The Stone Forest, Ramang-Ramang versi China

posted in: China | 19

Kalau di sini kita mengenal Shilin sebagai camilan yang dijual di mall. Nah, Shilin merupakan nama tempat di China, tepatnya di Provinsi Yunnan. Terletak agak sedikit di luar kota Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan.

The Stone Forest, atau dikenal dengan nama Shilin, merupakan hamparan luas dataran dengan berbagai macam dan ukuran batu kapur yang menjulan dari tanah. Kita dapat melihat batu-batu tersebut tersebar di area seluas 500km2. Tahu Obelix kan? Nah, batu-batunya itu mirip dengan batu yang dibawa-bawa Obelix itu ๐Ÿ˜„. Ada yang bilang Stone Forest ini mirip dengan Ramang-ramang di Indonesia. Saya sendiri sih belum pernah ke sana ๐Ÿ˜‚.

Ditetapkan sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO sejak tahun 2007, menjadikan Stone Forest salah satu tempat wisata yang paling banyak dikunjungi. Untuk menuju ke Stone Forest, kita bisa naik bus dari Kunming East Bus Station. Jadwal berangkat setiap setengah jam sekali dan akan langsung sampai di area Stone Forest. Bus selalu berjalan tepat waktu.

Untuk jam operasional Stone Forest mulai pukul 08.00 – 18.00, buka setiap hari. Tiket masuk tempat ini sebesar RMB 175 (mihilll…๐Ÿ˜‚) Tapi, sudah jauh-jauh sampai Kunming sayang juga kalau tidak ke sini. Untuk puas berkeliling tempat ini kira-kira kita butuh waktu sekitar 2-3 jam.

Saat itu saya mengunjungi Stone Forest di hari ke-2 kami tiba di Kunming. Dari penginapan kami yang terletak di Jinma Biji Square, kami berjalan kaki menuju ke stasiun subway terdekat, Dongfeng Square Station. Dari situ kami naik subway dan turun di Kunming Eastern Bus Station.

Tiba di Kunming Eastern Bust Station, kami membeli tiket bus yang langsung ke Stone Forest. Untuk membeli tiket bus di sini kami harus menunjukkan identitas diri, passport. Nantinya ada juga pemeriksaan passport dan tiket sebelum masuk ke area tunggu. Setelah membeli tiket, kami langsung menuju ke bus yang sudah terisi. Tidak lama kemudian, bus berangkat langsung tanpa berhenti.

Setelah kira-kira 1,5 jam dan deg-degan nyasar (karena pengumuman semua dalam bahasa China ๐Ÿ˜…), akhirnya kami sampai di Shilin Bus Terminal. Dari sini kami membeli tiket untuk masuk ke Stone Forest. Harga tiket sudah termasuk untuk naik electric car sampai di gerbang Stone Forest.

Berada di Stone Forest, kita akan merasa sedang berada di dunia Flintstone. Batu-batu besar dengan berbagai macam bentuk dan ukuran tersebar di mana-mana, membuat kita terlihat kecil. Area Stone Forest dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya Greater & Lesser Stone Forest (dikenal juga dengan Lizijing Stone Forest), Naigu Stone Forest, dan Lake Yue (Moon Lake). Jangan khawatir tersesat, kita dapat menemukan banyak papan petunjuk arah yang tersebar di berbagai tempat.

Kalau berkunjung ke sini, jangan lupa bawa bekal camilan dan minuman yah. Karena kita butuh tenaga untuk keliling tempat luas ini ๐Ÿ˜†. Tapi tenang, kalau kelupaan bawa bekal, banyak juga yang menjual makanan dan minuman di sini.

Setelah puas berkeliling, kami keluar dari area Stone Forest. Jalur masuk dan keluar berbeda. Dan kami kembali menaiki electric car untuk sampai di Shilin Bus Terminal. Kami menggunakan subway untuk kembali ke penginapan.

Umumnya tiket masuk tempat wisata di China memang cukup mahal. Tapi, kita akan dimudahkan dengan berbagai macam transportasi dan petunjuk yang tersebar di mana-mana. Jangan khawatir tersesat, bahkan supir taxi akan membantu walaupun kita tidak saling mengerti ๐Ÿ˜‚. Pakai bahasa universal, bahasa tarzan pun cukup ๐Ÿ˜†.

Saat traveling ke kota-kota di China, saya biasanya selalu bekal print details penginapan (nama, alamat, no. telfon) dan tempat tujuan dalam aksara China. Seringkali ketika menuju penginapan dan tidak bisa berkomunikasi dengan supir taxi, saya hanya menyodorkan kertas print tersebut. Biasanya bapak supir akan inisiatif untuk menelfon ke penginapan untuk menanyakan arah๐Ÿ˜Š.

Banyak yang enggan traveling ke China karena beranggapan China itu jorok. Saya pribadi tidak masalah pergi ke China. Karena China sangat luas, banyak tempat yang bisa dikunjungi. Juga di sana transportasi umum banyak dan mudah dipahami walaupun saya tidak bisa bahasa Mandarin. Orang-orangnya pun banyak yang ramah dan selalu siap membantu walau terkendala bahasa.

Kalaupun ada sedikit kendala, itu jadi tantangan dan keseruan tersendiri. Tentunya, menambah pengalaman dan juga mengasah kemampuan untuk mencari solusi dalam keadaan yang tidak sesuai harapan. Pun selama traveling, semua dibawa enjoy saja. Karena niat traveling kan untuk berlibur. Jadi, nikmati saja semua suka dan dukanya. Iya kaan? ๐Ÿ˜Š

Jadi, kalau traveling ke China, kalian mau kemana?

Potala Palace, Istana Musim Dingin Dalai Lama

posted in: China | 0
Potala Palace

Potala Palace, salah satu tempat wajib yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Tibet. Berada di Lhasa, ibu kota Tibet, monastery ini terletak di ketinggian 3.700m. Potala Palace mulai dibangun tahun 1645 oleh Dalai Lama ke-5. Terdiri dari 13 lantai dan lebih dari 1.000 kamar, tempat ini menjadi tempat kediaman utama Dalai Lama selama musim dingin sebelum diambil alih oleh pemerintah China (1649 sampai dengan 1959). Saat ini, Potala Palace dialih fungsikan menjadi museum sejak tahun 1959.

Pengunjung yang diizinkan mendatangi tempat ini dibatasi sebanyak 1.600 perhari dengan waktu berkunjung hanya enam jam perhari. Ada penambahan jumlah pengungjung di musim liburan sekitar bulan Juli hingga September. Untuk pembelian tiket dan berkunjung ke Potala Palace, pengunjung wajib didampingi oleh pemandu lokal. Untuk masuk ke dalam halaman istana, kita akan melalui pemeriksaan yang ketat, salah satunya pemeriksaan tiket masuk dan passport.

Potala Palace dilihat dari Potala Square

Karena berada di ketinggian 3.600m dan kita perlu menaiki tangga, disarankan untuk bergerak dan perlahan agar tidak mudah lelah karena tipisnya oksigen. Kita akan dibuat takjub dengan kemegahan bangunan istana dan seisi ruangan.

Potala Palace dibagi menjadi dua, Red Palace dan White Palace. Pengunjung tidak diperbolehkan mengabadikan photo setelah melewati White Palace. Dari salah satu teras Potala Palace, kita bisa melihat pemandangan kota Lhasa dari ketinggian dan juga ke arah Potala Square.

Dari lapangn terbuka di lantai 9 di depan White Palace, kita dapat melihat ke arah jendela kuning yang dulunya merupakan kamar Dalai Lama. Begitu masuk ke dalam White Palace, pengunjung dilarang untuk mengabdikan photo selama di dalam. Dalam Red Palace, kita akan melihat makam para Dalai Lama yang berupa pagoda.

Dahulu, terdapat ribuan biksu yang tinggal, belajar, dan hidup di Potala Palace. Sekarang ini kita masih dapat melihat biksu di sini, tapi jumlahnya tidak banyak. Selalu kagum dengan bangunan megah dan luas seperti ini. Tidak terbayang bagaimana pembuatannya ratusan tahun yang lalu.

Membeku di Natmso Lake

posted in: China | 0
Namtso Lake

Saat memutuskan untuk traveling ke Tibet, selain Lhasa, saya memutuskan untuk menambah tujuan ke Namtso Lake. Merupakan penyegaran setelah city tour Lhasa yang mengunjungi kuil dan biara sepanjang hari ๐Ÿ˜†.

Namtso Lake, salah satu danau pegunungan di Tibet yang terletak di perbatasan antara Damxung County dan Baingoin County. Terletak di ketinggian 4.718 meter dengan luas 1.920km2, Namtso merupakan salah satu danau suci dan merupakan danau air asin terbesar di Tibet.

Setelah beberapa hari eksplore Lhasa dengan monastery-nya, hari ini akan menuju Natmso Lake. Kami akan menginap di Namtso satu malam. Perjalanan dari Lhasa ke Namtso memakan waktu sekitar 7jam dengan berkendara. Sekitar jam 9.00 pagi kami mulai berangkat dari hotel di Lhasa bersama beberapa orang lainnya yang tergabung dalam satu group.

permukaan danau masih membeku

Seperti beberapa hari sebelumnya selama saya berada di Lhasa, saya terkena ams. Di perjalanan menuju Namtso pun saya sudah mulai merasakan efek dari ketinggian di atas 4.000m. Plus dengan suhu udara yang semakin dingin dan jaket yang kurang sesuai menyebabkan saya semakin sering merasakan sakit kepala.

black & white world

Untungnya saya mengambil posisi duduk di sebelah jendela, sehingga bisa menikmati pemandangan indah selama perjalanan. Sepanjang jalan kami disuguhi dataran luas dengan deretan pegunungan Himalaya di kejauhan. Dalam perjalanan kami berhenti beberapa kali untuk toilet break dan sempat berhenti di Nargen La Pass, ketinggian 5.190m.

Nargen La Pass

Kami tiba di Natmso sore hari sekitar pkl. 16.00. Cuaca sedikit mendung dan ternyata sebagian besar permukaan danau masih membeku. Setelah kami menaruh barang-barang di guest house, kami mulai menyusuri salah satu sisi danau yang ternyata sangaaatttt luas. Dengan dataran terbuka dan angin yang kencang, membuat kepala saya semakin bertambah.

Ingin berputar arah tapi merasa tanggung, saya terus memaksakan diri untuk berkeliling. Meskipun sakit kepala dan cukup melelahkan, namun saya tidak rela harus kembali ke guest house. Ternyata menyusuri satu arah saja butuh waktu berjam-jam. Namun saya tidak menyesal, karena di ujung terjauh danau, mulai terlihat permukaan danau yang esnya sudah mencair.

sudah ada yang mulai mencair

Awalnya kami ingin mendaki bukit yang ada di dekat penginapan kami. Namun setelah sepakat dengan angggota group lain, kami memutuskan untuk naik ke bukit esok pagi setelah star gazing dan sunrise.

Sepanjang sejarah dan sepanjang malam itu sakit kepala saya tidak juga hilang. Saya benar-benar terkena ams. Tabung oxygen yang diberikan kepada kami pun saya pakai hampir sepanjang malam. Tidak sabar rasanya ingin cepat-cepat pagi dan kembali ke Lhasa ๐Ÿ˜‚.

parkiran penginapan

Ternyata malam harinya hujan salju. Kami tidak beruntung, tidak bisa pergi untuk star gazing dan menikmati sunrise. Tentu saja, udara semakin dingin. Dengan keadaan penginapan yang apa adanya, rombongan kami yang awalnya ingin kembali ke Lhasa siang hari, memutuskan untuk meninggalkan Namtso lebih awal ๐Ÿ˜‚.

white world

Tentu saja, pemandangan pagi hari setelah turun salju sangat luar biasa. Hamparan permukaan putih sepanjang mata memandang sangat indah. Sayapun semakin jatuh cinta dengan Himalayan ranges. Sakit kepala dan kedinginan sempat terlupakan sebentar.

fresh snow in the morning

Setelah anggota rombongan sepakat untuk pulang lebih awal, kami meninggalkan penginapan sekitar pukul 10.00. Masuk mobil sudah seperti masuk kulkas ๐Ÿฅถ๐Ÿ˜…. beku…Diperjalanan kami disuguhi dataran luas dengan permukaan salju tipis. Terasa sangat tidak nyata. Kami tiba kembali di Lhasa sore hari.

Walaupun tidak bisa menikmati Namtso Lake dengan permukaan danau birunya, merupakan kesempatan luar bisa bisa sampai di sini. Memang, Namtso akan terlihat indah di musim panas. Selain es di permukaan danau sudah mencair, mungkin bisa bertemu yak di sekitaran danau.

Tips Mencegah Acute Mountain Sickness

posted in: China, Nepal, Random Stories | 1

Kamu akan pergi ke suatu tempat dengan ketinggian di atas 2.500m? Perhatikan gejala dan tips mencegah acute mountain sickness di sini.

Pernah dengar tentang Acute Mountain Sickness ini? Disebut juga dengan altitude sickness, penyakit ini biasanya dirasakan di tempat dengan ketinggian di atas 2.500m. Umumnya gejala yang dirasakan cepat lelah, pusing atau sakit kepala, sesak napas, tidak bisa tidur, dan mual.

Buat kamu yang ingin pergi ke suatu tempat dengan ketinggian di atas 2.500m seperti saat trekking ke Everest Base Camp. Dan sedikit ragu atau takut mengenai AMS, jangan khawatir. Infonya acute mountain sickness ini bisa dihindari koq.

Yuks simak beberapa tips untuk pencegahan acute mountain sickness:

acute mountain sickness bisa terjadi di ketinggian ini
Everest Base Camp

Aklimatisasi

Kalau kamu sedang menuju ke suatu tempat dan ada opsi untuk lewat jalan darat, usahakan untuk pilih lewat darat. Jika trekking dari ketinggian yang lebih rendah menuju tempat yang lebih tinggi, berjalanlah dengan kecepatan yang stabil. Usahakan untuk tidak jalan terburu-buru. Sehingga badan akan punya waktu untuk menyesuaikan diri dengan ketinggian selama perjalanan. Jadi tubuh tidak terlalu kaget dengan perbedaan ketinggian yang drastis.

Istirahat & jangan beraktivitas terlalu berat

Kalau sudah sampai di tempat yang dituju, sediakan waktu untuk beristirahat. Usahakan jangan terlalu banyak melakukan aktivitas berat seperti berlari, dan melompat. Sebagus apapun pemandangannya dan berbagai macam pose photo yang kamu pengen coba ๐Ÿ˜€ Dijamin, untuk napas aja susah kalau udah di tempat tinggi karena kadar oksigen yang tipis ๐Ÿ˜….

Perbanyak konsumsi cairan

Dipercaya, banyak minum air putih dapat membantu untuk menghindari AMS. Buat kamu yang tidak suka minum air putih, mungkin bisa konsumsi ginger tea atau teh plus madu. Hindari juga konsumsi alcohol dan merokok.

Konsumsi karbohidrat

Salah satu antisipasi acute mountain sickness bisa dengan menambah asupan karbohidrat. Da juga dengan mengurangi lemak & protein yang membutuhkan waktu lama untuk dicerna. Cokelat atau biscuit juga bisa kamu siapkan sebagai bekal perjalanan. Makanan ini bisa sebagai camilan dan penambah tenaga.

Konsumsi obat acute mountain sickness

Umumnya untuk gejala ringan altitude mountain sickness bisa diatasi dengan minum obat sakit kepala atau obat anti mual. Kamu juga bisa konsumsi obat seperti Diamox. Biasanya obat ini diminum satu atau dua hari sebelum kita sampai di tempat tujuan.

Diamox banyak dijual di apotek di tempat-tempat dengan ketinggian. Untuk di Indonesia sendiri, bisa cari obat yang mengandung acetazolamide. Untuk lebih amannya, kamu bisa konsultasi ke dokter untuk menanyakan obat yang perlu disiapkan & dibawa.

Sedia oxygen can

Untuk tips mencegah acute mountain sickness lainnya, kamu bisa sedia oxygen dalam bentuk kaleng. Oxygen can ini mudah di dapat di tempat-tempat dengan ketinggian di atas 2.500m. Jika kamu ikut travel/tour, biasanya ada beberapa yang sudah menyediakan ini bagi peserta.

Hindari mandi & cuci rambut di hari pertama

Jika kamu berkunjung ke dataran tinggi seperti Tibet, biasanya pihak agency akan menyarankan untuk tidak mandi dulu di hari pertama atau kedua untuk menghindari flu. Juga untuk memberikan waktu agar badan bisa beradaptasi dengan ketinggian baru. Jangan khawatir, karena daerah tinggi, kan dingin jadi tidak terlalu berkeringat yah ๐Ÿ˜Š.

Tips:

Kalau kamu merasakan gejala ringan, wajib untuk istirahat dan tunda ke tempat yang lebih tinggi sampai pulih. Atau kamu bisa mengkonsumsi obat. Jika setelah minum obat gejalanya tidak juga membaik, info ke teman. Atau cari bantuan ke klinik atau RS setempat. Jika semakin parah, kembali turun ke tempat yang lebih rendah.

Selama kamu punya informasi dan persiapan yang cukup, tidak usah khawatir untuk pergi ke dataran tinggi. Pelajari tentang gejala, tips, dan obat untuk menghindari acute mountain sickness. Perhatikan dengan baik kondisi badan selama perjalanan. Karena kamu yang bisa tahu & merasakan kondisi badan sendiri.

Jadi, sudah ada rencana pergi ke tempat dataran tinggi? Atau mau coba merasakan traveling ke tempat dengan ketinggian di atas 2.500m?

~ tulisan di atas berdasarkan pengalaman pribadi saya ke tempat-tempat dengan tinggi, info dari pihak terkait dan beberapa artikel di internet ~

Shangri La, kota cantik di ujung provinsi Yunnan

posted in: China | 28

Shangri La merupakan kota ke-4 (terakhir) dari trip Yunnan. Rute untuk eksplore Yunnan ini dimulai dari Kunming, kemudian lanjut dengan kereta ke Dali. Dari sini lanjut ke Lijiang juga naik kereta, kemudian ke Tiger Leaping Gorge, dan terakhir lanjut ke Shangri La.

Agak lupa pertama kali tahu Shangri La dari mana, tapi setelah tahu jadi kepengen ke sini dan mulai deh cari-cari info untuk pergi tempat ini. Shangri La, sebuah kota di Provinsi Yunnan, Republik Rakyat China, konon katanya pertama kali dikenal dunia melalui novel โ€œLost Horizonโ€ karangan James Hilton tahun 1939. Dikenal juga dengan โ€œEden in Dreamโ€, saat itu Shangri La dianggap sebagai sebuah tempat yang misterius. Kota ini juga disebut-sebut sebagai replika dari Tibet dimana etnis mayoritas nya adalah Tibetan (I call the city โ€˜Little Tibetโ€™). Sebutan lain untuk kota ini yaitu โ€˜The Lost Paradiseโ€™.

Shangri La berbatasan dengan Tibet dan Provinsi Sichuan. Dikelilingi Himalayan range, kota ini berada di ketinggian 3.160 mdpl. Bagi wisatawan yang datang ke Shangri La bisa mengalami โ€˜altitude sicknessโ€™ (als), dikenal juga dengan ‘altitude mountain sickness’ (ams). Gejala ‘als’ bisa timbul dikarenakan perbedaan ketinggian dari tempat asal. Untuk mengatasi โ€˜alsโ€™ ini, kita disarankan untuk tidak melakukan aktivitas fisik berat di hari pertama, banyak mengkonsumsi air putih, sayuran, dan buah-buahan. Selain itu bisa juga mengkonsumsi cokelat, biscuit, atau ginger tea yang dipercaya dapat mengatasi altitude sickness. Untungnya saya dan teman-teman sudah sedikit aklimatisasi dari kota-kota sebelumnya jadi tidak sampai kena โ€˜alsโ€™ ini. Info mengenai ‘als’ bisa dibaca di: https://travel4soul.id/2019/08/12/acute-mountain-sickness/

Buat yang mau ke Shangri La melalui Kunming (ibukota Provinsi Yunnan), bisa lewat udara dan darat. Selain Kunming, beberapa kota besar di China juga memiliki penerbangan langsung ke Shangri La, seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, Lhasa, Chengdu.  Sayangnya, belum ada jalur kereta langsung ke Shangri La. Jadi kalau kamu mau ke sini lewat jalan darat, kamu bisa naik kereta sampai dengan Lijiang. Setelahnya lanjut dengan bus atau van ke Shangri La.

Tibet look a like

Nah kemarin itu saya berangkat dari Lijiang ke Shangri La dengan sedikit waktu yang meleset dari rencana. Rencana kami berangkat dari Tiger Leaping Gorge (TLG) naik van yang sudah book sebelumnya dari hotel di Lijiang. Nah seharusnya kan berangkat dr TLG ini jam 15.30. Saya sudah cek ke resepsionis di Tinaโ€™s Guest House untuk konfirmasi dan dijawab iya nanti jam 15.30 van-nya ada di parkiran. Jadi saya santai-santai ngobrol. Sekitar jam 15.15 coba iseng nanya lagi, masih dijawab iya jam 15.30. Lemotnya saya ๐Ÿ˜‚, โ€˜ga nanya nanti dikasih atau atau tidak waktu van-nya sudah ada. โ€˜ga lama baru deh ada satu orang yang lain nanya berangkat ke Shangri La yah? Dan katanya van sudah ada di parkiran. Langsung kita buru-buru ke parkiran mau masuk ke van, dan ternyata oh ternyata, van nya udah penuh. Padahal harusnya itu van sesuai jumlah orang yang pesen. Staf di Tinaโ€™s Guest House pada bingung kenapa bisa overseat gitu, dan akhirnya diminta untuk nunggu mereka cek n ricek. Lumayan lama nunggu akhirnya diinfo katanya kami akan pergi ke Shangri La naik bus umum dari terminal terdekat.

Langsung donk saya konfirmasi โ€˜ga perlu nambah bayar kan (‘ga mau rugi ๐Ÿ˜…)? Soalnya kita jelas-jelas udah pesen van malahan โ€˜ga dapat tempat dan tinggal deh tuh ama si van. Diinfo ama pemiliknya kita โ€˜ga perlu bayar nambah apapun (ya iyalaah, orang salah dia kan yah ๐Ÿ˜‚). Akhirnya kita diantar dari guest house ke terminal terdekat yang โ€˜ga dekat (sekitar 30-45 menit perjalanan tanpa macet). Udah nyampe terminal tu bis lagi ‘dimandiin’ jadi โ€˜ga bisa langsung masuk bis.

‘Rejeki’ dapet bus umum, jadinya duduk kepisah-pisah karena udah penuh dengan orang lokal. Plus dengan berbagai macam aroma dan pernak-pernik di bus kek   aroma bawang, orang-orang sepuh dan ada yang bawa anjing nya naik bus! (yes, anjing gede pulaks, sayang โ€˜ga photo ๐Ÿ˜…).

Sejam terlambat dari jadwal harusnya jam 15.30, kami baru mulai meninggalkan TLG sekitar jam 16.40. Untungnya ternyata โ€˜ga lama-lama banget untuk sampai k Shangri La. Sekitar jam 18.00 sudah mulai masuk ke Shangri La, langsung disambut dengan udara yang lebih dingin (dan atap bus nya ada yg dibuka jadi angin nya kenceng semriwing). Plus, pemandangan Himalayan di kejauhan yang bisa dilihat dari jendela ๐Ÿ˜. Sayang saya โ€˜ga duduk di sebelah jendela, jadi cuma bisa photo sedikit. Ini pun photo sambil dilihatin kakek yang duduk di sebelah saya, mungkin dia mikir norak bener nih turis ๐Ÿ˜‚. maap opaaaaโ€ฆ.saya emang norak kalo liat snow peak mountain ๐Ÿ˜‚

view on the way to Shangri La

Sampai di Shangri La dan berhenti di salah satu pom bensin (belum sampai di terminal di Shangr La), karena salah satu teman ada yang sudah harus ke toilet. Dari situ kami lanjut naik taxi dengan berbekal nama hotel & nomor telepon dalam aksara China. Untungnya bapak supir baik, dia telfon ke penginapan untuk tanya alamat. Secara kami hanya komunikasi via bahasa tubuh ๐Ÿคฃ. Akhirnya sampai di hotel dengan sukses dan disuguhi ginger tea yang hangat ๐Ÿฅƒ. Kanpei pertama kami ๐Ÿ˜†.

tashi delek

Shangri La memiliki tempat wisata yang sangat beragam, mulai dari kuil, national park, dan tentu saja deretan pegunungan Himalaya-nya. Untuk ke tempat-tempat wisata di Shangri La, kamu bisa pergi sendiri atau bergabung dengan tour yang ditawarkan dari penginapan.

Berikut beberapa rekomendasi tempat-tempat yang bisa kamu kunjungi selama berada di Shangri La yang kemarin saya eksplor.

1             Dukezong Ancient Town

Setelah sedikit drama keberangkatan dari TLG, kami sampai di hotel sore hari. Nah kebetulan hotel yang saya pesan persis berada di area Dukezong Ancient Town yang merupakan kompleks kota tua di Shangri La. Plus manajer hotelnya ganteng bin macho abezz (sayang ‘ga minta photo ๐Ÿ˜…). Setelah check in dan istirahat sebentar langsung keluar untuk keliling di sekitaran sini. Dukezong Ancient City terdiri dari banyak bangunyan yang dijadikan tempat usaha mulai dari toko souvenir, rumah makan dan cafรฉ/bar dengan bangunan yang khas Tibet.

one of the corner in Dukezong

Setelah keliling area ini dan di jalan pulang kembali ke hotel, kami sampai di main square-nya gitu dan lihat ada kerumuman orang banyak. Nah ternyata, ada beberapa penduduk lokal yang sedang menari diiringi lagu lokal (Tibetan Music). Jadi ternyata, โ€œTibetan Folk Dancesโ€™ ini salah satu yang wajib dilihat selama di Dukezong Ancient Town dimana penduduk lokal akan berkumpul dan menari mengikuti musik local (Tibetan music) setiap sore. => cek video berikut untuk lihat keseruannya : https://www.instagram.com/p/ByHy2jtFKDc/ Kamu juga bisa lho ikutan menari bersama mereka, pede aja sih kalau ‘ga tahu gerakannya ๐Ÿ˜.

2             The Biggest Tibetan Prayer Wheel

Kalau kamu berjalan sedikit menjauh dari Dukezong Ancient Town, kamu akan tiba di Guishan Park. Di sini terdapat kuil yang letaknya di atas bukit. Nah, di area kuil-nya ada prayer wheel raksasa yang disebut-sebut sebagai โ€˜The biggest Tibetan prayer wheelโ€™. Prayer wheel ini tingginya 24meter dan butuh beberapa orang untuk menggerakkan wheel ini saking beratnya kali yah. Untuk sampai di tempat prayer wheel ini emang perlu sedikit usaha harus naik tangga dari depan kuil. Tapi, semuanya akan terbayar dengan pemandangan cantik dari atas. Kamu bisa melihat arah pegunungan Himalaya dan ke arah kota Shangri La dari atas sana. Tempat ini ramai dikunjungi terutama di sore hari.

the biggest Tibeta prayer wheel
afternoon view

3             Shika Snow Mountain

Untuk masyarakat tropis seperti kita, berkunjung ke salah satu tempat untuk bermain salju wajib jadi pilihan utama. Sebenarnya sih ada beberapa snow mountain yang bisa dikunjungi di Shangri La. Nah, pas kesini karena waktu yang terbatas, saya milih ke Shika Snow Mountain yang letaknya paling dekat dari hotel. Berada di ketinggian 4.500 mdpl, untuk sampai di atasnya (phase 2), kita harus ganti cable car di phase 1. Sepanjang perjalanan dengan cable car, kita akan disuguhi pemandangan gunung salju-nya Himalayan Range ๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™.

Himalayan Ranges ๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™
alone on the top of the mountain

Beruntung pas kesini cuacanya cerah, jadi bisa sampai di phase 2. Pas turun dari cable car dan mulai jalan mau keliling, eh mulai berasa agak susah napas,jadi ‘ga bias petakilan juga. Saking senengnya liat Himalayan Range ‘ga mau melewatkan untuk photo-photo walaupun jari-jari tangan langsung beku begitu lepas sarung tangan๐Ÿ˜…. Di sini selain dingin,  anginnya itu bikin menggigil ampe ke tulang-tulang ๐Ÿฅถ. Jangan salah kostum yah kalau ke sini, harus prepare pakaian hangat yang pas. Buat yang โ€˜ga punya proper jaket ada koq tempat penyewaan jaket dan juga jual oxygen can untuk antisipasi โ€˜alsโ€™.

4.500m above sea level

4             Balagezong National Park

Awalnya tempat ini tidak masuk dalam daftar tempat yang mau didatangi di Shangri-La. Tapi setelah ditawarin dari hotel dan lihat brosurnya cakep banget dan diskusi dengan teman-teman juga mau, akhirnya kami pilih ikut tour dari hotel (lemah iman ๐Ÿ˜…). Nah tempatnya itu masuk kategori taman nasional. Terletak sedikit di luar kota Shangri La, kira-kira perlu waktu satu jam untuk sampe ke tempat ini. Karena letaknya yang agak jauh kebanyakan yang mau kesini ambil paket tour dan perlu waktu satu hari penuh untuk eksplore tempat ini. Setelah sampai di parkiran utama, kita nanti ganti transportasi naik scenic bus nya untuk mengunjungi beberapa tempat diantaranya Shangri La Grand Canyon, Shambala Stupa, Bala Village, dan Echo Wall. Jangan lupa pilih kursi dekat jendala yah, karena perjalanan pergi dan pulang akan disuguhi pemandangan โ€˜snow peak mountainโ€™, walopun agak bikin sport jantung karena jalannya yang belok-belok naik turun dan sebelahnya jurang ๐Ÿ˜†

Balagezong National Park
at Bala Village
Shangri La Grand Canyon

4             Songzanlin Monastery

Merupakan kuil Budha terbesar di Yunnan, sering disebut juga sebagai โ€˜mini Potala Palaceโ€™ karena mirip dengan Potala Palace di Tibet. Informasi dari manajer hotel kami di Shangri La, disarankan untuk berkunjung di sore hari karena tidak terlalu padat dengan turis dibandingkan di pagi hari. Biasanya hotel-hotel di Shangri La juga menyediakan tiket ke Songzanlin Monastery dengan harga diskon. Sayang kami โ€˜ga kesini karena waktu yang sempit jadi akhirnya beberapa tempat kami skip.

empty street

Selain tempat-tempat tersebut, jangan lewatkan juga untuk berkeliling kota Shangri La dengan berjalan kaki. Jalan kaki disini bener-bener dimanjakan soalnya pedestriannya lebar-lebar, rapi, dan juga di jalan tidak banyak kendaraan jadi malahan berkesan sepi. โ€˜Ga ada tuh lihat macet dan denger bunyi klakson sahut-sahutan ๐Ÿ˜„. Ada beberapa spot yang menarik selama perjalanan dan waktu arah pulang ke hotel kami menemukan taman di tengah kota yang cantik. Jadi deh ambil posisi ‘ga mau lewatin tanpa  photo-photo ๐Ÿคญ.

city park

Trus kami juga lewatin tempat yang namanya Diqing Nationalities Culture Square. Kami tidak coba masuk kesini hanya lihat dari pinggir jalan aja. Pintu masuknya sih agak jauh dari pinggir jalan, nah tapi di pinggir jalannya ini ada patung-patung di halamannya.

hallo uncle ๐Ÿ˜

Buat yang muslim, jangan khawatir tidak nemu makanan halal. Di beberapa tempat saya lihat banyak tempat makan dengan label halal. Tapi jangan kaget yah, di sini tempat-tempat makan banyak yang menggantung stok daging mereka di depan restoran kayak di pasar-pasar gitu kalau di sini. Mungkin karena faktor udara yang dingin jadi โ€˜ga perlu disimpen di kulkas ๐Ÿ˜.

Rasanya kurang banget cuma bisa eksplor Shangri La hanya 3hari aja. Karna masih  banyak tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi. Waktu saya nyusun itin untuk tempat-tempat yang mau dikunjungi juga bingung pilih yang mana aja karena terbatasnya waktu. Semoga bisa balik ke sini suatu saat nanti untuk eksplor lebih banyak. Soooo, Shangri La harus banget dimasukin ke bucket list kamu, dijamin kamu akan jatuh cinta ama kota cantik ini dan sediakan waktu lebih agar bisa puas eksplornya yah.

๐Ÿ’™ loooveeee the city ๐Ÿ’™