakan untuk pilih lewat darat. Jika trekking dari ketinggian yang lebih rendah menuju tempat yang lebih tinggi, berjalanlah dengan kecepatan yang stabil. Usahakan untuk tidak jalan terburu-buru. Sehingga badan akan punya waktu untuk menyesuaikan diri dengan ketinggian selama perjalanan. Jadi tubuh tidak terlalu kaget dengan perbedaan ketinggian yang drastis.

Istirahat & jangan beraktivitas terlalu berat

Kalau sudah sampai di tempat yang dituju, sediakan waktu untuk beristirahat. Usahakan jangan terlalu banyak melakukan aktivitas berat seperti berlari, dan melompat. Sebagus apapun pemandangannya dan berbagai macam pose photo yang kamu pengen coba ๐Ÿ˜€ Dijamin, untuk napas aja susah kalau udah di tempat tinggi karena kadar oksigen yang tipis ๐Ÿ˜….

Perbanyak konsumsi cairan

Dipercaya, banyak minum air putih dapat membantu untuk menghindari AMS. Buat kamu yang tidak suka minum air putih, mungkin bisa konsumsi ginger tea atau teh plus madu. Hindari juga konsumsi alcohol dan merokok.

Konsumsi karbohidrat

Salah satu antisipasi acute mountain sickness bisa dengan menambah asupan karbohidrat. Da juga dengan mengurangi lemak & protein yang membutuhkan waktu lama untuk dicerna. Cokelat atau biscuit juga bisa kamu siapkan sebagai bekal perjalanan. Makanan ini bisa sebagai camilan dan penambah tenaga.

Konsumsi obat acute mountain sickness

Umumnya untuk gejala ringan altitude mountain sickness bisa diatasi dengan minum obat sakit kepala atau obat anti mual. Kamu juga bisa konsumsi obat seperti Diamox. Biasanya obat ini diminum satu atau dua hari sebelum kita sampai di tempat tujuan.

Diamox banyak dijual di apotek di tempat-tempat dengan ketinggian. Untuk di Indonesia sendiri, bisa cari obat yang mengandung acetazolamide. Untuk lebih amannya, kamu bisa konsultasi ke dokter untuk menanyakan obat yang perlu disiapkan & dibawa.

Sedia oxygen can

Untuk tips mencegah acute mountain sickness lainnya, kamu bisa sedia oxygen dalam bentuk kaleng. Oxygen can ini mudah di dapat di tempat-tempat dengan ketinggian di atas 2.500m. Jika kamu ikut travel/tour, biasanya ada beberapa yang sudah menyediakan ini bagi peserta.

Hindari mandi & cuci rambut di hari pertama

Jika kamu berkunjung ke dataran tinggi seperti Tibet, biasanya pihak agency akan menyarankan untuk tidak mandi dulu di hari pertama atau kedua untuk menghindari flu. Juga untuk memberikan waktu agar badan bisa beradaptasi dengan ketinggian baru. Jangan khawatir, karena daerah tinggi, kan dingin jadi tidak terlalu berkeringat yah ๐Ÿ˜Š.

Tips:

Kalau kamu merasakan gejala ringan, wajib untuk istirahat dan tunda ke tempat yang lebih tinggi sampai pulih. Atau kamu bisa mengkonsumsi obat. Jika setelah minum obat gejalanya tidak juga membaik, info ke teman. Atau cari bantuan ke klinik atau RS setempat. Jika semakin parah, kembali turun ke tempat yang lebih rendah.

Selama kamu punya informasi dan persiapan yang cukup, tidak usah khawatir untuk pergi ke dataran tinggi. Pelajari tentang gejala, tips, dan obat untuk menghindari acute mountain sickness. Perhatikan dengan baik kondisi badan selama perjalanan. Karena kamu yang bisa tahu & merasakan kondisi badan sendiri.

Jadi, sudah ada rencana pergi ke tempat dataran tinggi? Atau mau coba merasakan traveling ke tempat dengan ketinggian di atas 2.500m?

~ tulisan di atas berdasarkan pengalaman pribadi saya ke tempat-tempat dengan tinggi, info dari pihak terkait dan beberapa artikel di internet ~

Lost in Himalaya (part 2)

posted in: Nepal | 2

Setelah saakkseesss summit Annapurna Base Camp, pas trekking turun โ€˜ga terlalu heboh nih. Soalnya masih flu n batuk yang bikin kepala cenat cenut, Udah โ€˜ga sabar balik ke peradaban dunia ๐Ÿ˜‚ . Untuk cerita suka duka sebelumnya, ๐Ÿ‘‰ klik disini ๐Ÿ‘ˆ

Trekking Day-5

Dengan suhu yang super duper duingin, sholat pun keknya udah tayamum deh ini, lupa-lupa inget. Dan udah โ€˜ga berani sholat di lantai, jadi di atas kasur. Di tea house MBC ini sepi โ€˜ga terlalu banyak trekkers, entah kalau di tea house yang lain sekitaran sini.

golden sunrise at MBC

Besoknya bangun pagi sebelum sarapan lanjut yah photo-photonya sambil nunggu mataharinya muncul. Nah karena posisinya dikepung pegunungan, โ€˜ga bisa lihat full sunrise, tapi beruntung bisa lihat golden peak mountain pas pagi. Sukaakkkk banget disini karena disuguhi pemandangan Fish Tail yang megah ini ๐Ÿคฉ๐Ÿ˜๐Ÿคฉ   Rasanya bener-bener deket banget ama gunung ini. Info dari Divash, ada larangan untuk  climbing Fish Tail karena dianggap tempat suci bagi umat Hindu dan Budha di sana.

view sarapan

Setelah sarapan kami meneruskan trekking dengan jalur kebanyakan menurun. Yeayyy, bikin hepi walopun masih kerasa berat karena batuk dan pilek yang masih blom hilang. Sombongnya kami, selama trekking turun dan ketemu trekkers lain yang arah ke atas, kami mengucapkan โ€˜Namasteโ€™ dengan ceria (beda dengan waktu trekking naek, ngasih salam aja lemes beud ๐Ÿ˜‚). Dan kadang sempet saling melontarkan kalimat dengan mba Indah โ€˜selamat menikmati yah ke atasโ€™ sambil senyum senyum. Wkwkwk inget perjuangan sendiri yang super duper menyiksa ๐Ÿ˜„.

jangan salah, arah pulang pun masih ketemu beginian ๐Ÿ˜‚

Trekking turun hari pertama ini speed kami lumayan cepat.  Mulai trekking setelah sarapan jam 08.00, kami sampai di Himalaya jam 11.00 dan istirahat di Dovan sekitar jam 12 lewat. Setelah makan siang lanjut lagi dan sampai di tempat akhir untuk hari itu di Bamboo jam 14.30. Kami nginap di tempat yang sama, di Trekking Guest House. Mandi engga? Ya udah pasti engga laahh yaw.. hidung masih ngalir deras iniihhh

snow peaknya sudah mulai menghilang
udah balik ke ijo royo royo
santai sore di Bamboo

Trekking Day-6

Udah โ€˜ga sabar pengen cepet-cepet pulang, hari ini target kami akan nginap di Jhinu Danda (tapi beda tea house dengan tea house horror sebelumnya). Seperti biasa, kami mulai jam 08.00, sampai di Chommrong jam 12.15 untuk istirahat dan makan siang dan ketemu kembali dengan segala tangganya yang biadab itu ๐Ÿ˜…. Seumur hidup akan selalu inget Chomrong kalau ketemu tangga iniiihhh ๐Ÿ˜…. Pas arah ke Chommrong ini kami baru sadar, ternyata hebat juga bisa ngelewatin itu semua waktu arah naik. Pas di sini juga udah mulai dapat sinyal. Senangnnnnyaaaaa  hahahahaa, kembali ke peradaban.

tangga sekitar Chommrong

Abis makan siang kami lanjut untuk nginep di tea house malam itu di Jhinu Danda, sampai di tea house jam 14.30. Akhirnyaaaaa kami mandi di sini sodara-sodara (sabodo ama pilek dan batuk udah โ€˜ga betah juga sih). Malam terakhir trekking dan sudah โ€˜ga ada beban karna udah summit *sombongmodeon ๐Ÿ˜Ž

by Chommrong

Trekking Day-7

Wuaaahh, hari terakhir trekking. Mendaur ulang baju karna udah keabisan stok ๐Ÿ˜‚ Bangun pagi trus abis sholat Subuh udah โ€˜ga bisa tidur, akhirnya ngobrol-ngobrol dan ha-ha-hi-hi, โ€˜ga sadar kalo suara kami kenceng. Trus digedor deh ama kamar sebelah yang masih pada bobo ๐Ÿ˜‚ maafkeeuunn kami yaah

kostumnya itu2 ajah ๐Ÿ˜‚

Ternyata rute hari justru capek banget karena mataharinya berasa cetar. Padahal jalurnya mendatar. Nah sempat berhenti di Siwai ada yang nawarin untuk naik jeep sampe Nayapul. Dan kita โ€˜ga tahu kalau ternyata dari Siwai kita bakalan jalan ke Nayapul. Mikir-mikir kena naik jeep lumayan, akhirnya ok aja deh jalan ke Nayapul. โ€˜

‘Ga taunya, jalan ke Nayapul jaauuhh. Udah gitu jalanannya itu medan off road dan berdebu banget. Jadi setiap kali ada kendaraan lewat kita harus minggir dulu dan nutup hidung rapet-rapet. โ€˜ga kebayang deh kalo hujan kek apa lumpurnya ๐Ÿ˜”. Akhirnya sampe di mana gitu, guide kami nyetop jeep dan kami lanjut naik jeep. Duh lega, udah semaput rasanya pengen pingsan karena panas dan capek ๐Ÿ˜” .

bright and sunny day

Nah, mulai dari Siwai itu ransel kami dibawa pake bus untuk nanti diambil di Nayapul. Eh ternyata, waktu kita nyampe Nayapul untuk lapor di pos, ternyata bisnya udah jalan ke Pokhara. Ngeri-ngeri sedap juga tuh, karena naro go pro pinjeman di ransel gede itu takut ilang aja ntar harus ganti ๐Ÿ˜‚. Setelah laporan selesai trekking, kami lanjut ke Pokhara dengan mobil sedan dengan jalanan yang off road itu lagi dan akhirnya ketemu bus yang bawa ransel kami di Pokhara ๐Ÿ˜†

baru ketemu sign board di Nayapul pas arah pulang

Bahagianya ngelihat peradaban waktu sampai di Pokhara. Kami akan nginap semalam di Pokhara dan bisa bobo di kamar hotel. Senengnya lagi, dari kamar kami kelihatan Fish Tail dari kejauhan walopun โ€˜ga ada lift, harus naik turun (ketemu lagi ama tangga) ๐Ÿ˜…. 

Dan bahagianya dobel karena kami nemu restoran halal, bisa makan nasi enyak setelah makan mie korea berhari-hari. โ€˜ga kepikiran bawa sandal, begitu bersih-bersih di hotel kami nyari toko untuk beli sandal, udah bosen pake sepatu trekking yang berasa kek robot pakenya.

Good night universe, terima kasih Tuhan saya bisa merasakan pengalaman yang luar biasa ini ditemani travel sista yang asik dan juga Divash & Tika, guide dan porter kami yang luar biasa ๐Ÿ˜‡

good companions

Trekking Down:

D5 : MBC (3.700) – Deurali (3.200m) – Himalaya (2.873m) – Dovan (2.430m) – Bamboo (2.310m)

D6 : Bamboo (2.310m) – Chhomrong (2.170m) – Jhinu Danda (1.780m)

D7 : Jhinu Danda (1.780m) – Siwai (1.530m) – Nayapul (1.070m) – Pokhara

Lost in Himalaya (part 1)

posted in: Nepal | 3

Bukan mau ngikutin Brad Pritt kek di film 7years in Tibet sih ๐Ÿ˜… Dan bukan nyasar beneran juga. Pertama kalinya dalam hidup nih trekking di gunung selama 7hari. Iyes, 7hari ๐Ÿ˜†

Awalnya sih waktu itu ngobrol-ngobrol ama Mba Ruli soal pengen ke Nepal. Trus  ada open trip ke Nepal langsung โ€˜ga pake basa basi daftar. Entah kenapa bisa pengen ikutan ke Nepal. Abis itu ngeracunin mba-mba yang lain juga donk hehehee untuk ikutan ke Nepal.

Mulai dari situ makin rajin browsing, baca cerita-cerita di internet. Dan ketemu banyak postingan soal trekking Poon Hill di Nepal. Terus jadinya kepikiran mau nyoba trekking Poon Hill juga.

Jauh amat sih trekking aja ke Nepal, di Indonesia kan banyak gunung tuuhhh. Nah, karena bukan sembarang gunung, trekking di Nepal itu katanya disuguhi pemandangan snow peak mountain dari gugusan Himalaya. Jadi gimana โ€˜ga ngiler kan ๐Ÿ˜ฌ๐Ÿคค

Setelah makin mantab untuk trekking ke Poon Hill, mundur dari open trip karena mau trekking aja. Eeehh udahannya mba Ruli ituu ngeracunin, katanya udah jauh-jauh ke Nepal, kenapa โ€˜ga sekalian aja trekking ke Annapurna Base Camp (ABC). Twinkโ€ฆtwinkโ€ฆ ๐Ÿ˜๐Ÿค” Wuiiihhhh langsung dunk kepikiran, bener juga yah. Makin banyak baca soal trekking ke ABC dan akhirnya fix mutusin untuk nyoba ABC! (lemah iman sangat ini ๐Ÿ˜‚).

Ya udahlah, setelah persiapan hampir setahun (komunikasi dengan pihak agency, persiapan fisik, kehebohan beli perlengkapan), akhirnya berangkat juga ke Nepal berdua dengan Mba Indah. Loh, yang kasih ide kemana? Mba Ruli, yang ngeracunin ke Annapurna Base Camp โ€˜ga jadi ikutan karena mepet waktu dengan jadwal umroh. Waktu itu takut โ€˜ga bisa apply visa, ‘ga asikk ๐Ÿ˜… Jadilah duo  (yang ngakunya) anak kota berangkat ke Nepal.

Waktu perjalanan ke Kuala Lumpur untuk transit sempat ketemu dengan rombongan cowok-cowok yang bawa gembolan gede juga dan keknya mau ke Nepal juga. Akhirnya ketemu lagi pas kita trekking turun, mereka baru dalam perjalanan naik. Benar ternyata, orang Indonesia hehehee.

keren yah gaya anak gunung kitah ๐Ÿ˜Ž

Entah saking semangat atau gimana, pas mau berangkat itu udah ga bisa tidur. Dan di pesawat juga โ€˜ga bisa tidur. Akhirnya mendarat di Tribhuvan International Airport malam hari, begitu keluar โ€ฆ brrrโ€ฆ.. dingin sodara-sodara. Karena kami kesini di bulan November sudah masuk autumn. Setelah dijemput dari pihak agency, akhirnya bisa istirahat dan bisa mandi (maksain mandi dengan kedinginan) dan tidur selama beberapa jam (setelah 48jam melek!)

Trekking Day 1

Nah, besoknya kami terbang dari Kathmandu ke Pokhara dengan pesawat domestik. Berangkat berdua karena akan ketemu guide dan porter di Pokhara. Sampe di terminal domestik (rasanya sih kek di terminal bis), soalnya โ€˜ga gede tapi banyak banget yang mau trekking. Oh iya, waktu kita mau check in, sempet ada guide lokal cowok yang mau motong antrian kami. Kami galakin aja deh, dikiranya kita cewe-cewe bakalan ngalah kali yah ๐Ÿ˜. Ujung-ujungnya nanti ketemu guide ini beberapa kali sepanjang trekking ๐Ÿ˜….

unyuukk yah boarding pass nya ๐Ÿ˜

Waktu nunggu boarding, sempet ketemu keluarga dari Malaysia dengan dua anak remaja yang mau ke ABC juga. Eh, mereka katanya udah pernah nanjak ke Rinjani (sayah orang Indonesia aja bloom pernahhh-auto merasa tidak nasionalis ๐Ÿ˜…). Di perjalanan trekking nanti kami kami masih sempat ketemu beberapa kali, ternyata pas kita lagi arah turun mereka masih menuju ke Annapurna Base Camp.

Akhirnya waktu boarding tiba, kami naik shuttle untuk ke landasan tempat pesawatnya parkir. Udah masuk shuttle, semenit, dua menit kita nunggu โ€˜ga jalan-jalan. Banyak yang udah mulai tanya-tanya, โ€˜ga sabaran. Akhirnya setelah lebih dari setengah jam nunggu, jalan juga dan langsung masuk ke pesawat (kecil).

Perjalanan dari Kathmandu โ€“ Pokhara ini sendiri memakan waktu sekitar 25 menit (lebih lama nangkring di shuttle-nya ๐Ÿ˜‚). Baru juga terbang pas nengok ke luar jendela langsung heboh photo-photo ๐Ÿคญ. Udah keliatan snow peak mountainya. Duh, bener-bener norak deh ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜…

my first Himalayan Range ๐Ÿคฉ
๐Ÿ’™ at first sight ๐Ÿ’™

Akhirnya mendarat di Pokhara Airport, disambut udara yang sueejuukkk dan pas turun lihat sekeliling langsung speechless. Sambil kamera dan photo-photo dari semua sudut. Sampe ibu-ibu yang keluarga Malaysia itu nawarin untuk photo kami. Di saat orang lain udah jalan semua ke dalam bangunan terminal, kami masih syebok photo2 ๐Ÿ˜‚. Terminal kedatangannya bener-bener kecil hehee. Emang dasar turis, udah sampe dalem terminal kami masih lanjott photo-photo ๐Ÿ˜….

welcome to Pokhara ๐Ÿ’™

Setelah selesai (tapi โ€˜ga puas) photo-photo dan ambil ransel, kita jalan keluar untuk cari papan nama yang jemput. โ€˜ga keliatan dunk ada papan nama kita, mana blom punya nomer lokal saat itu (โ€˜ga kepikiran  ambil paket roaming dari Indonesia). Udah mau panik, akhirnya โ€˜ga lama ada cowok yang ngedeketin dan tanya nama, fuuihh.. Slamett ketemu ama guidenya, โ€˜ga jadi panik โ€˜ga bisa nemuin guide*takut ilang sih wkwkwk ๐Ÿ˜…

maafkeun kenorakan kami ๐Ÿ˜…

Dari airport, kami lanjut naik mobil sedan kecil sampai ke desa bernama Siwai. Katanya nih yang mau trekking sekitaran Annapurna Base Camp akan start dari Nayapul, tapi kami mulai dari Siwai (1.530mdpl). Entah karena delay atau gimana, tapi seneng juga sih. Liat bule-bule yang jalan dari Nayapul buat sayah koq perjuangan banget. Soalnya jalanannya berdebu dan โ€˜ga ada mulus-mulusnya, malahan sepajanjang perjalanan berasa lagi off road. Eh tapi travel mate sebelah  enak dia tidur terus walopun kelempar-lempar di kursi wkwkwk (peace mba ) ๐Ÿคญ

perjalanan ke Siwaiโ€ฆ yang lancip itu Macchapuchre aka Fish Tail

Berhenti di Nayapul untuk ganti mobil, dari sedan ke jeep dan lapor ke pos taman nasionalnya, akhirnya kita sampai di Siwai. Di sini kita makan siang dulu. Dan dimulailaaahhhh perjalanan historis trekking di Himalaya! Waktu di Kathmandu dan selama perjalanan di mobil & jeep, udara masih ok lah yah, adem-adem enak. Begitu mulai trekking, duh Gusti, panaassssnyoooo ๐ŸŒž๐ŸŒž๐ŸŒž. Blom jalan jauh aja udah mulai keringetan dan tahu donk apa yang bikin zonk . Cuma bawa kaos 3 bijihhhhh!  Karna sebelumnya waktu belum berangkat, mba yang ngomporin ke Annapurna Base Camp itu bilang โ€˜ga usah bawa banyak-banyak berdasarkan pengalaman desye ke Ladakh (yang ternyata doi naek kuda, โ€˜ga trekking โ€˜cem gini ๐Ÿ˜ฏ๐Ÿคฆโ€โ™€๏ธ). Jadilah kami sepanjang jalan menyebut nama mba ini terus ๐Ÿ˜… Untung doi bukan macam candy man yang tiba-tiba dateng pas disebut-sebut๐Ÿ˜… 

Ya udah, pasraah keringetan. Perjuangan trekking yang ternyata bikin keluar macam-macam kalimat kek โ€˜duuuuhhh  Tuhan, oh my god, dstโ€™. Di setengah hari pertama trekking ini, masih ngelewatin hutan yang ijo-ijo macam di Bromo and Dieng gitu. Ternyata trekking hari pertama pun udah bikin kita semaput sodara-sodara ๐Ÿ˜ฒ.

Awalnya hari pertama itu kami harus sampai di Chomrong. Nah karna entah emang targetnya ketinggian, atau karena kami mulai trekking terlambat. Tapi keknya emang kaminya yang lambat, jadinya kita meleset dari target. Guide kami, keknya rada khawatir karena takut kemaleman. Akhirnya setelah perjuangan jalan gelap-gelapan selama lebih kurang sejam, beruntung kami berhasil sampai di Tibet Tea House di Jhinu Danda (1.780)  sekitar jam 7 malem. Begitu sampe di depan tea house ada kursi kayu, langsung kami duduk terkapar dengan lega. Suer capeknya โ€˜ga ketulungan. Ampe diliatin ama trekkers lain yang lagi makan malem di dining area ๐Ÿ˜‚.

view masih di bawah
muka-muka blom kenalan ama tangga Chomrong ๐Ÿ˜…

Setelah dapat kamar, kami mandi pake aer panas (mana kamar mandinya horror โ€“ nutup mata deh liat kamar mandinya). Showernya โ€˜ga bisa ngalir airnya kalo diangkat tinggi-tinggi, jadi harus jongkok supaya airnya keluar. Fyi aja, trekking di Nepal ini air panas untuk mandi & charging itu bayar. Dan semakin tinggi tempat tea house, akan semakin mahal. Karena โ€˜ga ada alat transportasi sampe ke atas. Oh iya, buat pelajaran, jangan sok-sokan mandi dan keramas di hari pertama & kedua yah. Kalo โ€˜ga pengen pilek dan batuk kek kami di hari kesekian karena kami blom aklimatisasi. Akhirnya hari pertama trekking kami ditutup dengan bahagia bisa rebahan di kasur walopun kamarnya ya gitu deh ๐Ÿ˜…

Trekking Day 2

Alhamdulillah, bangun tidur dengan semangat baru (โ€˜ga mandi karena udah mandi malemnya ๐Ÿคญ). Pas di jalan lagi trekking, ngobrol-ngobrol ama guide and porter kami, katanya mereka dapat kamar yang spooky gitu, jadi pada โ€˜ga bisa tidur. Katanya ada yang โ€˜gangguinโ€™ mereka di kamar. Emang iya sih, waktu tiap kali harus ke kamar mandi pun saya harus sok-sokan berani, karena semua tea house kamar mandi di luar kamar, apalagi tea house ini rada-rada.. hahahaaโ€ฆ ternyata ada juga yang beginian sama ama di tempat kita ๐Ÿ˜ฌ.

tea house di Jhinu Danda

Untuk trekking hari ini dimulai jam 8 pagi setelah sarapan. Targetnya akan trekking selama 6-8 jam dengan entah kek gimana medan-nya. Oh iya, jangan ngebayangin trekking di sini itu cuma ada satu gunung dengan rute naik terus doank yah. Trekking di sini itu ternyata harus naik turun gunung dan bukit yang ratusaaannn jumlahnya*sumpah ini ‘ga lebay, karena emang banyak banget naik turun bukit dan gunung*.

sok geura itung ada berapa eta gunungnya ๐Ÿ˜…

Mulailah trekking hari ke-2 yang disambut dengan tangga-tangga biadad (helooww tangga). Outfit masih pake kaos doank plus celana, belum ngeluarin jaket. Setelah beberapa waktu mendaki bukit (orang Nepal bilang tempat di bawah 3000meter itu bukit ๐Ÿ˜ฑ), langsung mata mulai jelalatan macam liat cowoโ€™ cakep. Snow peak mountain nya udah ada yang nongol#semangat45jadinya ๐Ÿ’ช๐Ÿป๐Ÿ’ช๐Ÿป๐Ÿ’ช๐Ÿป

helllooo there

Selama trekking dijamin akan berhenti beberapa kali untuk ngambil napas (plus misah misuh apapun ituu ๐Ÿ˜‚). Sumpah suer trekking hari ke-2 ini beraattttzz banget. Rutenya banyak banget tangga, entah itu naik atau turun. Setiap kali ketemu tangga yang turun bahagia trus langsung sadar pulangnya akan jadi tanjakan (mau nangis bayanginnya juga๐Ÿ˜ง).

Ujian terberat di hari ke-2 ini waktu otw ke Chommrong. Tangga terparah menurut saya itu di sekitaran sini. Chommrong ini nama desa di rute trekking ke Annapurna Base Camp, berada di ketinggian (2.170mdpl). Dan desa ini bener-bener ada di atas bukit! Waktu menuju ke Chommrong sih bahagia karena banyak turunan, eehh udah lewatin desanya baru deh dapet tangga yang naik. Ini bener-bener kek di lagu โ€˜naik-naik ke puncak gunungโ€™.  Ya Tuhan, baru mulai mikir โ€˜ngapain gue jauh-jauh kesini nyari susah ajahh โ€˜. Pokoknya, tangganya ini bikin hati dan mulut misah misuh โ€˜ga jelas ๐Ÿ˜‚.  Untung aja view nya makin lama makin ciamik.

lihat kah atap yang biru-biru? nah itulah Chomrong๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ
lapor dulu di pos ACA *jangan fokes ke tangga yah ๐Ÿ˜

Selepas dari Chommrong kami menuju Sinuwa. Jalannya lumayan karena menurun terus (tapi โ€˜ga mau bayangin pulangnya). Waktu arah ke Sinuwa inilah menemukan suspension bridge yang panjaaaannnggg kek ular naga. Parno dunk, karena di bawahnya sungai n batu-batu. Setelah perjuangan nyebrang dengan was-was dan pegangan terus, nyampe juga di seberang. Kami makan siang di tea house di Sinuwa. Dapat info dari guide kami, kalau mulai dari Sinuwa sampai ke Annapurna Base Camp itu โ€˜ga boleh ada hewan transportasi dan hewan peliharaan seperti keledai, kuda, sapi, ayam, kambing karena udah masuk wilayah yang dianggap suci.

berasa banget goyang pas lagi jalan di sini ๐Ÿ˜…

Trekking hari ke-2 masih belum target, harusnya bermalam di Deurali. Waktu lagi istirahat di jalan, sempet ditunjukin arah ke Deurali, udah keliatan tuh atap tea housenya. Dengan pedenya saya ngomong โ€˜nyampelah’ padahal itu masih perlu waktu 3jam trekking! Ya lord! Dengan pertimbangan waktu supaya โ€˜ga kemaleman, guide memilih untuk menyudahi trekking dan kami bermalam di Trekking Guest House, di Bamboo (2.310m).  Waktu ketemu papan arah Bamboo, udah seneng kirain udah nyampe. Eh โ€˜ga taunya, masih harus nanjak lagi untuk sampe ke tea house..hmmphhhhโ€ฆlanjooottttt.

penunjuk arah “penipuuu”! masih 2hari lagi dari sini sampe ke ABC sih ๐Ÿ˜‚
ituuuu loohhh Deurali yang masih 3 jam lagi ๐Ÿคฃ

Enaknya trekking di Nepal itu, kita โ€˜ga usah nenda dan โ€˜ga usah masak makanan karena banyak tea house. Untuk makanan akan disiapkan sebelum jam makan jadi bener-bener masih โ€˜fresh from the ovenโ€™. Nanti kita akan ditanya mau makan apa dari daftar buku menu yang ada di tiap tea house. Nah, karena kami โ€˜ga cocok dengan makanan lokal, jadi berasa horror deh setiap kali disodorin buku menu ๐Ÿ˜ฏ. Buku menu ama menunya sih ‘ga salah, emang kami aja yang ‘ga cocok ama makanannya ๐Ÿ˜‚.

tea house di Bamboo
baru inget photo pas jalan pulang

Trus kita tidurnya juga di tempat tidur dengan kasur, dapat selimut pulaks. Biasanya sih habis makan malam udah โ€˜ga ngapa-ngapain. Kebanyakan akan langsung masuk kamar untuk istirahat atau ngobrol-ngobrol di dining area. Sepanjang trekking berhari-hari di sini, nemu TV cuma 1-2 di tea house (lupa di mana). Jadi keknya nih orang Nepal emang โ€˜ga TV minded and rokok minded. Ketemu orang ngerokok sebiji-dua biji doank. Padahal tempatnya dingin banget yah. Pokoknya sedikit banget, sukaakk jadi โ€˜ga terkontaminasi udaranya.

Trekking Day 3

Hari ini akhirnya full outfit karena udaranya udah berasa dingin. Long john atas bawah, jaket, sarung tangan. Baru juga keluar tea house untuk mulai trekking, udah dimulai donk dengan jalur yang bikin sesek napas.  Makin aja nambah nyesel and mikir ‘ngapain gue di sini’. Tapi dengan bertekad kuat mikir udah jauh-jauh dan maksain diri sedikit-sedikit, maju juga pelan-pelan. Apalagi pemandangannya udah semakin keewwwreeeennnn.  โ€˜Ga akan bela-belain kuat-kuatin kalo bukan karena pemandangan ini๐Ÿ’™ .

we are in Dovan

Hari ini kami ketemu dengan rombongan trekkers senior dari Perancis dan Italia. Ada satu opa, dia trekking cuma pake celana pendek dan kaos sementara kami bajunya paket komplit ๐Ÿคฆ๐Ÿผโ€. Oh iya, kami udah mulai kena flu dan batuk karena efek mandi di awal dan karena makanan yang kurang cocok di lidah, jadi โ€˜ga makan banyak. Bahagianya pas ketemu mie korea, jadi makannya selalu mesen mie korea ๐Ÿ˜…. Untung kebantu bawa saos sambal sachetan, walopun nyesel โ€˜ga bawa makanan kering dari rumah.

Kami berhenti makan siang di Himalaya sekitar jam 11.00. Dan akhirnya di hari ke-3 ini kami capai target. Kami sampai di Deurali (3.200m) sekitar jam 14.15 dan nginap di Dream Lodge. Walopun trekking hari ini singkat, tapi udah makin susah napas dan makin duiinggiiinnnn di atas sini. Rasanya di bawah nol suhunya, tapi โ€˜ga tau juga โ€˜ga dapat sinyal. View dari tea house di Deurali ini cakeebbb banget dan dapet sunset juga (walopun agak telat tahunya karena kita di kamar).

sunset at 3.200 mdpl

Trekking Day 4

Hari baru untuk trekking. Udah keabisan baju, untungnya mba Indah ada lebihan kaos, jadi deh tudey pake kaos pinjeman ๐Ÿ˜‚. Tidur kurang dari 6 jam, malemnya sinus kumat. Baru juga lepas dari tea house, udah disapa kembali dengan tangga dan tanjakan. Sumpah, trekking di tempat tinggi yang dingin nya ampun-ampunan, โ€˜ga bisa napas keabisan oksigen, ditambah pilek dan batuk, hidung โ€˜ga berhenti ngalir ๐Ÿคง . Mau angkat bokong aja berat bener rasanya. Sempet ngerasa mual dan pusing juga, keknya tanda-tanda ams, tapi โ€˜ga mau ngaku takut disuruh turun ๐Ÿ˜‚. Untung akhirnya hilang dan โ€˜ga ada tanda-tanda ams yang mengkhawatirkan. Untungnya punya travel mate yang enak bin sehati, jadi bisa saling semangatin, dan duo Divash dan Tika yang super duper baik dan banyak bantu support selama trekking.

Dengan mencoba menghipnotis diri sendiri karena harusnya target hari ini summit di Annapurna Base Camp, trekking hari ini masih disertai dengan segala macam misah misuh. Tapi ya Tuhan, pemandangannya bikin speechless ๐Ÿคฉ๐Ÿคฉ๐Ÿคฉ

can’t say a word when you have this in front of you
catch some breath

Seperti semua tea house yang ada di jalur ini, itu semua harus dicapai dengan nanjak, nanjak, dan nanjak. Setelah perjuangan setengah hidup, sekitar jam 11.00 kami sampai di Macchapucchre Base Camp (MBC – 3.700m). Kami berhenti untuk istirahat dan makan siang sebelum sampai ke tempat final, Annapurna Base Camp. Pas lagi arah ke MBC ketemu lagi si opa dan rombongan, mereka lagi sun bathing. Begitu nyampe tea house, lepas jaket, berjemur juga kita, sambil disuguhi pemandangan yang cetar, dan udara yang dingin. Tuhan emang luar biasa hebat, bisa bikin Himalayan Range ini. Oh iya sempet ketemu ama orang Indonesia juga, Mas Catur dari Malang, dia trekking sendirian dan lagi mau arah turun.

ketemu sodara sebangsa juga ๐Ÿ˜„

Waktu lagi makan dan ngobrol-ngobrol, Mba Indah nanya ke Divash, bisa โ€˜ga kalau kami lanjut trekking ke ABC, tapi nginepnya di MBC aja, โ€˜ga di ABC. Sekalian bisa taruh ransel di MBC, supaya Tika tidak harus bawa-bawa ransel karena kakinya lecet. Nah Tika ini ternyata pernah kerja di Malaysia, jadi dia bisa bahasa melayu. Itupun kita baru tahu setelah beberapa hari, jangan-jangan dia nguping kita ngomongin apaa deh ๐Ÿ˜ฌ 

arah ke MBC, Annapurna sudah mulai terlihat ๐Ÿคฉ

Emang sih, dinginya udah makin jadi-jadi nih di MBC. Trus di info bisa kek gitu dan setelah dapat kamar, taruh barang, kami lanjut ke ABC. Rute dari MBC ke ABC tidak se-ekstrim jalur-jalur sebelumnya. Mulai dari sini kebanyakan jalur mendatar walopun masih ada sedikit nanjak. Tapi yah dengan ketinggian kek gini, untuk napas aja bener-bener butuh perjuangan cyiinnโ€ฆ  

Barulah di jalur dari MBC ke Annapurna Base Camp ini saya berhenti menyesal ๐Ÿ˜…. Di jalur ini, kemanapun mata memandang terlihat gugusan pegunungan Himalaya. Beberapa diantaranya merupakan gunung tertinggi di dunia, diantaranya Annapurna I (8.091m), Annapurna II (7.937m), Annapurna III (7.555m) dan Machapuchare alias Fish Tail (6.993m). Tuhan Maha Besar, kita manusia emang โ€˜ga ada apa-apanya. Berasa banget kalau kita itu kecil banget di tempat ini.

Fish Tail from afar
seems so close, yet so far

Setelah dua jam trekking, akhirnya sampai juga di Annapurna Base Camp! Ya Tuhan, cuma bisa ngomong โ€˜ya Tuhanโ€™ bolak balik saking cakepnya liat pemandangan sekitar. Benar-benar โ€˜ga bisa dilukiskan dengan kata-kata untuk semua pemandangan yang ada. Setelah perjuangan trekking selama 4hari, โ€˜ga punya bayangan bakal gimana di jalan, banyak menyesali diri, banyak misah misuh saking ngerasa beratnya medan, โ€˜ga cocok ama makanannya, semua terbayar waktu menginjakkan kaki di sini ๐Ÿ˜‡.

A.B.C
we did it

Setelah photo-photo (ini wajib gilaakkssโ€ฆ ) kami lanjut ke tea house yang ada di ABC (dan seperti biasa masih harus nanjak dari papan tulisan ABC itu). Tuhan โ€˜ga berhenti kasih bonus bisa lihat Annapurna langsung depan mata, rasanya itu dengan menjulurkan tangan aja udah bisa kepegang. Tapi sebenarnya jaraknya masih jauh untuk ke sana.

no caption ๐Ÿคฉ
Annapurna

Setelah itu kami lanjut ke tea house untuk istirahat dan pas di dining area baru tahu kalau semua kamar udah full saat itu. Kami merasa lega karena memutuskan untuk bermalam di MBC. Kami tidak tinggal lama di ABC karena ngejar waktu kembali ke MBC. Kemudian kami lanjut turun kembali ke MBC  yang hanya perlu sekitar 1,5jam.

Waktu arah turun kami sempat photo-photo dan sempet ditanya, โ€˜mau ke sini lagi โ€˜gaโ€™. Kompak kami ngejawab, โ€˜engga, makasihโ€™.  Mikir udah cukuplah sekali seumur hidup aja ngerasain kesini, kecuali kalo ada yang bayarin pake heli langsung nyampe ๐Ÿคญ๐Ÿ˜„. (never say never, ternyata ini benar adanya ๐Ÿ˜…. Ternyata kami jadi kangen dan trekking lagi di Nepal beberapa tahun setelahnya ๐Ÿคญ. sedikit ceritanya silahkan lihat di: https://travel4soul.id/2019/11/01/finally-everest-base-camp/ )

bye…..

Dengan batuk yang makin jadi, akhirnya dibantuin nanya ke trekkers lain dan dapet pinjaman vick vaporub (ya ampun bahagia leher bisa anget sedikit). ‘Ga tahu suhu berapa malam itu, emang berasa dingin sangadddโ€ฆ Udah mulai hari ke 3 kami โ€˜ga mandi, hanya ganti baju dan bersih-bersih sedikit aja wkwwk. Malam ini bisa istirahat dengan tenang dan bahagia, karena misi udah tercapai. Alhamdulillah, terima kasih yah Allah udah bisa sampai ke sini dan sepanjang jalan cuaca juga cerah ‘ga ada mendung apalagi hujan ๐Ÿ˜‡. What an epic & unforgettable journey .   

tea house tempat nginep di MBC

Summary ABC Trekking :

Trekking Up:

D1 : Siwai (1.530m)  โ€“ Jhinu Danda (1.780m)  

D2 : Jhinu Danda (1.780m) โ€“ Chhomrong (2.170m) โ€“  Bamboo (2.310m) 

D3 : Bamboo (2.310m) โ€“ Dovan (2.430m)  – Himalaya (2.873m) โ€“ Deurali (3.200m)

D4 : Deurali (3.200m) โ€“ Macchapuchre Base Camp ( 3.700m) โ€“ Annapurna BC (4.130m) โ€“ MBC(3.700m)

cek di sini untuk cerita lanjutannya

Sensasi empat musim dalam satu hari di Sapa

posted in: Vietnam | 0

Emangnya bisa dan ada tempat seperti itu? Merasakan empat musim dalam satu hari? Jawabnya, ada lho! Cobain deh berkunjung ke Sapa, salah satu kota di Vietnam yang katanya cuaca di sana tidak menentu.

Vietnam sendiri merupakan negara dengan posisi geografis unik seperti Jepang, memanjang dari utara ke selatan. Secara garis besar, Vietnam dibagi menjadi tiga bagian, Vietnam bagian utara, tengah & selatan.

Untuk mengunjungi Vietnam dari ujung ke ujung perlu waktu cukup lama. Jadi untuk travelers yang berkunjung biasanya  sih pilih salah satu atau dua bagian saja. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Vietnam bagian utara.

Yang menjadi tujuan favorit travelers di Vietnam bagian utara adalah Hanoi, Halong Bay, dan Ninh Binh. Jika ada waktu, Sapa bisa menjadi tujuan kamu selain ke-3 tempat tadi. Sapa terletak di sebelah barat daya Vietnam di Provinsi Lao Cai, berjarak sekitar 350km dari Hanoi. Memerlukan waktu sekitar 5-8 jam perjalanan darat dari Hanoi untuk ke Sapa. Sapa merupakan salah satu bucket list saya dan Mba Ruli, dan kita sudah beberapa kali bahas mengenai trip ke sini. Alhamdulillah, kesampean juga bisa ke sini.

Trus, sensasi empat musimnya itu gimana ceritanya?

Sapa berada berada di bawah lereng Gunung Fansipan (3.134 mdpl), yang merupakan bagian dari gugusan Himalayan Range. Gunung Fansipan merupakan gunung tertinggi di Vietnam yang disebut juga dengan โ€˜The Roof of Indochina’. Kota dengan ketinggian 1.600 mdpl ini memiliki hawa sejuk dengan suhu rata-rata di bawah 20หš C (mirip-mirip Lembang dan Puncak kali yah). Karena  cuaca yang sering berubah-ubah, Sapa dikenal sebagai kota dengan empat musim dalam sehari, yaitu musim semi di pagi hari, musim panas di siang hari, musim gugur di sore hari, dan musim dingin di malam hari.

perubahan cuaca di Sapa hanya dalam hitungan detik

Untuk mencapai Sapa dari Hanoi cukup mudah dan tersedia banyak pilihan. Kamu bisa pilih menggunakan kereta, bus, atau tour dari Hanoi. Kalo kamu milih bus, tersedia banyak operator bus dengan rute Hanoi โ€“ Sapa dan sebaliknya. Rata-rata jadwal keberangkatan ada dua kali dalam sehari, di pagi dan malam hari. Untuk jenis bus-nya pun ada yang jenis seat dan sleeper bus.

Kalau mau menghemat budget, sleeper bus sangat disarankan karena bisa hemat akomodasi. Nah ini yang saya dan teman-teman pilih waktu ke Sapa. Tiket bisa dibeli di hotel atau agent di Hanoi, atau bisa pesan langsung via web operator bus. Dengan harga sekitar USD 14 (tergantung tipe seat dan operator bus). Pihak operator bus akan menjemput kita di hotel sekitar Old Quarter di Hanoi.

Selama perjalanan bus akan berhenti sekitar 1-2 kali untuk memberikan penumpang kesempatan ke toilet dan/atau makan di rest area. Rata-rata sih sleeper bus malam akan menempuh waktu sekitar 5-6 jam, berangkat sekitar pkl. 21.00 โ€“ 22.00 dan sampai di Sapa sekitar pkl. 03.00 โ€“ 04.00 dini hari. Bus akan berhenti di sekitar alun-alun Sapa dan penumpang dibolehkan untuk tetap tinggal di bus hingga pkl. 06.00.

view kalau lagi cerah, mirip Cinque Terre yah ๐Ÿ˜„

Saat perjalanan kami dari Hanoi menuju Sapa, hujan mengguyur dengan derasnya hampir sepanjang perjalanan. Padahal, saya sudah mencari-cari referensi waktu terbaik untuk berkunjung ke Sapa. Dan  banyak informasi yang bilang waktu terbaik untuk ke Sapa itu sekitar Maret-Mei dan September-November. Emang sih sempet dengar dan sempat mengobrol dengan salah satu mbak-mbak  operator bus, cuaca di Sapa itu emang tidak bisa diprediksi katanya.

Akhirnya kami sampai di Sapa sekitar jam 03.30, bus berhenti di seberang alun-alun Sapa. Keadaan di luar masih gerimis dan kabutnya cukup tebal. Karena saya sudah pesan hotel dan jarak hotel hanya sekitar 300meter, jadi kami memutuskan langsung menuju ke penginapan dengan berjalan kaki. Jarak pandang hanya sekitar 10meter dan udaranya dingin, seingat saya suhunya sekitar 13-14หš C. Kondisi jalanan agak sedikit mistis, jalan kaki pagi buta dengan gerimis dan kabut. Berasa di dunia lain sih jalan pagi-pagi buta gini ๐Ÿ˜…

Sapa Church & Alun-Alun Sapa di saat cerah

Setelah check in, kami sudah tidak bisa tidur juga karna udah hampir subuh. Jadinya kami cuma ngobrol sambil nunggu pagi dengan harap-harap cemas. Berharap banget hujan berhenti dan kami bisa lihat sunrise dari balkon kamar hotel. Tentu kami juga berharap cuaca cerah saat kami akan explore Sapa. Pagi menjelang, hujan yang sebentar deras sebentar hanya gerimis awet seharian itu ๐Ÿ˜” Pupus sudah lihat sunrise, cuma bisa lihat kabut dan awan putih sodara-sodara.

penampakan di waktu Subuh

Menjelang siang hujan juga belum berhenti. Akhirnya kami memutuskan untuk tetep keluar, yah masa udah jauh-jauh ke sini cuma di kamar doank ๐Ÿ˜‚. Di Sapa banyak toko peralatan outdoor karena salah satu aktivitas yang bisa dilakukan adalah trekking  (rencana lain yang gagal karna hujan terus). Sebelum mulai berkeliling, kami akhirnya beli jas hujan di toko outdoor yang ada di seberang hotel tempat kami menginap. Disini tersedia jaket, sepatu trekking, ransel, dll dengan merk ternama dan harga miring dibandingkan dengan harga di Jakarta. Dan saya nyesal karena waktu itu sudah kepengen beli jaket, tapi tidak jadi karena mikir hanya punya bagasi kabin. Padahal murah euyyy ๐Ÿ˜„

hujan & kabut hampir sepanjang hari
Sapa Station yang terletak di Sun Plaza – penampakan kala hujan
nah ini penampakan lagi cerah

Highlight saya di Sapa itu trekking dan ke Sun World Fansipan. Jadi untuk hari pertama ini kami langung ke Sun Plaza untuk naik ke Sun World Fansipan Legend, dan nyobain cable car ke Puncak Fansipan. Dulu, untuk bisa ke puncak Fansipan perlu trekking selama 2-4 hari tergantung rute yang diambil. Sejak tahun 2016 telah dibangun cable car sampai ke puncak Fansipan tanpa trekking. Biaya untuk cable car sebesar VND 700,000 (sekitar IDR 430,000) sudah termasuk cable car pp (syeddihhh pas nyampe sini bayar mihil cuma bisa liat kabut dan ujan ๐Ÿ˜ฐ).

menangis luar dan dalam ๐Ÿ˜‚

Butuh waktu sekitar 15menit untuk sampai ke stasiun atas. Untuk ke Fansipan Peak-nya bisa dilanjut jalan kaki naik tangga atau bisa naik funicular dengan tambahan biaya sebesar VND 100,000 atau sekitar IDR 61,000.

photo-photo jalan terus melupakan sakit karena view di luar ๐Ÿ˜…

Dengan cuaca yang masih tidak menentu, kami mencoba peruntungan kami. Namun sayang, kami memang tidak beruntung. Setelah sampai di station akhir, hujan masih turun ajah. Masih tidak mau menyerah, kami tetap nyoba untuk lanjut ke atas naik tangga ke temple yang terdekat. Walaupun akhirnya nyerah juga karena angin kencang, dinginnya ampuunnn banget ampe ke tulang ๐Ÿ˜….

.

jari beku untuk ngambil photo ajaahh

Akhirnya kami nunggu di station akhir berharap hujan berhenti. Untungnya disini ada beberapa restaurant, coffee shop, dan toko souvenir. Bisa jadi tempat untuk menunggu dan menghabiskan waktu. Setelah melihat tanda-tanda hujan tidak berhenti, kami sepakat untuk kembali ke bawah. Sampai di Sun Plaza pun ternyata masih hujan dan kami akhirnya kembali ke hotel dan memutuskan kunjungan ke Cat Cat Village kami tunda esok hari.

Pegunungan Sapa *awannya beneran jalan waktu itu*

Rencana awal kami akan melakukan trekking esok harinya tidak bisa terlaksana juga. Besoknya cuaca masih belum mendukung, gerimis masih turun dan berkabut. Kabutnya itu datang dan pergi dalam hitungan detik. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Cat Cat Village dengan pedoman dari petugas hotel. Dia memberi info dari hotel berjarak hanya sekitar 3km, walaupun ternyata jaraknya aslinya sekitar 5km ๐Ÿ˜‚.

Cat Cat Village merupakan suatu desa wisata dan merupakan replika desa suku asli Hโ€™Mong. Di jalan ke Cat Cat Village pemandangannya cukup mistis karena tebalnya kabut. Untunglah gerimisnya pelan-pelan mulai hilang jadi kami bisa photo-photo selama perjalanan ke Cat Cat Village.

start point area Cat Cat Village

Sekitar sejam kemudian, tibalah kami di gerbang Cat Cat Village. Untuk masuk ke tempat ini dikenakan biaya sebesar VND 25,000 (sekitar IDR 20,000). Di sini kita bisa melihat bentuk rumah asli suku Hโ€™Mong dan berbagai macam kerajinan tangan yang dihasilkan oleh suku ini. Di Cat Cat Village ini juga terdapat Cat Cat Waterfalls, tapi kami tidak sampai ketempat ini, hujannya turun lagi. Jadi kami putar balik arah ke pusat kota untuk makan siang.

view sepanjang jalan di Cat Cat Village
kerajinan tangan suku Hhamong

Setelah makan siang dan istirahat di hotel, kami lanjut mau ke Sapa Lake. Walaupun dengan sedikit galau karena kabut yang masih datang dan pergi. Sepanjang perjalanan ke Sapa Lake, kami disuguhi pemandangan bangunan-bangunan cantik khas Perancis (Vietnam ini negara bekas jajahan Perancis, jadi banyak bangunan bergaya Perancis). Sungguh beruntung, pas sampai di Sapa Lake, akhirnya cuacanya semakin cerah. Kamipun bisa melihat Danau Sapa yang mirip dengan Danau Hallstat di Austria (blom pernah ke sana sih, cuma liat dari internet ๐Ÿ˜).

Sapa Lake, udah mirip dengan Hallstatt blom ๐Ÿ˜„
Sapa Lake

Memang benar adanya. Kita bisa menikmati empat musim dalam satu hari di Sapa dan saya mengalami sendiri. Sedikit menyesal sih karena tidak berhasil sampai ke Fansipan Peak. Tapi, saya senang bisa menikmati suasana kota yang cantik dan sejuk. Tentu saja, berharap bisa kembali ke sini untuk bisa sampai ke Fansipan Peak tanpa hujan dan kabut ๐Ÿ˜‡.

Nepal Tanpa Trekking, Kemana Aja?

posted in: Nepal | 0

Ke Nepal harus trekking? Tidak koq, banyak hal yang bisa dilakukan di Nepal tanpa trekking!

Halo semua! Kalau boleh tahu, apakah Nepal menjadi salah satu negara dalam bucket list kalian? Atau sudah pernah ke sana? Yang sudah, pengen balik lagi tidak?

Buat yang belum pernah, mungkin bisa dijadikan salah satu tujuan trip nih. Dan kalian tahu tidak, kalau Nepal itu pernah jadi tempat syuting filmnya Dr. Strange, loh. Udah pernah nonton kan kalo filmnya? ๐Ÿ˜

Nah, apasih yang kalian ketahui tentang Nepal? Kalau Mt. Everest, pernah dengar kan? Nepal sangat terkenal dan menjadi magnet bagi para travelers dunia, khususnya para pendaki. Apalagi kalau bukan untuk menjejakkan kaki di gunung tertinggi di dunia, Mt. Everest. Seperti Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay, yang pertama kali summit di Everest.

Bendera Nepal yang unik

Sebagai negara yang dikelilingi Himalayan Range dan tempat beberapa gunung tertinggi di dunia berada (selain Everest, ada Kangchenjunga, Annapurna, Macchapuchre, dll), tentu saja mayoritas travelers umumnya datang untuk climbing dan trekking/hiking.

Tapi sebenarnya, banyak tempat yang bisa dikunjungi di Nepal, khususnya Kahtmandu Valley tanpa harus climbing ataupun trekking. Jika cuaca cerah, kita juga bisa lihat deretan pegunungan Himalaya dari Kathmandu.

Terus, jadinya Nepal tanpa trekking, kemana aja? Berikut beberapa tempat yang bisa dikunjungi di Kathmandu Valley, Nepal.

1. Thamel

Thamel merupakan lokasi yang sangat terkenal, strategis dan paling ramai di Kathmandu, ibu kota Nepal. Tempat ini merupakan ‘hub’ dimana para wisatawan dari seluruh dunia tinggal sebagai tujuan awal untuk memulai semua kegiatan di Nepal. Di sini, banyak ditemukan berbagai macam tipe akomodasi dari tipe dormitory hingga hotel bintang 5.

Sepanjang jalan di Thamel banyak sekali toko-toko. Mulai dari toko souvenir yang menjual gelang, gantungan kunci, kaos, pashmina yang terkenal dengan kualitasnya. Ada juga toko outdoor yang menyediakan jaket, sepatu, trekking pole, sleeping bag dan peralatan lainnya. Selain itu banyak terdapat toko buku, toko roti, dan lain-lain.

salah satu ‘marg’ di Thamel

Di Thamel juga banyak restoran dengan berbagai macam jenis makanan mulai dari Nepali, Asian, western, Indian, dan eastern food. Tidak ketinggalan restoran halal yang terdapat di beberapa tempat. Jadi buat muslim yang ke sini jangan khawatir, tidak susah koq untuk cari makanan halal.

Buat kalian yang suka belanja dan window shopping, menyusuri jalan-jalan di Thamel bisa jadi merupakan suatu kesenangan tersendiri. Dengan begitu banyak toko-toko di sepanjang jalan dan ramainya wisatawan dari berbagai negara, dijamin ‘ga akan ngerasa capek dan bosan. Suasana Thamel begitu hidup terutama malam hari.  Hati-hati kalap yah kalau belanja di sini ๐Ÿ™Š

Cerita lain tentang Thamel => https://www.instagram.com/p/B36apeAFF1X/

2. Kathmandu Durbar Square

Untuk kegiatan Nepal tanpa trekking lainnya, kamu bisa mengunjungi beberapa situs agama seperti Kahtmandu Durbar Square. Merupakan UNESCO World Heritage Site dan salah satu Durbar Square yang ada di Kathmandu Valley. Terletak di sekitar Thamel dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15-20 menit, tempat ini merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu & Budha. Kathmandu Durbar Square adalah kompleks yang terdiri dari istana, kuil, taman, dan tempat ibadah yang berdiri sejak abad ke-12.

Kathmandu Durbar Square di sore hari

Gempa besar yang melanda Nepal pada 25 April 2015 lalu menyebabkan banyak bangunan bersejarah di Nepal hancur. Sampai saat ini, bangunan tersebut masih banyak yang dalam proses restorasi dan rekonstruksi. Berkunjunglah di sore hari, kalian bisa menikmati keramaian dan bias menyatu dengan warga lokal di tempat ini.

penjual souvenir di sekitar Kathmandu Durbar Square

3. Garden of Dreams

Sebuah oase di tengah kota yang ramai, padat dan berdebu, Garden of Dreams merupakan taman yang bisa menjadi tempat istirahat dan melepas penat di tengah kota. Kalian bisa bersantai dan juga piknik untuk menikmati keindahan dan hijaunya pepohonan di sekeliling taman. Lokasi nya pun sangat dekat dari Thamel, sekitar  500m. Dengan suhu yang bersahabat di musim semi, menjadi tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu di Nepal tanpa trekking.

Garden of Dreams

4. Swayambunath Stupa

Kegiatan lainnya yang bisa dikunjungi di Nepal tanpa trekking adalah berkunjung ke Swayambunath Stupa, salah satu situs agama paling tua di Nepal. Tempat ini terletak sekitar 3km dari Thamel di atas perbukitan Kathmandu Valley. Dikenal juga dengan nama Monkey Temple, karena disini banyak sekali monyet-monyet yang berkeliaran.

Swayambhunath di sore hari

Di Swayambunath, terdapat satu stupa utama yang dikelilingi stupa-stupa kecil. Di setiap sisi stupa utama terdapat gambar sepasang mata. Sepasang mata ini merupakan symbol Kebijaksanaan dan Kasih Sayang. Karena letaknya yang terletak di atas bukit, waktu terbaik untuk berkunjung ke sini adalah di pagi dan sore. Jika kalian tidak bisa menyaksikan sunrise di pagi hari, kalian bisa menikmati sunset sebagai penutup hari.

menyiapkan butter lamp

cerita main ke Swayambunath : https://www.instagram.com/p/Bw34f3TBmdC/

5. Boudanath Stupa

Masih di sekitaran Kathmandu Valley, salah satu tempat yang bisa dikunjungi saat di Nepal tanpa trekking adalah Boudanath Stupa. Salah satu situs Tibetan Budha terbesar di Nepal. Sama dengan Swayambhu, di Boudanath Stupa juga terdapat satu stupa besar dengan gambar sepasang mata di ke-empat sisinya. Stupa utama setinggi 36 meter mendominasi area Boudhanath.

Boudanath

Boudanath dikelilingi oleh pertokoan yang terdiri dari berbagai macam jenis. Mulai dari souvenir, thaka painting, restaurant, dan lainnya. Pagi dan sore hari merupakan waktu terbaik untuk berkunjung ke sini. Kalian bisa berkeliling stupa sambi melihat-lihat toko-toko dan kehidupan warga di sekitar Boudanath. Kalian juga bisa menikmati sunset di sore hari atau menikmati Boudanath dan sekelilingnya dengan nuansa lampu-lampu di malam hari.

Boudanath saat hujan di sore hari

cerita tentang Boudanath : https://www.instagram.com/p/B4E_0VrlKh2/?igshid=uot4a5p3u5gp

6. Pasupatinath Temple

Sungai Bagmati yang membelah Pasupatinath Temple

Salah satu kompleks keagamaan terbesar di Asia yang didedikasikan untuk Dewa Shiva. Terletak di tepi Sungai Bagmati, tempat suci dan tempat beribadah umat Hindu. Selain menjadi tempat beribadah umat Hindu, terdapat juga beberapa kuil yang menjadi tempat ibadah umat Budha. Merupakan salah satu situs bersejarah UNESCO, Pasupatinath juga merupakan tempat pembakaran jenazah bagi umat Hindu. Di sini kita bisa melihat prosesi pembakaran jenazah dari awal hingga akhir.

iring-iringan jenazah yang akan dikremasi
proses pembakaran jenazah

Nah, ini enam tempat yang bisa dikunjungi untuk kegiatan di Nepal tanpa trekking. Untuk tempat-tempat lainnya silahkan cek di Liburan ke Nepal-Part 2

Mau tahu cerita lainnya seputaran Nepal? Mampir yah ke ๐Ÿ‘‰ย Cerita Soal Nepalย ๐Ÿ‘ˆ