Perjuangan Tiba di Lukla (Tenzing Hillary Airport)

posted in: Nepal | 0
Welcome to Tenzing Hillary Airport, Lukla

Masih terngiang ucapan diri sendiri dan travel mate, Mba Indah, waktu trekking ke Annapurna Base Camp (ABC) beberapa waktu silam. Waktu ditanya guide kami, mau balik lagi ke sini tidak? Kompak kami menjawab ‘engga, makasih’.

Entahlah, apakah kami memang ketulah karena ngomong itu, atau memang kami beneran jatuh cinta ama Nepal, khususnya Himalaya. Waktu berlalu dari trekking saat itu, ‘ga pernah sekalipun kami membahas mau pergi trekking lagi.

Hingga suatu waktu di awal tahun 2019, saya yang mendadak ingin menjejakkan kaki ke EBC dengan pertimbangan global warming. Takut keburu meleleh puncak-puncak Himalaya-nya, akhirnya ngajakin M Indah pergi dan gayung bersambut πŸ˜†. Jadilah kami beli tiket ke Nepal walaupun tidak dapat harga promo πŸ˜‚.

Tanpa ada persiapan khusus (bukan sombong sodara2 πŸ˜†) dan hanya berkomunikasi beberapa kali dengan agency di sana, akhirnya berangkatlah kami tgl 2 Oktober 2019. Mengalami delay dari mulai JKT_KUL dan KUL_KTM, kami baru mendarat di Tribhuvan International Airport jam 10 malam. Antrian untuk VOA yang panjang dan pengambilan bagasi, kami akhirnya keluar dari bandara beberapa waktu setelah tengah malam dan sudah masuk ke tanggal 3 Oktober.

Awalnya mengira akan menginap di Kirtipur. Namun, dalam perjalanan ke hotel, diinfo oleh agency karena berangkat ke Lukla tidak melalui Tribhuvan, jadi kami akan menginap di Thamel. Dan kami harus berangkat jam 04.30 untuk ke bandara Ramechhap yang katanya menghabiskan waktu 3,5jam. Kenyataaannya perjalanan memakan waktu lebih dari 6jam!

Sebelumnya memang sudah baca info2 dari backpacker lain kalau bandara Tribhuvan sedang dalam renovasi sejak awal tahun. Sehingga penerbangan ke Lukla dialihkan ke Ramechhap. Awalnya mengira keberangkatan di Oktober ini akan bisa dari Tribhuvan, ternyata tidak sodara-sodara.

Jadilah setelah sampai hotel di Thamel, kami tidak bisa langsung tidur karena harus packing apa saja yang dibawa di ransel untuk trekking selama 10-12hari. Baru di dalam perjalanan menuju Ramechhap kami bisa tidur di dalam van.

Ramechhap Airport

Setibanya kami di Airport Ramechhap, guide memberitahu kami kalau pagi ini sudah ada beberapa penerbangan yang berangkat ke Lukla. Infonya, sudah beberapa hari sebelumnya tidak ada penerbangan. Kami lihat memang sudah ramai sekali dengan para trekkers di sana yang menunggu waktu penerbangan mereka. Kami merasa optimis mendengar info tersebut. Di saat kami sedang menunggu, satu flight yang terakhir terbang ternyata kembali dengan membawa penumpang yang seharusnya tiba di Lukla. Ternyata oh ternyata, pesawat yang terakhir terbang tersebut tidak dapat mendarat di Lukla, sehingga harus kembali ke Ramechhap 😳

persiapan menuju Lukla

Seketika kami sedikit lemas dan cemas. Sempat dengar juga dari obrolan trekkers lainnya ada yang sudah ketahan 2hari belum bisa berangkat ke Lukla 😳. Berusaha untuk tetap optimis, kami masih setia menunggu kabar. Sambil menunggu, kami makan siang di sekitaran airport. Setelahnya kami mendapat kepastian kalau penerbangan ke Lukla ditiadakan hari itu 😐. Tidak kebayang kalau harus kembali ke Kathmandu, kami akhirnya menginap di sebuah guest house Mantali. Mungkin ada hikmahnya penerbangan ditunda, karena bisa istirahat setelah kurang tidur dari malam sebelumnya. Jadi bisa mulai trekking dengan cukup istirahat πŸ˜‡.

Welcome
the most dangerous airport in the world

Esoknya, tanggal 4 Oktober kami berangkat pagi-pagi menuju ke Ramechhap agar bisa check in ulang dan mendapatkan boarding pass kembali. Setelah proses check in, pemeriksaaan tas, boarding, dan menunggu, Alhamdulillah, akhirnya kami bisa berangkat dengan penerbangan yang ke sekian. Dan mendarat dengan selamat di Lukla πŸ˜‡. EBC, here we come ……

Lucky to be here ☺️

~ EBC: Mission (I’m) Possible ~
#travel4soul.id made to EBC#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *