Membeku di Namtso Lake

posted in: China | 0
Namtso Lake

Saat memutuskan untuk traveling ke Tibet, selain Lhasa, saya memutuskan untuk menambah tujuan ke Namtso Lake. Penyegaran setelah city tour Lhasa yang mengunjungi kuil dan biara sepanjang beberapa hari πŸ˜†.

Namtso Lake, salah satu danau pegunungan di Tibet yang terletak di perbatasan antara Damxung County dan Baingoin County. Terletak di ketinggian 4.718 meter dengan luas 1.920km2, Namtso merupakan salah satu danau suci di Tibet dan merupakan danau air asin tertinggi di dunia.

Setelah beberapa hari eksplor Lhasa dengan monastery-nya, hari ini group tour akan menuju Namtso Lake. Kami akan menginap di Namtso satu malam. Perjalanan dari Lhasa ke Namtso memakan waktu sekitar 7jam dengan berkendara. Sekitar jam 9.00 pagi kami mulai berangkat dari hotel di Lhasa bersama beberapa orang lainnya yang tergabung dalam satu group.

permukaan danau masih membeku

Seperti beberapa hari sebelumnya saat berada di Lhasa, saya masih terkena altitude sickness. Di perjalanan menuju Namtso pun saya sudah mulai merasakan efek dari ketinggian di atas 4.000m. Plus dengan suhu udara yang semakin dingin dan ‘salah kostum’ menyebabkan saya sakit kepala terus menerus.

black & white world

Untungnya saya mengambil posisi duduk di sebelah jendela, sehingga bisa menikmati pemandangan indah selama perjalanan. Sepanjang jalan kami disuguhi dataran luas dengan deretan pegunungan Himalaya di kejauhan.

Di beberapa tempat juga terlihat keluarga nomad Tibet yang sedang menggembalkan hewannya. Dalam perjalanan kami berhenti beberapa kali untuk toilet break dan sempat berhenti di Nargen La Pass, ketinggian 5.190m.

Prayer flags

Kami tiba di Natmso sore hari sekitar pkl. 16.00. Cuaca sedikit mendung dan ternyata sebagian besar permukaan danau masih membeku. Setelah kami menaruh barang-barang di guest house, kami mulai menyusuri salah satu sisi danau yang ternyata sangaaatttt luas.

Dengan dataran terbuka dan angin yang kencang, membuat kepala saya semakin bertambah sakit. Tapi tidak mau melewatkan kesempatan untuk berkeliling.

Ingin berputar arah tapi merasa tanggung, saya terus memaksakan diri untuk berkeliling. Meskipun sakit kepala dan cukup melelahkan, namun saya tidak rela harus kembali ke guest house.

Ternyata menyusuri satu arah saja butuh waktu berjam-jam. Namun saya tidak menyesal, karena di ujung terjauh danau, mulai terlihat permukaan danau yang esnya sudah mencair. Akhirnya terlihat warna air danau yang kebiruan! Cantiknyaaa 🀩🀩🀩

sudah ada yang mulai mencair

Awalnya kami ingin mendaki bukit yang ada di dekat penginapan kami. Namun setelah sepakat dengan angggota group lain, kami memutuskan untuk naik ke bukit esok pagi setelah star gazing dan sunrise.

Sepanjang sejarah dan sepanjang malam itu sakit kepala saya tidak juga hilang πŸ˜‚. Saya benar-benar terkena altitude sickness. Tabung oxygen yang diberikan pun saya pakai hampir sepanjang malam. Untungnya terbantu dengan electric blanket jadi sedikit hangat. Tidak sabar rasanya ingin cepat-cepat pagi dan kembali ke Lhasa πŸ˜‚.

parkiran penginapan di pagi hari setelah turun salju

Ternyata malam harinya hujan salju. Manusia berencana, salju menentukan πŸ˜† . Kami tidak beruntung, jadi tidak bisa menikmati star gazing dan sunrise. Tentu saja, udara semakin dingin.

Dengan keadaan penginapan yang apa adanya, rombongan kami yang awalnya ingin kembali ke Lhasa siang hari, memutuskan untuk meninggalkan Namtso lebih awal (yesss, saya tidak tersiksa sendirianπŸ˜‚).

white world

Tentu saja, pemandangan pagi hari setelah turun salju sangat luar biasa. Hamparan permukaan putih sepanjang mata memandang sangat indah. Sayapun semakin jatuh cinta dengan Himalayan ranges. Sakit kepala dan kedinginan sempat terlupakan, walaupun hanya sebentar.

fresh snow in the morning

Setelah anggota rombongan sepakat untuk pulang lebih awal, kami meninggalkan penginapan sekitar pukul 10.00. Masuk mobil sudah seperti masuk kulkas πŸ₯ΆπŸ˜…. beku…plus mobil tidak ada penghangat. Diperjalanan kami disuguhi dataran luas dengan permukaan salju tipis. Rasanya seperti ada di negeri antah berantah, sangat tidak nyata. Akhirnya kami tiba kembali di Lhasa sore hari.

Walaupun tidak bisa menikmati Namtso Lake dengan permukaan danau birunya, merupakan kesempatan luar bisa bisa sampai di sini. Infonya, Namtso terlihat sangat indah di musim panas. Selain es di permukaan danau sudah mencair, mungkin bisa bertemu yak di sekitaran danau.

Buat traveler yang ingin ke Tibet dan menikmati danau, Yamdrok Lake bisa jadi pilihan selain Namtso Lake. Tempatnya lebih dekat dari Lhasa, hanya memerlukan waktu sekitar 2,5 jam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *