Finally, Everest Base Camp!

posted in: Nepal | 1

D8, 9 Oct ‘19

Lobuche (4.940m) – Gorakshep (5.164m) – Everest Base Camp (5.364m)

Hari bersejarah, hari terpanjang, dan hari terlelah dalam misi ini!

Final day! Hari ke-7 trekking EBC ini. Untuk detail selama di jalan sih sebenernya udah agak ‘blur dari ingatan’ soalnya waktu itu udah semakin susah napas, capek dan nambah dingin. Pagi itu, setelah sarapan, jam 07.45 kami mulai keluar guest house. Sempet photo2 dulu sekitaran Lobuche yang habis turun salju malamnya (wajib!). Akhirnya kami baru mulai trekking jam 09.00 😁.

Mulai trekking dengan ketinggian di atas 5.000meter, jangan tanya dinginnya kayak apa 😂. Udah mulai makin susah napas juga. Jadi trekking jalannya santai pake banged. Untuk jalur dari Lobuche ke Gorakshep sendiri hanya sedikit jalur naik dan turunnya. Tapi tetep aja karna oksigen tipis, untuk tanjakan sekecil apapun tetep bikin napas ngos2an. Dan walopun jalannya kebanyakan mendatar, tempatnya itu terbuka sangaddd, anginnya itu kejam banget selama perjalanan!

otherworldly

Belum lagi semua batu-batu di segala penjuru rute ini. Jadi selama perjalanan harus selalu lihat ke bawah untuk menghindari salah langkah. Kombinasi angin, jalan berbatu, dan dingin, teuteup tidak menyurutkan niat untuk photo2. Lewat jalur ini itu serasa ada di dunia antah berantah. Tidak terlihat ada tanaman dan suara2 binatang, hanya suara angin & helicopter yang beberapa kali lewat. Sejauh mata memandang kita hanya bisa lihat hamparan batu, langit, awan, dan gunung2 dengan latar belakang hitam dan putih. Kalau jaraknya jauh dengan trekkers lain, itu rasanya kek sendirian banget di dunia ini.

negeri antah berantah

Setelah trekking kira-kira 2,5 jam, sampai juga kami di Gorakshep sekitar jam 11.40. Bahagianya tak terkira ngeliat deretan atap-atap guest house dari kejauhan. Walaupun masih lumayan juga untuk sampai di guest housenya dan butuh usaha keras.

Gorakshep sendiri merupakan desa terakhir sebelum sampai di EBC. Terus terang, rasanya udah ‘ga mau lanjut begitu masuk & duduk anget2an di dining room penginapan di Gorakshep. Sempat ngobrol dengan trekkers lainnya, eh kebanyakan mereka hanya butuh waktu 1-1,5 jam sampai di sini 😳 entah terbuat dari apa dengkul mereka 😅

Gorakshep, the last village before EBC

Untunglah hanya tinggal trekking sedikit lagi (yang kenyataanya ini paling berat). Sedikit laginya itu ternyata saya butuh waktu sekitar 2jam lebih untuk sampai di EBC dari Gorakshep 😳🙄. Setelah makan siang, kira2 jam 13.00, kami lanjutkan trekking ke EBC.

Di jalan ke EBC itu udah ‘ga focus dan ‘ga inget lagi gimana selama perjalanan. Rasanya sudah pengen rebahan aja. Kepala harus menunduk sepanjang jalan untuk milih batu sebagai pijakan kaki, mata meleng sedikit dijamin bakalan keseleo. Alhasil, leher kram dan pegel karna kebanyakan nunduk. Plus dengan jalur yang masih naik dan turun dan ‘ga ketinggalan, berbatu!

batu, batu, n batu

Setelah setiap saat nyoba melihat titik akhir trekking, ketemu beberapa trekker yang sudah mau kembali ke penginapan. Mereka kasih info kalau sudah dekat & kasih semangat juga😄. Akhirnya, sampai juga di EBC sekitar jam 3 lewat. Spot batu dengan tulisan keramat itu penuh dengan trekkers yang antri photo macam antri sembako mau Lebaran. Iya, cuma spot batu dengan tulisan Everest Base Camp 😐😄.

aku tuh sedih photonya kepotong 😂

Fiuh….akhirnya sampai juga di tempat ‘historic’, tempat yang menjadi tujuan banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Begitu sampai langsung mencari batu untuk bisa duduk dan melemaskan kaki. Perjuangan hari ini sungguh warbyazaahhh 😂

we.made.it

Di EBC sendiri kami tidak lama karena sudah semakin sore dan semakin dingin. Saya juga sudah tidak sanggup untuk jalan ke arah Khumbu Glacier, padahal tinggal sedikit lagi. Dan sedikit nyesel ‘ga kesana pas udah pulang (emang yah nyesel itu selalu belakangan 😅). Untuk trekking kembali ke Gorakshep butuh sekitar 2 jam lagi. Mendekati Gorakshep udah mulai gelap, udah lemas mau pingsan, bahkan trekking pole pun mulai diseret. Rasanya pengen ngesot aja ampe guest house 🥴.

Khumbu Glacier

Nyampe guest house masuk dining room biar anget. Sekalian makan malam, baru deh akhirnya masuk kamar, walopun ‘ga rela keluar dari dining room yang anget itu. Begitu masuk kamar udah langsung membeku dan harus bergerak ala2 kukang 🥶🥶🥶.

Ya Allah, akhirnya setelah perjuangan delapan hari bisa sampai EBC juga. Yang awalnya tidak pernah kepikiran dan masuk dalam bucket list. Juga sedikit impulsive untuk memutuskan datang ke sini dalam waktu kurang dari satu tahun.

Ditambah perjuangan yang rupa-rupa 😆. Dimulai dari perjalanan menuju bandara Ramechhap yang butuh waktu 7jam dari Kathmandu, pesawat menuju Lukla yang delay selama sehari. Ditambah juga menginap di guest house di Mantali yang apa adanya. Dan ‘ga ketinggalan, ngerasain penerbangan selama 20menit terlama dan paling menegangkan sepanjang hidup. Akhirnya bisa mendarat dengan selamat di Tenzing Hilarry Airport 😇.

Trus lanjut lagi trekking dengan waktu tempuh dari pagi hingga siang atau sore, entah berapa ratus km yang kami lewati. Juga yg lewatin entah berapa ribu rute naik, turun, mendatar, tangga, dan suspensions bridges yang menyeramkan itu 😂😆. Plus tipisnya oksigen dan udara dingin buat orang tropis macam saya. Walopun jalan pulang masih panjang, tapi setidaknya, sudah kesampean menjejakkan kaki di EBC, kaki atap dunia. Udah mirip-mirip dikitlah ama para climbers Mt. Everest itu 🙊 .

Khumbu Glacier – EBC

Namun Tuhan memang maha adil, sungguh luar biasa ciptaan-Nya. Dengan semua perjuangan dan perjalanan yang cukup membuat menderita, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa 😍💙. Semua view yang didapat selama perjalanan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tentunya, jadi pengalaman sekali dalam seumur hidup. Dan saya tidak menyesal sudah memutuskan ke tempat ini.

EBC photo spot yang sebelumnya


~ EBC: Mission (I’m) Possible ~
#travel4soul.id made to EBC#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *