Liburan ke Nepal, Kemana Aja di Kathmandu Valley?

posted in: Nepal | 0

Apalagi sih hal-hal yang bisa dilakukan di kalau liburan ke Nepal?

Nah, di Liburan ke Nepal Part-1 sudah ada 6 tempat yang bisa dikunjungi. Sekarang lanjut ke tempat-tempat lainnya yang bisa dikunjungi di Kathmandu Valley & sekitarnya saat kamu liburan ke Nepal.

7. Chandragiri

Kalau liburan ke Nepal, kamu harus mencoba naik cable car di Chandragiri. Merupakan suatu kawasan wisata masih dekat dengan Kathmandu. Berjarak sekitar 10km dari Kirtipur (dari Kathmandu sekitar 14km). Untuk tiba di atas, travelers perlu menaiki cable car dari Chandragiri Hill Station. Diperlukan waktu sekitar 15menit untuk sampai di puncak yang berada di ketinggian 2.551 mpdl. Selama perjalanan kita akan bisa melihat pemandangan Kathmandu Valley (jika cuaca cerah πŸ˜†).

ke sini pas lagi berkabut πŸ˜…

Di atas terdapat Bhaleswor Mahadev Temple, yang merupakan tempat ibadah umat Hindu. Selain itu juga terdapat beberapa tempat makan, jadi jangan khawatir jika travelers merasa lapar di sini. Jika cuaca cerah, travelers bisa melihat gugusan pegunungan Himalaya di kejauhan. Karena berada di ketinggian, cuaca di atas cukup dingin dan sewaktu-waktu bisa turun hujan ringan. Sangat disarankan membawa jaket dan payung untuk jaga-jaga jika turun hujan.

Liburan ke Nepal: Bhaleswor Mahadev Temple
Liburan ke Nepal: Bhaleswor Mahadev Temple

8. Bhaktapur Durbar Square

Berkunjunglah ke salah satu Durbar Square lainnya dari tiga Durbar Square di Kathmandu Valley untuk eksplor saat liburan ke Nepal. Berada di kota Bhaktapur, sekitar 13km dari Kathmandu. Juga merupakan salah satu UNESCO World Heritage Site. Bhaktapur Durbar Square terbagi menjadi empat bagian: Durbar Square, Taumadhi Square, Dattatreya Square, dan Pottery Square. Di Bhaktapur Durbar Square, terdapat beberapa tempat utama seperti Nyatapola Temple, Bhairava Nath Temple, Vatsala Temple, Nge Nyapa Jhya Laaykoo (55 window palace), dan lainnya.

Salah satu sudut di Bhaktapur Durbar Square

Sama dengan hampir semua bangunan bersejarah di Nepal, Bhaktapur Durbar Square juga terkena dampak dari gempa besar yang melanda Nepal pada 2015 lalu. Sampai sekarang, masih banyak  terlihat pekerjaan restorasi dan rekonstruksi di area ini.

9. Patan Durbar Square

Durbar Square terakhir yang bisa kamu kunjungi saat liburan ke Nepal. Berada di Kathmandu Valley, terletak di Lalitpur (Patan). Berjarak sekitar 7km dari Thamel dan memerlukan waktu sekitar 20-30 menit. Patan bisa ditempuh dengan kendaraan umum dan juga taksi. Untuk tarif masuknya sebesar Rps 1000 atau Rp. 128.000.

menikmati sore hari di Patan Durbar Square

10. Golden Temple (Hiranya Varna Mahavihar)

pintu masuk Golden Temple

Golden Temple letaknya tidak jauh dari Patan. Kalau pas ke Patan, jangan lewatkan untuk mampir ke sini juga. Dengan biaya masuk sekitar Npr 50 (IDR 10.000).

11. Nagarkot

cloudy sunrise @ Nagarkot

Nagarkot ini seperti wilayah Puncak atau Lembang kalau di Indonesia. Lokasinya berada di ketinggian dan untuk kesini kita harus lewatin jalan belok-belok dengan bukit di satu sisi dan lembah di sisi lainnya. Bedanya ama jalur Puncak dan Lembang, ke Nagarkot ini rutenya serasa off road karena jalanannya ‘ga mulus macam muka artis-artis drakor πŸ˜…. Biasanya sih kegiatan yang bisa dilakukan di sini trekking untuk menikmati sunrise atau sunset. Kalau tidak mau trekking, pilihlah hotel yang lokasinya menawarkan β€˜sunrise view’.

menikmati cuaca berkabut di Nagarkot πŸ™Š

Nah itu tadi beberapa tempat yang bisa dieksplore sekitaran Kathmandu Valley kalau kamu liburan ke Nepal. Sebenarnya masih banyak tempat-tempat lain yang bisa dikunjungi di Nepal. Di Kathmandu Valley sendiri masih ada Patan Museum, Budhist Stupa Circle dan lainnya.

Untuk di luar Kathmandu Valley ada beberapa pilihan kota tujuan seperti Pokhara, Lumbini, Janakpur, Rara Lake, Chitwan National Park, dan sebagainya. Tidak heran banyak turis mancanegara yang berkunjung ke Nepal biasanya merasa ingin kembali karena Nepal begitu kaya akan budaya. Juga dengan keramahan dan kehangatan masyarakat setempat dan tempat-tempat eksotis dan menakjubkan lainnya di seluruh Nepal.

Tentu saja, saya pun demikian, sudah ingin kembali dan mengunjungi tempat-tempat lain yang belum sempat didatangi. Semoga saya bisa kembali ke negara ini dan explore beberapa kota lebih banyak. Aminkan yaaahhh πŸ˜‡

Untuk cerita lainnya tentang Nepal, silahkan mampir2 ke : πŸ‘‰ Cerita Soal Nepal πŸ‘ˆ

Rainy afternoon at Boudhanath

posted in: Nepal | 0

Boudanath merupakan salah satu situs Tibetan Budha di Nepal dan salah satu tempat wisata yang menarik. Masih terletak di Kathmandu Valley. Untuk menuju ke sini dari Thamel, perlu waktu sekitar 20-30 menit kalau tidak pake macet. Macet? kek di Jakarta donk..πŸ˜‚ iyaa, Kathmandu kalo sore itu suka macet, apalagi kalau abis ujan. Tapi ‘ga ada yang ngalahin macet Jakarta, sih 🀣

Boudha Stupa with cloudy background

Walau sudah dua kali ke Nepal sebelum ini, belum pernah mampir ke Boudanath sekalipun. Yang pertama setelah trekking ABC tidak punya cukup waktu. Saat itu masih jadi budak korporat yang fakir cuti 🀣. Yang kedua kalinya ke Nepal pas solo traveling, ‘ga ada temen share cost taxi πŸ˜‚ jadi cuma keluyuran sekitar Thamel aja πŸ™Š.

Nah, pas ke Nepal terakhir ini malahan dua kali datang ke Boudanath. Karena masih punya waktu lebih di Kathmandu, jadi berniat datang ke sini. Sebelumnya sempet komunikasi dengan Mba Diah yang punya restoran Indonesia di Thamel (tapi sekarang udah di Denpasar), nanya2 info tentang restoran Indonesia yang punya mba Tri. Akhirnya minta contact-nya dan komunikasi deh tuh dengan Mba Tri.

Awal mampir ke Boudanath karena sekalian mau ke tempat yang lain. Setelah beberapa kali wa-an, dapat info kalo Mba Tri tutup resto karena di Nepal lagi libur Daishan. Tapi diundang untuk ke rumahnya yang emang di area Boudanath. Ya udah deh tuh, sekalian aja pas ke Boudanath (tengah hari, lagi panas-panasnya di luar πŸ˜…),mampir deh ke rumah Mba Tri.

Eh, ternyata.. Mba Tri udah siapin makan siang. Khusus dimasakin tumis kangkung & sambal terasi 😍🀀 karena tahu kami baru selesai trekking & kangen makanan Indonesia. Tanpa malu2 ‘ga mau nolak, akhirnya ikutan makan siang πŸ˜… Rejeki cewe yang kecapekan abis trekking 10hari & kangen berat makanan rumah πŸ™Š.

rain…rain..

Nah, setelah ikutan makan siang hari itu, diundang lagi tuh besok lusanya, sehari sebelum saya dan teman saya pulang. Dijanjiin mau dimasakin sayur asam 🀀 dan Mba Tri mau ngundang juga beberapa orang mba2 lain.

seruu ketemu dengan mba2 yang tinggal di Nepal

Akhirnya lusanya kami datang lagi (semangat pulaks πŸ˜…πŸ™Š). Dan kenalan dengan mba2 lain yang asik2. Menunya hari ini lebih banyak (bahageaaa 😍), ada sayur asam, ikan asin, bakwan, plus sambal terasi lagi 🀀🀀🀀.

Seru ngobrol dengan mba2 itu sambil makan siang. Selagi kami di dalam rumah, sempat ngeh kalau di luar hujan. Setelah selesai ngobrol, sorenya sekitar jam 4 kita keluar. Hujan sudah berhenti, sempat keliling sebentar sekitaran Boudanath. ehh tapi sempet hujan lagi.

dgn Mba Tri & Mba Siti
after rain

Pas ujan selesai, kita jadinya ‘kora’ di sana. Suka dengan suasana mendung n hujan saat itu, dengan warna-warna cantik di sekitaran Boudhanath. Dan hujan yang sempat turun tidak menyurutkan semangat pengunjung yang datang.

colorful
travel sista kesayangan

Akhirnya setelah selesai keliling Boudanath, kami pamit pulang ke penginapan kami. Udah dikasih makan dua hari, eh pulang dibekelin camilan pop corn juga 😍. Senang banget kenal & ketemu dengan Mba Tri. Para backpacker Indonesia yang ke Nepal biasanya memang akan mampir ke tempat mba Diah dan Mba Tri. Terima kasih mba atas jamuannya. Semoga bisa ketemu lagi, di Nepal atau pas mba2nya Ada yang pulang ke Indonesia.

Finally, Everest Base Camp!

posted in: Nepal | 1

D8, 9 Oct β€˜19

Lobuche (4.940m) – Gorakshep (5.164m) – Everest Base Camp (5.364m)

Hari bersejarah, hari terpanjang, dan hari terlelah dalam misi ini!

Final day! Hari ke-7 trekking EBC ini. Untuk detail selama di jalan sih sebenernya udah agak β€˜blur dari ingatan’ soalnya waktu itu udah semakin susah napas, capek dan nambah dingin. Pagi itu, setelah sarapan, jam 07.45 kami mulai keluar guest house. Sempet photo2 dulu sekitaran Lobuche yang habis turun salju malamnya (wajib!). Akhirnya kami baru mulai trekking jam 09.00 😁.

Mulai trekking dengan ketinggian di atas 5.000meter, jangan tanya dinginnya kayak apa πŸ˜‚. Udah mulai makin susah napas juga. Jadi trekking jalannya santai pake banged. Untuk jalur dari Lobuche ke Gorakshep sendiri hanya sedikit jalur naik dan turunnya. Tapi tetep aja karna oksigen tipis, untuk tanjakan sekecil apapun tetep bikin napas ngos2an. Dan walopun jalannya kebanyakan mendatar, tempatnya itu terbuka sangaddd, anginnya itu kejam banget selama perjalanan!

otherworldly

Belum lagi semua batu-batu di segala penjuru rute ini. Jadi selama perjalanan harus selalu lihat ke bawah untuk menghindari salah langkah. Kombinasi angin, jalan berbatu, dan dingin, teuteup tidak menyurutkan niat untuk photo2. Lewat jalur ini itu serasa ada di dunia antah berantah. Tidak terlihat ada tanaman dan suara2 binatang, hanya suara angin & helicopter yang beberapa kali lewat. Sejauh mata memandang kita hanya bisa lihat hamparan batu, langit, awan, dan gunung2 dengan latar belakang hitam dan putih. Kalau jaraknya jauh dengan trekkers lain, itu rasanya kek sendirian banget di dunia ini.

negeri antah berantah

Setelah trekking kira-kira 2,5 jam, sampai juga kami di Gorakshep sekitar jam 11.40. Bahagianya tak terkira ngeliat deretan atap-atap guest house dari kejauhan. Walaupun masih lumayan juga untuk sampai di guest housenya dan butuh usaha keras.

Gorakshep sendiri merupakan desa terakhir sebelum sampai di EBC. Terus terang, rasanya udah β€˜ga mau lanjut begitu masuk & duduk anget2an di dining room penginapan di Gorakshep. Sempat ngobrol dengan trekkers lainnya, eh kebanyakan mereka hanya butuh waktu 1-1,5 jam sampai di sini 😳 entah terbuat dari apa dengkul mereka πŸ˜…

Gorakshep, the last village before EBC

Untunglah hanya tinggal trekking sedikit lagi (yang kenyataanya ini paling berat). Sedikit laginya itu ternyata saya butuh waktu sekitar 2jam lebih untuk sampai di EBC dari Gorakshep πŸ˜³πŸ™„. Setelah makan siang, kira2 jam 13.00, kami lanjutkan trekking ke EBC.

Di jalan ke EBC itu udah β€˜ga focus dan β€˜ga inget lagi gimana selama perjalanan. Rasanya sudah pengen rebahan aja. Kepala harus menunduk sepanjang jalan untuk milih batu sebagai pijakan kaki, mata meleng sedikit dijamin bakalan keseleo. Alhasil, leher kram dan pegel karna kebanyakan nunduk. Plus dengan jalur yang masih naik dan turun dan β€˜ga ketinggalan, berbatu!

batu, batu, n batu

Setelah setiap saat nyoba melihat titik akhir trekking, ketemu beberapa trekker yang sudah mau kembali ke penginapan. Mereka kasih info kalau sudah dekat & kasih semangat jugaπŸ˜„. Akhirnya, sampai juga di EBC sekitar jam 3 lewat. Spot batu dengan tulisan keramat itu penuh dengan trekkers yang antri photo macam antri sembako mau Lebaran. Iya, cuma spot batu dengan tulisan Everest Base Camp πŸ˜πŸ˜„.

aku tuh sedih photonya kepotong πŸ˜‚

Fiuh….akhirnya sampai juga di tempat ‘historic’, tempat yang menjadi tujuan banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Begitu sampai langsung mencari batu untuk bisa duduk dan melemaskan kaki. Perjuangan hari ini sungguh warbyazaahhh πŸ˜‚

we.made.it

Di EBC sendiri kami tidak lama karena sudah semakin sore dan semakin dingin. Saya juga sudah tidak sanggup untuk jalan ke arah Khumbu Glacier, padahal tinggal sedikit lagi. Dan sedikit nyesel β€˜ga kesana pas udah pulang (emang yah nyesel itu selalu belakangan πŸ˜…). Untuk trekking kembali ke Gorakshep butuh sekitar 2 jam lagi. Mendekati Gorakshep udah mulai gelap, udah lemas mau pingsan, bahkan trekking pole pun mulai diseret. Rasanya pengen ngesot aja ampe guest house πŸ₯΄.

Khumbu Glacier

Nyampe guest house masuk dining room biar anget. Sekalian makan malam, baru deh akhirnya masuk kamar, walopun β€˜ga rela keluar dari dining room yang anget itu. Begitu masuk kamar udah langsung membeku dan harus bergerak ala2 kukang πŸ₯ΆπŸ₯ΆπŸ₯Ά.

Ya Allah, akhirnya setelah perjuangan delapan hari bisa sampai EBC juga. Yang awalnya tidak pernah kepikiran dan masuk dalam bucket list. Juga sedikit impulsive untuk memutuskan datang ke sini dalam waktu kurang dari satu tahun.

Ditambah perjuangan yang rupa-rupa πŸ˜†. Dimulai dari perjalanan menuju bandara Ramechhap yang butuh waktu 7jam dari Kathmandu, pesawat menuju Lukla yang delay selama sehari. Ditambah juga menginap di guest house di Mantali yang apa adanya. Dan ‘ga ketinggalan, ngerasain penerbangan selama 20menit terlama dan paling menegangkan sepanjang hidup. Akhirnya bisa mendarat dengan selamat di Tenzing Hilarry Airport πŸ˜‡.

Trus lanjut lagi trekking dengan waktu tempuh dari pagi hingga siang atau sore, entah berapa ratus km yang kami lewati. Juga yg lewatin entah berapa ribu rute naik, turun, mendatar, tangga, dan suspensions bridges yang menyeramkan itu πŸ˜‚πŸ˜†. Plus tipisnya oksigen dan udara dingin buat orang tropis macam saya. Walopun jalan pulang masih panjang, tapi setidaknya, sudah kesampean menjejakkan kaki di EBC, kaki atap dunia. Udah mirip-mirip dikitlah ama para climbers Mt. Everest itu πŸ™Š .

Khumbu Glacier – EBC

Namun Tuhan memang maha adil, sungguh luar biasa ciptaan-Nya. Dengan semua perjuangan dan perjalanan yang cukup membuat menderita, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa πŸ˜πŸ’™. Semua view yang didapat selama perjalanan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tentunya, jadi pengalaman sekali dalam seumur hidup. Dan saya tidak menyesal sudah memutuskan ke tempat ini.

EBC photo spot yang sebelumnya


~ EBC: Mission (I’m) Possible ~
#travel4soul.id made to EBC#

Nothing but rocks!

posted in: Nepal | 0

Masih tentang cerita trekking EBC kemarin

Hampir sama dengan rute sehari sebelumnya (Dingboche – Lobuche), jalur trekking hari ini juga lebih banyak dataran terbuka. Karena tidak ada halangan jadi bebas aja tuh anginnya menerpa ke badan, apalagi ke muka. Otomatis, angin yang kenceng bikin kepala pening plus hidung mengalir. Dan disambutlah kami dengan trek yang jalurnya batu, batu lagi, eh, koq batu semua.

akhirnya Gorakshep sudah terlihat

Trek dari Lobuche ke Gorakshep dan Gorakshep ke EBC itu benar-benar menguji kakiπŸ˜…

batu

Setelah trek datar dengan angin yg super duper kenceng bikin hidung mengalir & kepala pening, dimulailah trek yang isinya hanya batu, batu, n batu 😐

batu lagi πŸ˜…

Benar-benar butuh konsentrasi untuk milih batu sebagai pijakan kaki, mata meleng sedikit bisa keseleo kaki πŸ˜• Plus karena harus fokus melihat ke bawah, leher bawaannya jadi pegal dan bikin pusing.

Tapi ada benarnya juga kata pepatah, ‘hasil tdk akan mengkhianati usaha’

Walaupun treknya bikin capek, view di setiap tujuan & selama perjalanan selalu super wowπŸ’™πŸ’™πŸ’™

pusing dengan batu, istirahat dulu😊


~ EBC: Mission (I’m) Possible ~
#travel4soul.id made to EBC#

Perjuangan Tiba di Lukla (Tenzing Hillary Airport)

posted in: Nepal | 0
Welcome to Tenzing Hillary Airport, Lukla

Masih terngiang ucapan diri sendiri dan travel mate, Mba Indah, waktu trekking ke Annapurna Base Camp (ABC) beberapa waktu silam. Waktu ditanya guide kami, mau balik lagi ke sini tidak? Kompak kami menjawab ‘engga, makasih’.

Entahlah, apakah kami memang ketulah karena ngomong itu, atau memang kami beneran jatuh cinta ama Nepal, khususnya Himalaya. Waktu berlalu dari trekking saat itu, ‘ga pernah sekalipun kami membahas mau pergi trekking lagi.

Hingga suatu waktu di awal tahun 2019, saya yang mendadak ingin menjejakkan kaki ke EBC dengan pertimbangan global warming. Takut keburu meleleh puncak-puncak Himalaya-nya, akhirnya ngajakin M Indah pergi dan gayung bersambut πŸ˜†. Jadilah kami beli tiket ke Nepal walaupun tidak dapat harga promo πŸ˜‚.

Tanpa ada persiapan khusus (bukan sombong sodara2 πŸ˜†) dan hanya berkomunikasi beberapa kali dengan agency di sana, akhirnya berangkatlah kami tgl 2 Oktober 2019. Mengalami delay dari mulai JKT_KUL dan KUL_KTM, kami baru mendarat di Tribhuvan International Airport jam 10 malam. Antrian untuk VOA yang panjang dan pengambilan bagasi, kami akhirnya keluar dari bandara beberapa waktu setelah tengah malam dan sudah masuk ke tanggal 3 Oktober.

Awalnya mengira akan menginap di Kirtipur. Namun, dalam perjalanan ke hotel, diinfo oleh agency karena berangkat ke Lukla tidak melalui Tribhuvan, jadi kami akan menginap di Thamel. Dan kami harus berangkat jam 04.30 untuk ke bandara Ramechhap yang katanya menghabiskan waktu 3,5jam. Kenyataaannya perjalanan memakan waktu lebih dari 6jam!

Sebelumnya memang sudah baca info2 dari backpacker lain kalau bandara Tribhuvan sedang dalam renovasi sejak awal tahun. Sehingga penerbangan ke Lukla dialihkan ke Ramechhap. Awalnya mengira keberangkatan di Oktober ini akan bisa dari Tribhuvan, ternyata tidak sodara-sodara.

Jadilah setelah sampai hotel di Thamel, kami tidak bisa langsung tidur karena harus packing apa saja yang dibawa di ransel untuk trekking selama 10-12hari. Baru di dalam perjalanan menuju Ramechhap kami bisa tidur di dalam van.

Ramechhap Airport

Setibanya kami di Airport Ramechhap, guide memberitahu kami kalau pagi ini sudah ada beberapa penerbangan yang berangkat ke Lukla. Infonya, sudah beberapa hari sebelumnya tidak ada penerbangan. Kami lihat memang sudah ramai sekali dengan para trekkers di sana yang menunggu waktu penerbangan mereka. Kami merasa optimis mendengar info tersebut. Di saat kami sedang menunggu, satu flight yang terakhir terbang ternyata kembali dengan membawa penumpang yang seharusnya tiba di Lukla. Ternyata oh ternyata, pesawat yang terakhir terbang tersebut tidak dapat mendarat di Lukla, sehingga harus kembali ke Ramechhap 😳

persiapan menuju Lukla

Seketika kami sedikit lemas dan cemas. Sempat dengar juga dari obrolan trekkers lainnya ada yang sudah ketahan 2hari belum bisa berangkat ke Lukla 😳. Berusaha untuk tetap optimis, kami masih setia menunggu kabar. Sambil menunggu, kami makan siang di sekitaran airport. Setelahnya kami mendapat kepastian kalau penerbangan ke Lukla ditiadakan hari itu 😐. Tidak kebayang kalau harus kembali ke Kathmandu, kami akhirnya menginap di sebuah guest house Mantali. Mungkin ada hikmahnya penerbangan ditunda, karena bisa istirahat setelah kurang tidur dari malam sebelumnya. Jadi bisa mulai trekking dengan cukup istirahat πŸ˜‡.

Welcome
the most dangerous airport in the world

Esoknya, tanggal 4 Oktober kami berangkat pagi-pagi menuju ke Ramechhap agar bisa check in ulang dan mendapatkan boarding pass kembali. Setelah proses check in, pemeriksaaan tas, boarding, dan menunggu, Alhamdulillah, akhirnya kami bisa berangkat dengan penerbangan yang ke sekian. Dan mendarat dengan selamat di Lukla πŸ˜‡. EBC, here we come ……

Lucky to be here ☺️

~ EBC: Mission (I’m) Possible ~
#travel4soul.id made to EBC#

One cold serene morning at Lobuche

posted in: Nepal | 0

D-8, 09.10.19
07.00 – 07.45

Bangun, sholat subuh kilat (udah tayamum dari ketinggian entah berapaπŸ˜‚). Setelah sholat β€˜ga bisa tidur lagi, iseng Β buka gorden jendela, kaca jendela berembun. Abis ngelap kacanya, terpampang hamparan putih di luar. Saljuuuuuuu β„οΈβ„οΈβ„οΈπŸ’™πŸ’™πŸ’™ (selalu norak kalo liat salju πŸ˜‚). Jadi sepertinya semalam habis hujan salju. Terlihat semua tempat di sekeliling guest house ketutup salju. Langsung pake baju perang n ngacir keluar untuk photo-photo πŸ˜†.

Welcome to Lobuche

Ya Tuhan, benar2 speechles ampe di luar. Dingin udah pasti, tapi rasanya itu hening ‘n tentram banget liat seluruh penjuru Lobuche yang tertutup salju. Sambil photo2, hanya bisa meresapi keheningan dan pemandangan sekeliling guest house. Benar-benar Tuhan luar biasa menciptakan alam sebegini indahnya.

So serene, isn’t it?

Pas di luar msh sepi, hanya beberapa orang saja yang terlihat ada di luar pagi ini. Plus acara diikutin pulaks ama doggie, udh diusir2 ga mau pergi2.. Akhirnya teriak deh minta tolong k salah satu trekker yg lg photo2 jgπŸ˜‚.

No caption

Tidak kuat lama2 di luar karna dinginnya yang amit2 dan susah napas. Padahal di luar hanya setengah jam tapi udah berasa beku. Masuk lagi untuk sarapan dan siap2 untuk trekking hari ini.

Surrounded by snow


~ EBC: Mission (I’m) Possible ~
#travel4soul.id made to EBC#




Annapurna Base Camp bagi pemula, bisa banget!

posted in: Nepal | 29
Annapurna Base Camp
Annapurna Base Camp

Buat kamu para pendaki gunung dan/atau pecinta alam, trekking atau mendaki gunung pasti  biasanya rutin dilakukan, ya tidak? Nah, gimana kalo trekking dilakukan oleh orang yang tidak biasa mendaki gunung dan anak kota kek saya (ngaku-ngaku sih πŸ˜‚)

Sebagai negara yang memiliki beberapa gunung tertinggi di dunia, diantaranya Mt. Everest (8.848mdpl, gunung tertinggi di dunia), Kangchenjunga (8.586 mdpl, ke-3 tertinggi di dunia), dan Annapurna (8.091 mdpl, ke-10 tertinggi di dunia), Nepal merupakan negara yang wajib didatangi pendaki gunung dan pecinta alam dari seluruh dunia paling ‘ga sekali seumur hidup. Begitu banyak aktivitas yang bisa dilakukan, mulai dari β€˜day hiking tour’, climbing yang membutuhkan dana sangat besar seperti Mt. Everest Climbing, atau trekking dengan begitu banyak rute dan tujuan.

Mulai dari rute trekking yang  β€˜easy’ seperti Poon Hill, dan type moderate dan yang sangat popular,  yaitu Annapurna Base Camp (ABC) Trek. Hingga yang lebih berat dan menantang  seperti Everest Base Camp Trek. Dan masih banyak rute trekking lainnya di seluruh penjuru Nepal (pengen rasanya pindah ke sana ajah πŸ˜…)

Buat kamu yang tidak biasa atau tidak punya pengalaman mendaki gunung tapi mau nyoba Annapurna Base Camp Trek, berikut beberapa info yang mungkin bisa berguna :

^ Sebelum trekking ^

1. Riset / survey

Kalau kamu mau pakai guide dan porter dari agency lokal, disarankan untuk survey dan cari rekomendasi dari pihak yang sudah pernah pakai jasa agency tersebut. Coba cari beberapa referensi, jadi kamu bisa bandingkan service, fasilitas & harga yang mereka tawarkan. Berdasarkan pengalaman, dapat guide dan porter yang cocok sangat berguna banget. Selain membantu kita selama  trekking, mereka juga bisa jadi teman ngobrol dan kasih motivasi ke kita. Setelah dapat rekomendasi yang cocok, kamu bisa langsung contact mereka dan berkomunikasi melalui email atau media lainnya.

Alternatif lainnya  kalau kamu sampai di Nepal, bisa tanya-tanya dan cari info ke guide atau porter langsung. Sewaktu saya trekking di jalur ini, saya banyak ketemu pendaki yang hanya ditemani porter merangkap guide dan banyak juga trekkers yang jalan sendiri tanpa porter/guide (banyaknya sih bule-bule).

2. Persiapan Perlengkapan & Fisik

Setelah mendapatkan local tour yang cocok, kamu bisa melakukan komunikasi melalui email mengenai semua hal seperti jadwal trekking, persiapan yang harus dilakukan, dan perlengkapan yang diperlukan. Mereka akan kasih jadwal mulai  hari pertama saat penjemputan sampai pengantaran pulang. Mereka juga akan kasih daftar peralatan yang diperlukan. Diantara perlengkapan yang diperlukan, agency akan info apa saja yang disediakan mereka dan apa yang harus kita bawa sendiri. Kalau kamu tidak mau repot bawa-bawa perlengkapan trekking dari rumah, banyak sih tempat penyewaan peralatan trekking di Thamel, Kathmandu. Kalau kamu  sewa, sediakan waktu lebih yah untuk hunting peralatan tadi waktu nyampe sana.

Untuk persiapan fisik disarankan latihan rutin seperti jogging, jalan pagi, sepedaan, atau renang mulai dari 3 bulan sebelumnya. Berdasarkan pengalaman, latihan naik turun tangga juga berguna banget. Karena rute ABC Trek ini banyak ketemu jalur berupa tangga dan kita akan trekking naik turun bukit dan gunung yang banyak (jadi tidak hanya satu gunung dengan rute mendaki terus seperti umumnya). Mayan bikin dengkul meronta sih πŸ˜…

3. Beli Asuransi Perjalanan

Ini termasuk wajib untuk beli asuransi perjalanan kalau mau trekking di Nepal. Dengan kondisi udara dingin dan ketinggian di atas 2ribuan meter, kadar oksigen akan semakin menipis. Jadi trekkers berpotensi terkena AMS (altitude mountain sickness). Asuransi berguna kalau kamu terkena AMS dan dalam keadaan darurat lainnya yang mengharuskan kamu dievakuasi dari ketinggian menggunakan helicopter. Denger-denger sih kalau tidak punya asuransi bayarnya bisa bikin jantungan πŸ˜…

Rute ABC Trek

Yang perlu disiapkan dan dibawa:

Selain peralatan dan perlengkapan trekking, berikut beberapa hal penting yang perlu disiapkan:

* Obat-obatan pribadi

Jangan lupa bawa obat-obat yang biasa kamu konsumsi seperti obat flu, batuk, diare, dan lainnya sesuai kebutuhan. Biasanya sih guide akan sedia p3k dan tea house (tea house ini semacam homestay) juga ada yang  jual obat-obatan. Tapi tidak begitu lengkap dan belum tentu cocok dengan kita. Lebih baik β€˜sedia payung sebelum hujan’ kan? πŸ˜Š

* Makanan & camilan

Untuk jaga-jaga kalau kamu tidak cocok dengan makanan di sana, kamu bisa bawa makanan kering seperti kering kentang, rendang, teri kacang, abon, dan pendamping seperti bon cabe, saus sambal/tomat. Cokelat dan biscuit juga perlu dibawa karena berguna banget kalau pas kamu trekking trus berasa lapar tapi belum waktunya makan siang. Cokelat, biskuit, dan makanan manis lainnya juga katanya merupakan obat untuk mencegah AMS selain banyak minum air putih. Sebenarnya kamu bisa beli tea house sepanjang jalur trekking. Tapi semakin tinggi letak tea house, harga-harga juga akan semakin mahal.

* Bottle refill / Termos

Baiknya banget nih kamu bawa botol minuman yang bisa refill jadi bisa mengurangi sampah plastik kalau pas beli minum. Boleh juga bawa termos air panas untuk nyimpan air minum tetap hangat di malam hari.

* Kamera, charger, dll

view yang ditawarkan di ABC Trek

Nah ini kan trekking naik turun gunung yang banyak banget,  jangan berasumsi kamu tidak bisa photo-photo yah 😁 Kalau kamu trekking ke Annapurna Base Camp Trek, dijamin bakalan pengen berhenti sering-sering untuk photo-photo. Karena pemandangannya super wooowww dan bikin speechless (selain speechless kecapekan juga sih 😬). Tapi jangan kelamaan juga photo-photonya yah karena harus mempertimbangkan waktu untuk sampai di tea house berikutnya biar tidak kemalaman.

Untuk charger kamera, power bank, dan handphone boleh bawa cadangan yah, karena di kamar tea house tidak ada colokan listrik. Jadi tempat charger numpang di common area/dining room gitu.

* Topi, kacamata, masker

Koq bawa topi? Kan di gunung udaranya dingin? Jangan salah, di gunung emang udaranya dingin. Tapi karena tempatnya tinggi, paparan sinar matahari juga lebih kerasa dibandingkan dengan dataran rendah. Masker sendiri bisa ngelindungi wajah dari angin.

^ Selama trekking ^

Beberapa hal yang mungkin kamu perlu tahu selama trekking : 

a. Penginapan & Makanan

contoh penginapan selama trekking

Buat yang tidak biasa mendaki gunung dengan banyak pertimbangan (seperti tidak mau tidur di tenda, males ribet masak, atau susah toilet, dll), tenang aajaaaaa, karena trekking di Nepal ini  nyaman banget koq. Sepanjang jalur trekking ada beberapa desa dan tempat pemberhentian yang terdiri dari berbagai macam tea house. Di malam hari, kita akan beristirahat di kamar dengan dipan+kasur. Untuk kamar mandi emang tidak ada di tiap kamar, jadi semacam shared bathroom gitu.

Untuk makan pun kamu tidak harus repot masak. Selama trekking kamu akan berhenti di tea house untuk makan siang dan makan malam di tea house tempat menginap. Semua makanan disediakan fresh dan hangat, karena baru dimasak saat kamu pesan.

Untuk info aja, harga penginapan, makanan, air panas untuk mandi, dan sewa untuk mencharge alat elektronik, semakin tinggi tempatnya akan semakin mahal. Ini dikarenakan tidak ada transportasi ke atas selain keledai atau kuda. Bahkan, mulai ketinggian tertentu di Annapurna Base Camp Trek ini hewan tidak boleh lewat karena mereka mengganggap area tersebut tempat suci. Jadi barang-barang hanya bisa dibawa oleh porter (kebayang kan bawa-bawa barang naik turun gunung πŸ˜“)

b. Kondisi tubuh

Buat yang trekking ke ABC (dan tempat ketinggian lainnya dengan ketinggian lebih dari 2ribuan meter), biasanya akan ngalamin kepala pusing, sakit kepala, lelah, susah tidur, bahkan mual dan muntah. Ini merupakan tanda-tanda ams dan biasa dirasakan di tempat dengan ketinggian beberapa ribu meter. Jadi, perhatikan banget tanda-tanda dan kondisi badan kamu yah. Kalau ngerasa pusing atau sakit kepala, info ke porter/guide kamu dan coba minum obat. Biasanya kalau ams-nya ringan akan hilang setelah mengkonsumsi obat. Kalau tidak hilang juga dan sampai mual dan muntah, biasanya porter/guide akan bawa kamu turun ke tempat yang lebih rendah  untuk menghindari serangan ams yang lebih parah.

Tips lainnya

Katanya nih bagi yang baru pertama datang ke suatu tempat dengan ketinggian diatas 2ribuan meter disarankan untuk tidak mandi & keramas di 2 hari pertama. Ini dipercaya untuk kasih waktu ke badan kita untuk proses aklimatisasi. Juga supaya badan kita tidak kaget oleh perubahan suhu yang bisa mengakibatkan sakit atau ams. Selain itu, kamu juga sangat disarankan untuk tidak melakukan aktivitas berat seperti lari-lari dan lompat-lompat.

Oh iya, perlu juga diperhatikan nih. Kalau di jalur trekking ketemu dengan porter atau hewan (kuda atau keledai) yang membawa barang, beri jalan dulu untuk mereka yah. Kalau papasan dengan hewan sebaiknya kamu menunggu di sisi yang dalam, bukan di pinggir lembah/jurang untuk menghindari kesenggol dan jatuh.

ABC Trek ini umumnya perlu waktu 10 hari mulai dari kedatangan di Kathmandu hingga kepulangan. Dan untuk waktu trek-nya sendiri sekitar 7 hari (berbeda-beda tergantung rute yang dijadwalkan/dibuat dari setiap agency). Ada lagi yang lebih panjang waktunya dengan rute yang lebih menantang. Untuk waktu trekkingnya sendiri biasanya dimulai jam 08.00 pagi setelah sarapan selama 5-8 jam setiap harinya, tergantung dari kecepatan kita sebagai pendaki.

Sooooo, buat kamu yang pengen nyoba Annapurna Base Camp Trek, go ahead. Banyak info, tips & trik lainnya di internet untuk bahan referensi kamu. Jadi jangan bosan riset, baca, dan tentu persiapkan semua dengan baik yah. It really is one of the experiences you need to do. Go to the mountain, feel the cold and fresh air!Β 

yuk, ikutin keseruan sewaktu trekking ke Annapurna Base Camp di πŸ‘‰ https://travel4soul.id/2019/08/07/lost-in-himalaya-part-1/ πŸ‘ˆ dan di πŸ‘‰ https://travel4soul.id/2019/08/08/lost-in-himalaya-part-2/ πŸ‘ˆ

Tips Mencegah Acute Mountain Sickness

posted in: China, Nepal, Random Stories | 1

Kamu akan pergi ke suatu tempat dengan ketinggian di atas 2.500m? Perhatikan gejala dan tips mencegah acute mountain sickness di sini.

Pernah dengar tentang Acute Mountain Sickness ini? Disebut juga dengan altitude sickness, penyakit ini biasanya dirasakan di tempat dengan ketinggian di atas 2.500m. Umumnya gejala yang dirasakan cepat lelah, pusing atau sakit kepala, sesak napas, tidak bisa tidur, dan mual.

Buat kamu yang ingin pergi ke suatu tempat dengan ketinggian di atas 2.500m seperti saat trekking ke Everest Base Camp. Dan sedikit ragu atau takut mengenai AMS, jangan khawatir. Infonya acute mountain sickness ini bisa dihindari koq.

Yuks simak beberapa tips untuk pencegahan acute mountain sickness:

acute mountain sickness bisa terjadi di ketinggian ini
Everest Base Camp

Aklimatisasi

Kalau kamu sedang menuju ke suatu tempat dan ada opsi untuk lewat jalan darat, usahakan untuk pilih lewat darat. Jika trekking dari ketinggian yang lebih rendah menuju tempat yang lebih tinggi, berjalanlah dengan kecepatan yang stabil. Usahakan untuk tidak jalan terburu-buru. Sehingga badan akan punya waktu untuk menyesuaikan diri dengan ketinggian selama perjalanan. Jadi tubuh tidak terlalu kaget dengan perbedaan ketinggian yang drastis.

Istirahat & jangan beraktivitas terlalu berat

Kalau sudah sampai di tempat yang dituju, sediakan waktu untuk beristirahat. Usahakan jangan terlalu banyak melakukan aktivitas berat seperti berlari, dan melompat. Sebagus apapun pemandangannya dan berbagai macam pose photo yang kamu pengen coba πŸ˜€ Dijamin, untuk napas aja susah kalau udah di tempat tinggi karena kadar oksigen yang tipis πŸ˜….

Perbanyak konsumsi cairan

Dipercaya, banyak minum air putih dapat membantu untuk menghindari AMS. Buat kamu yang tidak suka minum air putih, mungkin bisa konsumsi ginger tea atau teh plus madu. Hindari juga konsumsi alcohol dan merokok.

Konsumsi karbohidrat

Salah satu antisipasi acute mountain sickness bisa dengan menambah asupan karbohidrat. Da juga dengan mengurangi lemak & protein yang membutuhkan waktu lama untuk dicerna. Cokelat atau biscuit juga bisa kamu siapkan sebagai bekal perjalanan. Makanan ini bisa sebagai camilan dan penambah tenaga.

Konsumsi obat acute mountain sickness

Umumnya untuk gejala ringan altitude mountain sickness bisa diatasi dengan minum obat sakit kepala atau obat anti mual. Kamu juga bisa konsumsi obat seperti Diamox. Biasanya obat ini diminum satu atau dua hari sebelum kita sampai di tempat tujuan.

Diamox banyak dijual di apotek di tempat-tempat dengan ketinggian. Untuk di Indonesia sendiri, bisa cari obat yang mengandung acetazolamide. Untuk lebih amannya, kamu bisa konsultasi ke dokter untuk menanyakan obat yang perlu disiapkan & dibawa.

Sedia oxygen can

Untuk tips mencegah acute mountain sickness lainnya, kamu bisa sedia oxygen dalam bentuk kaleng. Oxygen can ini mudah di dapat di tempat-tempat dengan ketinggian di atas 2.500m. Jika kamu ikut travel/tour, biasanya ada beberapa yang sudah menyediakan ini bagi peserta.

Hindari mandi & cuci rambut di hari pertama

Jika kamu berkunjung ke dataran tinggi seperti Tibet, biasanya pihak agency akan menyarankan untuk tidak mandi dulu di hari pertama atau kedua untuk menghindari flu. Juga untuk memberikan waktu agar badan bisa beradaptasi dengan ketinggian baru. Jangan khawatir, karena daerah tinggi, kan dingin jadi tidak terlalu berkeringat yah 😊.

Tips:

Kalau kamu merasakan gejala ringan, wajib untuk istirahat dan tunda ke tempat yang lebih tinggi sampai pulih. Atau kamu bisa mengkonsumsi obat. Jika setelah minum obat gejalanya tidak juga membaik, info ke teman. Atau cari bantuan ke klinik atau RS setempat. Jika semakin parah, kembali turun ke tempat yang lebih rendah.

Selama kamu punya informasi dan persiapan yang cukup, tidak usah khawatir untuk pergi ke dataran tinggi. Pelajari tentang gejala, tips, dan obat untuk menghindari acute mountain sickness. Perhatikan dengan baik kondisi badan selama perjalanan. Karena kamu yang bisa tahu & merasakan kondisi badan sendiri.

Jadi, sudah ada rencana pergi ke tempat dataran tinggi? Atau mau coba merasakan traveling ke tempat dengan ketinggian di atas 2.500m?

~ tulisan di atas berdasarkan pengalaman pribadi saya ke tempat-tempat dengan tinggi, info dari pihak terkait dan beberapa artikel di internet ~

Lost in Himalaya (part 2)

posted in: Nepal | 2

Setelah saakkseesss summit Annapurna Base Camp, pas trekking turun β€˜ga terlalu heboh nih. Soalnya masih flu n batuk yang bikin kepala cenat cenut, Udah β€˜ga sabar balik ke peradaban dunia πŸ˜‚ . Untuk cerita suka duka sebelumnya, πŸ‘‰ klik disini πŸ‘ˆ

Trekking Day-5

Dengan suhu yang super duper duingin, sholat pun keknya udah tayamum deh ini, lupa-lupa inget. Dan udah β€˜ga berani sholat di lantai, jadi di atas kasur. Di tea house MBC ini sepi β€˜ga terlalu banyak trekkers, entah kalau di tea house yang lain sekitaran sini.

golden sunrise at MBC

Besoknya bangun pagi sebelum sarapan lanjut yah photo-photonya sambil nunggu mataharinya muncul. Nah karena posisinya dikepung pegunungan, β€˜ga bisa lihat full sunrise, tapi beruntung bisa lihat golden peak mountain pas pagi. Sukaakkkk banget disini karena disuguhi pemandangan Fish Tail yang megah ini 🀩😍🀩   Rasanya bener-bener deket banget ama gunung ini. Info dari Divash, ada larangan untuk  climbing Fish Tail karena dianggap tempat suci bagi umat Hindu dan Budha di sana.

view sarapan

Setelah sarapan kami meneruskan trekking dengan jalur kebanyakan menurun. Yeayyy, bikin hepi walopun masih kerasa berat karena batuk dan pilek yang masih blom hilang. Sombongnya kami, selama trekking turun dan ketemu trekkers lain yang arah ke atas, kami mengucapkan β€˜Namaste’ dengan ceria (beda dengan waktu trekking naek, ngasih salam aja lemes beud πŸ˜‚). Dan kadang sempet saling melontarkan kalimat dengan mba Indah β€˜selamat menikmati yah ke atas’ sambil senyum senyum. Wkwkwk inget perjuangan sendiri yang super duper menyiksa πŸ˜„.

jangan salah, arah pulang pun masih ketemu beginian πŸ˜‚

Trekking turun hari pertama ini speed kami lumayan cepat.  Mulai trekking setelah sarapan jam 08.00, kami sampai di Himalaya jam 11.00 dan istirahat di Dovan sekitar jam 12 lewat. Setelah makan siang lanjut lagi dan sampai di tempat akhir untuk hari itu di Bamboo jam 14.30. Kami nginap di tempat yang sama, di Trekking Guest House. Mandi engga? Ya udah pasti engga laahh yaw.. hidung masih ngalir deras iniihhh

snow peaknya sudah mulai menghilang
udah balik ke ijo royo royo
santai sore di Bamboo

Trekking Day-6

Udah β€˜ga sabar pengen cepet-cepet pulang, hari ini target kami akan nginap di Jhinu Danda (tapi beda tea house dengan tea house horror sebelumnya). Seperti biasa, kami mulai jam 08.00, sampai di Chommrong jam 12.15 untuk istirahat dan makan siang dan ketemu kembali dengan segala tangganya yang biadab itu πŸ˜…. Seumur hidup akan selalu inget Chomrong kalau ketemu tangga iniiihhh πŸ˜…. Pas arah ke Chommrong ini kami baru sadar, ternyata hebat juga bisa ngelewatin itu semua waktu arah naik. Pas di sini juga udah mulai dapat sinyal. Senangnnnnyaaaaa  hahahahaa, kembali ke peradaban.

tangga sekitar Chommrong

Abis makan siang kami lanjut untuk nginep di tea house malam itu di Jhinu Danda, sampai di tea house jam 14.30. Akhirnyaaaaa kami mandi di sini sodara-sodara (sabodo ama pilek dan batuk udah β€˜ga betah juga sih). Malam terakhir trekking dan sudah β€˜ga ada beban karna udah summit *sombongmodeon 😎

by Chommrong

Trekking Day-7

Wuaaahh, hari terakhir trekking. Mendaur ulang baju karna udah keabisan stok πŸ˜‚ Bangun pagi trus abis sholat Subuh udah β€˜ga bisa tidur, akhirnya ngobrol-ngobrol dan ha-ha-hi-hi, β€˜ga sadar kalo suara kami kenceng. Trus digedor deh ama kamar sebelah yang masih pada bobo πŸ˜‚ maafkeeuunn kami yaah

kostumnya itu2 ajah πŸ˜‚

Ternyata rute hari justru capek banget karena mataharinya berasa cetar. Padahal jalurnya mendatar. Nah sempat berhenti di Siwai ada yang nawarin untuk naik jeep sampe Nayapul. Dan kita β€˜ga tahu kalau ternyata dari Siwai kita bakalan jalan ke Nayapul. Mikir-mikir kena naik jeep lumayan, akhirnya ok aja deh jalan ke Nayapul. β€˜

‘Ga taunya, jalan ke Nayapul jaauuhh. Udah gitu jalanannya itu medan off road dan berdebu banget. Jadi setiap kali ada kendaraan lewat kita harus minggir dulu dan nutup hidung rapet-rapet. β€˜ga kebayang deh kalo hujan kek apa lumpurnya πŸ˜”. Akhirnya sampe di mana gitu, guide kami nyetop jeep dan kami lanjut naik jeep. Duh lega, udah semaput rasanya pengen pingsan karena panas dan capek πŸ˜” .

bright and sunny day

Nah, mulai dari Siwai itu ransel kami dibawa pake bus untuk nanti diambil di Nayapul. Eh ternyata, waktu kita nyampe Nayapul untuk lapor di pos, ternyata bisnya udah jalan ke Pokhara. Ngeri-ngeri sedap juga tuh, karena naro go pro pinjeman di ransel gede itu takut ilang aja ntar harus ganti πŸ˜‚. Setelah laporan selesai trekking, kami lanjut ke Pokhara dengan mobil sedan dengan jalanan yang off road itu lagi dan akhirnya ketemu bus yang bawa ransel kami di Pokhara πŸ˜†

baru ketemu sign board di Nayapul pas arah pulang

Bahagianya ngelihat peradaban waktu sampai di Pokhara. Kami akan nginap semalam di Pokhara dan bisa bobo di kamar hotel. Senengnya lagi, dari kamar kami kelihatan Fish Tail dari kejauhan walopun β€˜ga ada lift, harus naik turun (ketemu lagi ama tangga) πŸ˜…. 

Dan bahagianya dobel karena kami nemu restoran halal, bisa makan nasi enyak setelah makan mie korea berhari-hari. β€˜ga kepikiran bawa sandal, begitu bersih-bersih di hotel kami nyari toko untuk beli sandal, udah bosen pake sepatu trekking yang berasa kek robot pakenya.

Good night universe, terima kasih Tuhan saya bisa merasakan pengalaman yang luar biasa ini ditemani travel sista yang asik dan juga Divash & Tika, guide dan porter kami yang luar biasa πŸ˜‡

good companions

Trekking Down:

D5 : MBC (3.700) – Deurali (3.200m) – Himalaya (2.873m) – Dovan (2.430m) – Bamboo (2.310m)

D6 : Bamboo (2.310m) – Chhomrong (2.170m) – Jhinu Danda (1.780m)

D7 : Jhinu Danda (1.780m) – Siwai (1.530m) – Nayapul (1.070m) – Pokhara