In πŸ’™ with Gili Trawangan

posted in: Random Stories | 44
Saat island hopping

Seperti tahun-tahun sebelumnya dimana saya selalu mengambil cuti akhir tahun, dan memutuskan untuk memulai birthday trip sejak 2015. Untuk Desember 2017 pun sudah memutuskan untuk cuti dan mencari-cari info tujuan sejak awal tahun, sekitar Maret (biar dapat tiket promo 😁). Mencari beberapa opsi tujuan, akhirnya mendapatkan harga tiket pesawat promo dari maskapai negeri sendiri dengan tujuan Lombok.

Iseng pergi sendiri tapi tidak mau terlalu banyak orang juga, akhirnya menawarkan ke teman-teman yang lain dan akhirnya mendapatkan teman 3 orang dari Jakarta dan 1 teman yang saat itu kerja di Bali.

ladies vacation

Ini kedua kali saya ke Lombok, tapi sebelumnya belum pernah ke tiga gili. Rencana awal akan stay di Senggigi sampai dengan tanggal 01 Januari, kemudian akan menginap di Gili Trawangan. Tiba di Lombok disambut dengan hujan dan hanya bisa eksplor sedikit. Akhirnya kami hanya beach hopping satu hari saja ke Mandalika, Bukit Merese, dan Tj. Aan.

jadinya tahun baruan di Gili Trawangan

Nah, melihat keadaan di Senggigi yang cukup sepi, teman menyarankan untuk berangkat ke Gili Trawangan di tanggal 31 jadi bisa menghabiskan malam tahun baru di sana. Setelah diskusi dengan yang lain dan setuju, akhirnya diputuskan untuk check out 1hari lebih awal dan kami memesan boat dari Senggigi untuk ke Gili Trawangan di tgl 31 Des sore hari. Untuk hotel saya mencoba telfon ke hotel yang akan kami tempati untuk majukan tanggal, tapi ternyata tidak bisa. Jadi saya pesan melalui a**** dan dapat satu kamar.

kembang api

Nah, disinilah masalah muncul. Waktu kami tiba di Gili Trawangan, setelah mencari cukup lama akhirnya menemukan tempat yang sesuai dengan reservasi. Ternyata dari pihak hotel mereka tidak punya kamar tersedia dan tidak pernah bekerja sama dengan situs tersebut. Susah payah, kami minta bantuan dari pemuda setempat untuk mencarikan kamar untuk satu malam.Setelah cukup lama akhirnya kami mendapatkan kamar hanya sekedar untuk bisa beristirahat walaupun kami mendapat kamar tanpa AC. Fiuuhhh … padahal cuaca lagi panas-panasnya saat itu di Gili Trawangan.

sunrise di suatu pagi

Untungnya kami hanya satu malam menginap di tempat tersebut. Malam berikutnya pindah ke hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Dalam musim liburan seperti itu memang sangat disarankan untuk melakukan pemesanan tiket pesawat, hotel, transportasi lebih awal. Jika tidak, kemungkinan untuk mendapatkan agak sedikit susah dan mungkin tidak sesuai ekspektasi kita.

bright sky

Di hari pertama kami di Gili Trawangan, kami pergi snorkeling di sekitar tiga gili: Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Kami memesan kapal dan paket melalui pemuda yang membantu kami mendapatkan kamar hotel. Travelers bisa menemukan dengan mudah paket snorkeling untuk sekitar Gili Trawangan, Gili Air, dan Meno. Selain menyewa perahu sendiri, juga ada jadwal snorkeling untuk umum. Ada dua kali jadwal dalam satu hari, yaitu pkl. 09.00 dan pkl. 13.00.

Untuk hari-hari selebihnya di Gili Trawangan, tidak banyak kegiatan yang kami lakukan selain menikmati suasana dan pantai-pantai di seluruh Gili Trawangan. Di pagi hari, saya menunggu sunrise dan setelah sarapan biasanya berkeliling pulau dengan menyewa sepeda. Siang bersantai di pantai atau di hotel. Sore hari berganti-ganti tempat untuk menyaksikan sunset yang sangat luar biasa. Travelers bisa menyewa sepeda dari hotel tempat menginap. Banyak juga jasa sewa sepeda di seluruh penjuru pulau. Tarif umumnya sekitar 50-75rb/hari.

Gn. Agung terlihat di kejauhan
hampir setiap hari dapat sunset seperti ini

Nah, untuk travelers yang ingin ke tiga Gili, bisa melalui Lombok dan Bali. Jika pergi melalui Lombok, ada dua opsi untuk penyeberangan. Bisa dengan public boat dari Pelabuhan Bangsal dengan jarak tempuh sekitar 30-45 menit. Kalau menggunakan speed boat, umumnya keberangkatan dari Teluk Nara dengan waktu tempuh sekitar 20 menit . Jika dari Bali bisa melalui Pelabuhan Padang Bai atau Pelabuhan Tj. Benoa dengan waktu tempuh 3-4jam. Travelers juga bisa eksplor Gili Trawangan dan ke-2 gili lainnya dalam satu hari. Hanya saja, waktunya sempit dan pasti kurang puas untuk menikmati keindahan Gili Trawangan.

Benar-benar jatuh cinta dengan Gili Trawangan. Semua pantai menyajikan warna biru yang sangat indah dan juga sunset yang cantik hampir di semua tempat. Dengan gempa yang melanda Lombok beberapa waktu lalu, semoga keadaan di sana bisa pulih dan suatu saat bisa kembali ke Gili Trawangan.

Birthday trip rasa spiritual

posted in: Random Stories | 0

24 Des 2018 – 5 Januari 2019

salah satu sudut di Masjidil Haram

Beberapa bulan sebelum memutuskan untuk umrah, sedang merasa jenuh dengan pekerjaan yang teramat sangat. Bahkan sudah mulai bolak balik memikirkan untuk resign dari kerjaan. Waktu terus berlalu, keinginan untuk resign semakin kuat. Bersamaan dengan keinginan untuk resign, juga timbul perasaan ingin umrah yang cukup kuat. Sebelumnya belum terlalu kuat panggilannya πŸ˜…πŸ˜‚

look at the sky

Akhirnya memutuskan untuk umrah di akhir tahun, sekalian sebagai birthday trip ke-4. Niatnya juga mau berdoa memantapkan hati untuk resign dari kerjaan. Alhamdulillah, waktu diniatin untuk umrah, terima bonus tahunan dari kantor πŸ˜‡. Segera setelah Lebaran 2018, langsung cari-cari biro umrah, dan memutuskan untuk ikut group umrah backpacker. Tidak lupa ngajak travel sista kesayangan umrah bareng 😊

travel sista kesayangan

Awalnya sudah mulai beli tiket duluan, sementara travel sista belum pasti bisa ikutan atau tidak. Emang rejeki, ternyata bisa ikutan. Yeaayy…jadi deh ada temannya pergi umrah. Karena mikir udah sekalian pergi tiket mahal, jadi ambil umrah yang 12 hari. Berangkat tanggal 24 Desember dan pulang tanggal 5 Januari. Biar puas di tanah sucinya.

roof top, tempat favorit untuk sholat ☺️

Hari yang ditunggu pun tiba. Bersyukur, bisa kembali ke tanah suci untuk yang ke-2 kalinya setelah 5tahun berlalu. Dari awal memang niat untuk ibadah, yang biasanya kalau pergi dengan travel sista selalu ada aja bahan obrolan dan hahahihi, kali ini agak sedikit mengerem ngobrolnya πŸ˜€

Enaknya umrah di akhir tahun, karena sudah masuk musim dingin, jadi suhu udara pun lebih dingin. Waktu pertama ke sini di bulan September, panasnya warbyazahh. Perjalanan ke Jeddah dilanjutkan dengan bus menuju Madinah. Di perjalanan menuju Madinah pun sudah terasa suhu yang cukup dingin, sekitar 14. Beruntung di Madinah kami mendapatkan hotel yang dekat ke masjid, sekitar 350meter saja.

Kami berada di Madinah selama 5 hari. Setelahnya kami berangkat ke Mekkah. Di sini juga kami mendapatkan hotel yang dekat dengan Masjidil Haram, sekitar 500meter. Walaupun suhu di Mekkah lebih panas dibandingkan Madinah, namun masih lebih rendah dibandingkan suhu rata-rata di Mekkah.

Semoga bisa kembali pergi umrah plus Aqsa suatu saat nanti, dan jika diizinkan sebagai birthday trip juga πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

Nabawi yang sejuk

Potala Palace, Istana Musim Dingin Dalai Lama

posted in: China | 0
Potala Palace

Potala Palace, salah satu tempat wajib yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Tibet. Berada di Lhasa, ibu kota Tibet, monastery ini terletak di ketinggian 3.700m. Potala Palace mulai dibangun tahun 1645 oleh Dalai Lama ke-5. Terdiri dari 13 lantai dan lebih dari 1.000 kamar, tempat ini menjadi tempat kediaman utama Dalai Lama selama musim dingin sebelum diambil alih oleh pemerintah China (1649 sampai dengan 1959). Saat ini, Potala Palace dialih fungsikan menjadi museum sejak tahun 1959.

Pengunjung yang diizinkan mendatangi tempat ini dibatasi sebanyak 1.600 perhari dengan waktu berkunjung hanya enam jam perhari. Ada penambahan jumlah pengungjung di musim liburan sekitar bulan Juli hingga September. Untuk pembelian tiket dan berkunjung ke Potala Palace, pengunjung wajib didampingi oleh pemandu lokal. Untuk masuk ke dalam halaman istana, kita akan melalui pemeriksaan yang ketat, salah satunya pemeriksaan tiket masuk dan passport.

Potala Palace dilihat dari Potala Square

Karena berada di ketinggian 3.600m dan kita perlu menaiki tangga, disarankan untuk bergerak dan perlahan agar tidak mudah lelah karena tipisnya oksigen. Kita akan dibuat takjub dengan kemegahan bangunan istana dan seisi ruangan.

Potala Palace dibagi menjadi dua, Red Palace dan White Palace. Pengunjung tidak diperbolehkan mengabadikan photo setelah melewati White Palace. Dari salah satu teras Potala Palace, kita bisa melihat pemandangan kota Lhasa dari ketinggian dan juga ke arah Potala Square.

Dari lapangn terbuka di lantai 9 di depan White Palace, kita dapat melihat ke arah jendela kuning yang dulunya merupakan kamar Dalai Lama. Begitu masuk ke dalam White Palace, pengunjung dilarang untuk mengabdikan photo selama di dalam. Dalam Red Palace, kita akan melihat makam para Dalai Lama yang berupa pagoda.

Dahulu, terdapat ribuan biksu yang tinggal, belajar, dan hidup di Potala Palace. Sekarang ini kita masih dapat melihat biksu di sini, tapi jumlahnya tidak banyak. Selalu kagum dengan bangunan megah dan luas seperti ini. Tidak terbayang bagaimana pembuatannya ratusan tahun yang lalu.

Membeku di Natmso Lake

posted in: China | 0
Namtso Lake

Saat memutuskan untuk traveling ke Tibet, selain Lhasa, saya memutuskan untuk menambah tujuan ke Namtso Lake. Merupakan penyegaran setelah city tour Lhasa yang mengunjungi kuil dan biara sepanjang hari πŸ˜†.

Namtso Lake, salah satu danau pegunungan di Tibet yang terletak di perbatasan antara Damxung County dan Baingoin County. Terletak di ketinggian 4.718 meter dengan luas 1.920km2, Namtso merupakan salah satu danau suci dan merupakan danau air asin terbesar di Tibet.

Setelah beberapa hari eksplore Lhasa dengan monastery-nya, hari ini akan menuju Natmso Lake. Kami akan menginap di Namtso satu malam. Perjalanan dari Lhasa ke Namtso memakan waktu sekitar 7jam dengan berkendara. Sekitar jam 9.00 pagi kami mulai berangkat dari hotel di Lhasa bersama beberapa orang lainnya yang tergabung dalam satu group.

permukaan danau masih membeku

Seperti beberapa hari sebelumnya selama saya berada di Lhasa, saya terkena ams. Di perjalanan menuju Namtso pun saya sudah mulai merasakan efek dari ketinggian di atas 4.000m. Plus dengan suhu udara yang semakin dingin dan jaket yang kurang sesuai menyebabkan saya semakin sering merasakan sakit kepala.

black & white world

Untungnya saya mengambil posisi duduk di sebelah jendela, sehingga bisa menikmati pemandangan indah selama perjalanan. Sepanjang jalan kami disuguhi dataran luas dengan deretan pegunungan Himalaya di kejauhan. Dalam perjalanan kami berhenti beberapa kali untuk toilet break dan sempat berhenti di Nargen La Pass, ketinggian 5.190m.

Nargen La Pass

Kami tiba di Natmso sore hari sekitar pkl. 16.00. Cuaca sedikit mendung dan ternyata sebagian besar permukaan danau masih membeku. Setelah kami menaruh barang-barang di guest house, kami mulai menyusuri salah satu sisi danau yang ternyata sangaaatttt luas. Dengan dataran terbuka dan angin yang kencang, membuat kepala saya semakin bertambah.

Ingin berputar arah tapi merasa tanggung, saya terus memaksakan diri untuk berkeliling. Meskipun sakit kepala dan cukup melelahkan, namun saya tidak rela harus kembali ke guest house. Ternyata menyusuri satu arah saja butuh waktu berjam-jam. Namun saya tidak menyesal, karena di ujung terjauh danau, mulai terlihat permukaan danau yang esnya sudah mencair.

sudah ada yang mulai mencair

Awalnya kami ingin mendaki bukit yang ada di dekat penginapan kami. Namun setelah sepakat dengan angggota group lain, kami memutuskan untuk naik ke bukit esok pagi setelah star gazing dan sunrise.

Sepanjang sejarah dan sepanjang malam itu sakit kepala saya tidak juga hilang. Saya benar-benar terkena ams. Tabung oxygen yang diberikan kepada kami pun saya pakai hampir sepanjang malam. Tidak sabar rasanya ingin cepat-cepat pagi dan kembali ke Lhasa πŸ˜‚.

parkiran penginapan

Ternyata malam harinya hujan salju. Kami tidak beruntung, tidak bisa pergi untuk star gazing dan menikmati sunrise. Tentu saja, udara semakin dingin. Dengan keadaan penginapan yang apa adanya, rombongan kami yang awalnya ingin kembali ke Lhasa siang hari, memutuskan untuk meninggalkan Namtso lebih awal πŸ˜‚.

white world

Tentu saja, pemandangan pagi hari setelah turun salju sangat luar biasa. Hamparan permukaan putih sepanjang mata memandang sangat indah. Sayapun semakin jatuh cinta dengan Himalayan ranges. Sakit kepala dan kedinginan sempat terlupakan sebentar.

fresh snow in the morning

Setelah anggota rombongan sepakat untuk pulang lebih awal, kami meninggalkan penginapan sekitar pukul 10.00. Masuk mobil sudah seperti masuk kulkas πŸ₯ΆπŸ˜…. beku…Diperjalanan kami disuguhi dataran luas dengan permukaan salju tipis. Terasa sangat tidak nyata. Kami tiba kembali di Lhasa sore hari.

Walaupun tidak bisa menikmati Namtso Lake dengan permukaan danau birunya, merupakan kesempatan luar bisa bisa sampai di sini. Memang, Namtso akan terlihat indah di musim panas. Selain es di permukaan danau sudah mencair, mungkin bisa bertemu yak di sekitaran danau.

Rainy afternoon at Boudhanath

posted in: Nepal | 0

Boudanath merupakan salah satu situs Tibetan Budha di Nepal dan salah satu tempat wisata yang menarik. Masih terletak di Kathmandu Valley. Untuk menuju ke sini dari Thamel, perlu waktu sekitar 20-30 menit kalau tidak pake macet. Macet? kek di Jakarta donk..πŸ˜‚ iyaa, Kathmandu kalo sore itu suka macet, apalagi kalau abis ujan. Tapi ‘ga ada yang ngalahin macet Jakarta, sih 🀣

Boudha Stupa with cloudy background

Walau sudah dua kali ke Nepal sebelum ini, belum pernah mampir ke Boudanath sekalipun. Yang pertama setelah trekking ABC tidak punya cukup waktu. Saat itu masih jadi budak korporat yang fakir cuti 🀣. Yang kedua kalinya ke Nepal pas solo traveling, ‘ga ada temen share cost taxi πŸ˜‚ jadi cuma keluyuran sekitar Thamel aja πŸ™Š.

Nah, pas ke Nepal terakhir ini malahan dua kali datang ke Boudanath. Karena masih punya waktu lebih di Kathmandu, jadi berniat datang ke sini. Sebelumnya sempet komunikasi dengan Mba Diah yang punya restoran Indonesia di Thamel (tapi sekarang udah di Denpasar), nanya2 info tentang restoran Indonesia yang punya mba Tri. Akhirnya minta contact-nya dan komunikasi deh tuh dengan Mba Tri.

Awal mampir ke Boudanath karena sekalian mau ke tempat yang lain. Setelah beberapa kali wa-an, dapat info kalo Mba Tri tutup resto karena di Nepal lagi libur Daishan. Tapi diundang untuk ke rumahnya yang emang di area Boudanath. Ya udah deh tuh, sekalian aja pas ke Boudanath (tengah hari, lagi panas-panasnya di luar πŸ˜…),mampir deh ke rumah Mba Tri.

Eh, ternyata.. Mba Tri udah siapin makan siang. Khusus dimasakin tumis kangkung & sambal terasi 😍🀀 karena tahu kami baru selesai trekking & kangen makanan Indonesia. Tanpa malu2 ‘ga mau nolak, akhirnya ikutan makan siang πŸ˜… Rejeki cewe yang kecapekan abis trekking 10hari & kangen berat makanan rumah πŸ™Š.

rain…rain..

Nah, setelah ikutan makan siang hari itu, diundang lagi tuh besok lusanya, sehari sebelum saya dan teman saya pulang. Dijanjiin mau dimasakin sayur asam 🀀 dan Mba Tri mau ngundang juga beberapa orang mba2 lain.

seruu ketemu dengan mba2 yang tinggal di Nepal

Akhirnya lusanya kami datang lagi (semangat pulaks πŸ˜…πŸ™Š). Dan kenalan dengan mba2 lain yang asik2. Menunya hari ini lebih banyak (bahageaaa 😍), ada sayur asam, ikan asin, bakwan, plus sambal terasi lagi 🀀🀀🀀.

Seru ngobrol dengan mba2 itu sambil makan siang. Selagi kami di dalam rumah, sempat ngeh kalau di luar hujan. Setelah selesai ngobrol, sorenya sekitar jam 4 kita keluar. Hujan sudah berhenti, sempat keliling sebentar sekitaran Boudanath. ehh tapi sempet hujan lagi.

dgn Mba Tri & Mba Siti
after rain

Pas ujan selesai, kita jadinya ‘kora’ di sana. Suka dengan suasana mendung n hujan saat itu, dengan warna-warna cantik di sekitaran Boudhanath. Dan hujan yang sempat turun tidak menyurutkan semangat pengunjung yang datang.

colorful
travel sista kesayangan

Akhirnya setelah selesai keliling Boudanath, kami pamit pulang ke penginapan kami. Udah dikasih makan dua hari, eh pulang dibekelin camilan pop corn juga 😍. Senang banget kenal & ketemu dengan Mba Tri. Para backpacker Indonesia yang ke Nepal biasanya memang akan mampir ke tempat mba Diah dan Mba Tri. Terima kasih mba atas jamuannya. Semoga bisa ketemu lagi, di Nepal atau pas mba2nya Ada yang pulang ke Indonesia.

Finally, Everest Base Camp!

posted in: Nepal | 1

D8, 9 Oct β€˜19

Lobuche (4.940m) – Gorakshep (5.164m) – Everest Base Camp (5.364m)

Hari bersejarah, hari terpanjang, dan hari terlelah dalam misi ini!

Final day! Hari ke-7 trekking EBC ini. Untuk detail selama di jalan sih sebenernya udah agak β€˜blur dari ingatan’ soalnya waktu itu udah semakin susah napas, capek dan nambah dingin. Pagi itu, setelah sarapan, jam 07.45 kami mulai keluar guest house. Sempet photo2 dulu sekitaran Lobuche yang habis turun salju malamnya (wajib!). Akhirnya kami baru mulai trekking jam 09.00 😁.

Mulai trekking dengan ketinggian di atas 5.000meter, jangan tanya dinginnya kayak apa πŸ˜‚. Udah mulai makin susah napas juga. Jadi trekking jalannya santai pake banged. Untuk jalur dari Lobuche ke Gorakshep sendiri hanya sedikit jalur naik dan turunnya. Tapi tetep aja karna oksigen tipis, untuk tanjakan sekecil apapun tetep bikin napas ngos2an. Dan walopun jalannya kebanyakan mendatar, tempatnya itu terbuka sangaddd, anginnya itu kejam banget selama perjalanan!

otherworldly

Belum lagi semua batu-batu di segala penjuru rute ini. Jadi selama perjalanan harus selalu lihat ke bawah untuk menghindari salah langkah. Kombinasi angin, jalan berbatu, dan dingin, teuteup tidak menyurutkan niat untuk photo2. Lewat jalur ini itu serasa ada di dunia antah berantah. Tidak terlihat ada tanaman dan suara2 binatang, hanya suara angin & helicopter yang beberapa kali lewat. Sejauh mata memandang kita hanya bisa lihat hamparan batu, langit, awan, dan gunung2 dengan latar belakang hitam dan putih. Kalau jaraknya jauh dengan trekkers lain, itu rasanya kek sendirian banget di dunia ini.

negeri antah berantah

Setelah trekking kira-kira 2,5 jam, sampai juga kami di Gorakshep sekitar jam 11.40. Bahagianya tak terkira ngeliat deretan atap-atap guest house dari kejauhan. Walaupun masih lumayan juga untuk sampai di guest housenya dan butuh usaha keras.

Gorakshep sendiri merupakan desa terakhir sebelum sampai di EBC. Terus terang, rasanya udah β€˜ga mau lanjut begitu masuk & duduk anget2an di dining room penginapan di Gorakshep. Sempat ngobrol dengan trekkers lainnya, eh kebanyakan mereka hanya butuh waktu 1-1,5 jam sampai di sini 😳 entah terbuat dari apa dengkul mereka πŸ˜…

Gorakshep, the last village before EBC

Untunglah hanya tinggal trekking sedikit lagi (yang kenyataanya ini paling berat). Sedikit laginya itu ternyata saya butuh waktu sekitar 2jam lebih untuk sampai di EBC dari Gorakshep πŸ˜³πŸ™„. Setelah makan siang, kira2 jam 13.00, kami lanjutkan trekking ke EBC.

Di jalan ke EBC itu udah β€˜ga focus dan β€˜ga inget lagi gimana selama perjalanan. Rasanya sudah pengen rebahan aja. Kepala harus menunduk sepanjang jalan untuk milih batu sebagai pijakan kaki, mata meleng sedikit dijamin bakalan keseleo. Alhasil, leher kram dan pegel karna kebanyakan nunduk. Plus dengan jalur yang masih naik dan turun dan β€˜ga ketinggalan, berbatu!

batu, batu, n batu

Setelah setiap saat nyoba melihat titik akhir trekking, ketemu beberapa trekker yang sudah mau kembali ke penginapan. Mereka kasih info kalau sudah dekat & kasih semangat jugaπŸ˜„. Akhirnya, sampai juga di EBC sekitar jam 3 lewat. Spot batu dengan tulisan keramat itu penuh dengan trekkers yang antri photo macam antri sembako mau Lebaran. Iya, cuma spot batu dengan tulisan Everest Base Camp πŸ˜πŸ˜„.

aku tuh sedih photonya kepotong πŸ˜‚

Fiuh….akhirnya sampai juga di tempat ‘historic’, tempat yang menjadi tujuan banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Begitu sampai langsung mencari batu untuk bisa duduk dan melemaskan kaki. Perjuangan hari ini sungguh warbyazaahhh πŸ˜‚

we.made.it

Di EBC sendiri kami tidak lama karena sudah semakin sore dan semakin dingin. Saya juga sudah tidak sanggup untuk jalan ke arah Khumbu Glacier, padahal tinggal sedikit lagi. Dan sedikit nyesel β€˜ga kesana pas udah pulang (emang yah nyesel itu selalu belakangan πŸ˜…). Untuk trekking kembali ke Gorakshep butuh sekitar 2 jam lagi. Mendekati Gorakshep udah mulai gelap, udah lemas mau pingsan, bahkan trekking pole pun mulai diseret. Rasanya pengen ngesot aja ampe guest house πŸ₯΄.

Khumbu Glacier

Nyampe guest house masuk dining room biar anget. Sekalian makan malam, baru deh akhirnya masuk kamar, walopun β€˜ga rela keluar dari dining room yang anget itu. Begitu masuk kamar udah langsung membeku dan harus bergerak ala2 kukang πŸ₯ΆπŸ₯ΆπŸ₯Ά.

Ya Allah, akhirnya setelah perjuangan delapan hari bisa sampai EBC juga. Yang awalnya tidak pernah kepikiran dan masuk dalam bucket list. Juga sedikit impulsive untuk memutuskan datang ke sini dalam waktu kurang dari satu tahun.

Ditambah perjuangan yang rupa-rupa πŸ˜†. Dimulai dari perjalanan menuju bandara Ramechhap yang butuh waktu 7jam dari Kathmandu, pesawat menuju Lukla yang delay selama sehari. Ditambah juga menginap di guest house di Mantali yang apa adanya. Dan ‘ga ketinggalan, ngerasain penerbangan selama 20menit terlama dan paling menegangkan sepanjang hidup. Akhirnya bisa mendarat dengan selamat di Tenzing Hilarry Airport πŸ˜‡.

Trus lanjut lagi trekking dengan waktu tempuh dari pagi hingga siang atau sore, entah berapa ratus km yang kami lewati. Juga yg lewatin entah berapa ribu rute naik, turun, mendatar, tangga, dan suspensions bridges yang menyeramkan itu πŸ˜‚πŸ˜†. Plus tipisnya oksigen dan udara dingin buat orang tropis macam saya. Walopun jalan pulang masih panjang, tapi setidaknya, sudah kesampean menjejakkan kaki di EBC, kaki atap dunia. Udah mirip-mirip dikitlah ama para climbers Mt. Everest itu πŸ™Š .

Khumbu Glacier – EBC

Namun Tuhan memang maha adil, sungguh luar biasa ciptaan-Nya. Dengan semua perjuangan dan perjalanan yang cukup membuat menderita, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa πŸ˜πŸ’™. Semua view yang didapat selama perjalanan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tentunya, jadi pengalaman sekali dalam seumur hidup. Dan saya tidak menyesal sudah memutuskan ke tempat ini.

EBC photo spot yang sebelumnya


~ EBC: Mission (I’m) Possible ~
#travel4soul.id made to EBC#

Nothing but rocks!

posted in: Nepal | 0

Masih tentang cerita trekking EBC kemarin

Hampir sama dengan rute sehari sebelumnya (Dingboche – Lobuche), jalur trekking hari ini juga lebih banyak dataran terbuka. Karena tidak ada halangan jadi bebas aja tuh anginnya menerpa ke badan, apalagi ke muka. Otomatis, angin yang kenceng bikin kepala pening plus hidung mengalir. Dan disambutlah kami dengan trek yang jalurnya batu, batu lagi, eh, koq batu semua.

akhirnya Gorakshep sudah terlihat

Trek dari Lobuche ke Gorakshep dan Gorakshep ke EBC itu benar-benar menguji kakiπŸ˜…

batu

Setelah trek datar dengan angin yg super duper kenceng bikin hidung mengalir & kepala pening, dimulailah trek yang isinya hanya batu, batu, n batu 😐

batu lagi πŸ˜…

Benar-benar butuh konsentrasi untuk milih batu sebagai pijakan kaki, mata meleng sedikit bisa keseleo kaki πŸ˜• Plus karena harus fokus melihat ke bawah, leher bawaannya jadi pegal dan bikin pusing.

Tapi ada benarnya juga kata pepatah, ‘hasil tdk akan mengkhianati usaha’

Walaupun treknya bikin capek, view di setiap tujuan & selama perjalanan selalu super wowπŸ’™πŸ’™πŸ’™

pusing dengan batu, istirahat dulu😊


~ EBC: Mission (I’m) Possible ~
#travel4soul.id made to EBC#

Perjuangan Tiba di Lukla (Tenzing Hillary Airport)

posted in: Nepal | 0
Welcome to Tenzing Hillary Airport, Lukla

Masih terngiang ucapan diri sendiri dan travel mate, Mba Indah, waktu trekking ke Annapurna Base Camp (ABC) beberapa waktu silam. Waktu ditanya guide kami, mau balik lagi ke sini tidak? Kompak kami menjawab ‘engga, makasih’.

Entahlah, apakah kami memang ketulah karena ngomong itu, atau memang kami beneran jatuh cinta ama Nepal, khususnya Himalaya. Waktu berlalu dari trekking saat itu, ‘ga pernah sekalipun kami membahas mau pergi trekking lagi.

Hingga suatu waktu di awal tahun 2019, saya yang mendadak ingin menjejakkan kaki ke EBC dengan pertimbangan global warming. Takut keburu meleleh puncak-puncak Himalaya-nya, akhirnya ngajakin M Indah pergi dan gayung bersambut πŸ˜†. Jadilah kami beli tiket ke Nepal walaupun tidak dapat harga promo πŸ˜‚.

Tanpa ada persiapan khusus (bukan sombong sodara2 πŸ˜†) dan hanya berkomunikasi beberapa kali dengan agency di sana, akhirnya berangkatlah kami tgl 2 Oktober 2019. Mengalami delay dari mulai JKT_KUL dan KUL_KTM, kami baru mendarat di Tribhuvan International Airport jam 10 malam. Antrian untuk VOA yang panjang dan pengambilan bagasi, kami akhirnya keluar dari bandara beberapa waktu setelah tengah malam dan sudah masuk ke tanggal 3 Oktober.

Awalnya mengira akan menginap di Kirtipur. Namun, dalam perjalanan ke hotel, diinfo oleh agency karena berangkat ke Lukla tidak melalui Tribhuvan, jadi kami akan menginap di Thamel. Dan kami harus berangkat jam 04.30 untuk ke bandara Ramechhap yang katanya menghabiskan waktu 3,5jam. Kenyataaannya perjalanan memakan waktu lebih dari 6jam!

Sebelumnya memang sudah baca info2 dari backpacker lain kalau bandara Tribhuvan sedang dalam renovasi sejak awal tahun. Sehingga penerbangan ke Lukla dialihkan ke Ramechhap. Awalnya mengira keberangkatan di Oktober ini akan bisa dari Tribhuvan, ternyata tidak sodara-sodara.

Jadilah setelah sampai hotel di Thamel, kami tidak bisa langsung tidur karena harus packing apa saja yang dibawa di ransel untuk trekking selama 10-12hari. Baru di dalam perjalanan menuju Ramechhap kami bisa tidur di dalam van.

Ramechhap Airport

Setibanya kami di Airport Ramechhap, guide memberitahu kami kalau pagi ini sudah ada beberapa penerbangan yang berangkat ke Lukla. Infonya, sudah beberapa hari sebelumnya tidak ada penerbangan. Kami lihat memang sudah ramai sekali dengan para trekkers di sana yang menunggu waktu penerbangan mereka. Kami merasa optimis mendengar info tersebut. Di saat kami sedang menunggu, satu flight yang terakhir terbang ternyata kembali dengan membawa penumpang yang seharusnya tiba di Lukla. Ternyata oh ternyata, pesawat yang terakhir terbang tersebut tidak dapat mendarat di Lukla, sehingga harus kembali ke Ramechhap 😳

persiapan menuju Lukla

Seketika kami sedikit lemas dan cemas. Sempat dengar juga dari obrolan trekkers lainnya ada yang sudah ketahan 2hari belum bisa berangkat ke Lukla 😳. Berusaha untuk tetap optimis, kami masih setia menunggu kabar. Sambil menunggu, kami makan siang di sekitaran airport. Setelahnya kami mendapat kepastian kalau penerbangan ke Lukla ditiadakan hari itu 😐. Tidak kebayang kalau harus kembali ke Kathmandu, kami akhirnya menginap di sebuah guest house Mantali. Mungkin ada hikmahnya penerbangan ditunda, karena bisa istirahat setelah kurang tidur dari malam sebelumnya. Jadi bisa mulai trekking dengan cukup istirahat πŸ˜‡.

Welcome
the most dangerous airport in the world

Esoknya, tanggal 4 Oktober kami berangkat pagi-pagi menuju ke Ramechhap agar bisa check in ulang dan mendapatkan boarding pass kembali. Setelah proses check in, pemeriksaaan tas, boarding, dan menunggu, Alhamdulillah, akhirnya kami bisa berangkat dengan penerbangan yang ke sekian. Dan mendarat dengan selamat di Lukla πŸ˜‡. EBC, here we come ……

Lucky to be here ☺️

~ EBC: Mission (I’m) Possible ~
#travel4soul.id made to EBC#

One cold serene morning at Lobuche

posted in: Nepal | 0

D-8, 09.10.19
07.00 – 07.45

Bangun, sholat subuh kilat (udah tayamum dari ketinggian entah berapaπŸ˜‚). Setelah sholat β€˜ga bisa tidur lagi, iseng Β buka gorden jendela, kaca jendela berembun. Abis ngelap kacanya, terpampang hamparan putih di luar. Saljuuuuuuu β„οΈβ„οΈβ„οΈπŸ’™πŸ’™πŸ’™ (selalu norak kalo liat salju πŸ˜‚). Jadi sepertinya semalam habis hujan salju. Terlihat semua tempat di sekeliling guest house ketutup salju. Langsung pake baju perang n ngacir keluar untuk photo-photo πŸ˜†.

Welcome to Lobuche

Ya Tuhan, benar2 speechles ampe di luar. Dingin udah pasti, tapi rasanya itu hening ‘n tentram banget liat seluruh penjuru Lobuche yang tertutup salju. Sambil photo2, hanya bisa meresapi keheningan dan pemandangan sekeliling guest house. Benar-benar Tuhan luar biasa menciptakan alam sebegini indahnya.

So serene, isn’t it?

Pas di luar msh sepi, hanya beberapa orang saja yang terlihat ada di luar pagi ini. Plus acara diikutin pulaks ama doggie, udh diusir2 ga mau pergi2.. Akhirnya teriak deh minta tolong k salah satu trekker yg lg photo2 jgπŸ˜‚.

No caption

Tidak kuat lama2 di luar karna dinginnya yang amit2 dan susah napas. Padahal di luar hanya setengah jam tapi udah berasa beku. Masuk lagi untuk sarapan dan siap2 untuk trekking hari ini.

Surrounded by snow


~ EBC: Mission (I’m) Possible ~
#travel4soul.id made to EBC#