Cruising di Halong Bay

posted in: Vietnam | 0

Punya cita-cita ke Raja Ampat tapi tiket mahal? Sama donk πŸ˜‚ akhirnya malahan terdampar ke Halong Bay deh πŸ˜…

Awalnya trip ke Vietnam ini ngebahas soal Sapa dengan Mba Ruli dan masuk ke salah satu bucket list trip kami beberapa tahun sebelumnya. Dan akhirnya pada suatu waktu kami memutuskan beli tiket ke HanoiΒ  dengan harga ‘ga promo-promo amat πŸ˜…

Dari situ mulai ngeracunin mba-mba yang lain untuk ikutan, plus ketambahan anggota baru, si cantik Aimee. Jadilah rencana mau eksplore Vietnam bagian utara. Nah Mba Indah yang kepengen ke Halong Bay, jadi deh masuk ke itinerary juga. Siapa tahu abis ke Halong Bay bisa ke Raja Ampat . Aamiin πŸ˜‡πŸ˜Š

ketambahan anggota baru 😊

Sambil menyusun itinerary, mulai pilih-pilih untuk paket tour Halong Bay dari Jakarta beberapa bulan sebelumnya. Buat yang ingin ke Halong Bay, bisa juga pesan on the spot pada saat kedatangan melalui penginapan. Untuk paket Halong Bay ada yang one day tour saja, dari pagi hingga malam. Mengingat jarak yang lumayan jauh dari Hanoi, kami memutuskan untuk mengambil paket 2D/1N. Jadi bisa merasakan sensasi berlayar ala-ala cruise πŸ˜€

Awalnya mau pilih Alisa Cruise, tapi dapat info kalau untuk tanggal yang kita mau udah full book (tapi lega juga karena harganya lebih mahal πŸ˜‚). Akhirnya confirm dengan sister cruise nya, Alisa Boutique Cruise dengan harga yang masih lumayan mihil (menurut sayahhΒ πŸ˜‚). Tapi dibanding ke Raja Ampat dan mumpung udah nyampe Hanoi, jadilaah kita fix mau cruising πŸ˜€

cruise

Hari ke-2 di Hanoi, kami dijemput dari pihak Rosa Boutique di hotel tempat kami menginap. Jemput dan antar ke harbour sudah include dalam harga paket. Sekitar jam 08.30 kita berangkat dari hotel di down town Hanoi. Untuk sampai ke Halong Bay harbour perlu waktu sekitar 3,5 jam. Di perjalanan kita akan berhenti di tempat pemberhentian berupa tempat kerajinan.

Halong Harbour, gerimis mellow

Waktu mau mendekati Halong Bay, cuaca berubah jadi mendung. Bahkan, saat turun dari mobil jemputan mau naik ke boat sudah mulai gerimis. Untuk mencapai kapal pesiarnya, kita perlu naik perahu yang lebih kecil sebentar. Tidak sampai 5menit, akhirnya kita onboard n sailing! 😊

let’s start cruising
langitnya gelap

Setelah pembagian kamar dan simpan barang-barang, kita kumpul di dining area untuk makan siang. Oh iya, servis dari Rosa Boutique OK banget sih (bukan promo yah, tapi emang pic-nya rajin banget follow up dan tanya-tanya kita maunya gimana). Waktu masih di Indonesia, kita ditanya ada preferensi atau pantangan tidak untuk makanan. Nah jadilah saya minta untuk halal food dan ambil amannya minta vegetarian & seafood only.

briefing dari guide

Habis makan siang dan istirahat sebentar kita berhenti di sebuah pulau tempat budidaya mutiara (Pearl Farm). Jadi kita bisa lihat proses mutiara dari awal hingga jadi perhiasan. Cakep-cakep banget yang udah jadi perhiasan, sayang sayah cuma bisa lihat-lihat ajaahh πŸ˜…

pearl farm
salah satu etalase pearl yang siap dibeli

Setelah dari tempat budi daya mutiara, dilanjutkan dengan aktivitas kayaking. Wuihhh saya yang tidak bisa renang antara pengen dan takut, akhirnya jadilah nekatz ikutan kayaking dengan Mba Ruli 😁. Dan setelahnya pegel-pegel abis kayakingΒ πŸ˜‚. Selagi kami menikmati kayaking,mulai hujan lagi. Setelah selesai kita kembali ke cruise untuk istirahat dan persiapan makan malam.

Ikutan cruise ini benar-benar namanya liburan. Kita cuma leyeh-leyeh dan makan aja 😊 . Aimee pun makannya banyak (ngalahin tante-tantenya 😁).Setelah makan malam, ada pilihan aktivitas diantaranya squid fishing dan karaoke. Saya milih squid fishing bersama dengan yang lain. Tapi jadinya tidak sabar, karena tidak dapat cumi juga. Sepertinya squidnya lagi pada bobo ujan-ujan gitu 😊.

siap2 kolesterol 😁
cantik yah. awal-awal sayang makannya, tapi ludess juga 😁

Huhuhuhuuu sayangnya selama cruising cuacanya kalo tidak mendung, gerimis, atau ujan gede 😱😨 jadi nya kami tidak bisa menikmati sunset dan sunrise 😰. Tapi, tetap saja pemandangannya cantik dan bikin betah photo-photo.

dapat sunset-nya begini ajah
lepas jangkar untuk bermalam

Malam saat kapal lepas jangkar untuk berhenti, hujan turun sepanjang malam. Esok harinyapun tidak ada sunrise dan tidak bisa tai chi di geladak kapal karena masih gerimis. Untuk aktivitas hari ke-2 setelah sarapan kami akan mengunjungi Tung Sot Cave (Amazing Cave). Untuk ke sini kita akan pindah dengan menggunakan perahu kecil kembali. Nah waktu kita pindah perahu dan mulai jalan ke arah cave-nya, masih gerimis dan tangga ke atasnya itu sedikit licin, jadi harus ekstra hati-hati.

dermaga di Tung Sot Cave

Tung Sot Cave ini sangaatt luas. Di dalam gua-nya sendiri sudah tertata rapi, jadi kita hanya tinggal mengikuti jalur sepanjang gua. Jalur masuk dan keluar hanya satu arah, jadi kita tidak akan bertabrakan dengan orang dari arah yang berlawanan. Walaupun sedikit terasa dingin, tapi ternyata eksplore di dalam sini bikin keringetan juga. Setelah eksplore selama sejam, kita kembali ke cruise untuk siap-siap check out dan kembali ke harbour.

path walk-nya searah jadi ‘ga nabrak-nabrak
dari atas pintu keluar Tung Sot Cave

Nah dalam perjalanan kembali ke harbour, ada cooking class masak spring roll yang nantinya akan kita makan bareng-bareng hasilnya. Setelah check out kita makan siang sambil menuju kembali ke harbour. Waktu sampai di harbour cuacanya ceraaaaahh beda dengan kemarin waktu baru sampai πŸ˜…πŸ˜‚. Untuk trip Vietnam ini kami kurang beruntung, dapat cuacanya mellow bin sendu.

Aimee belajar bikin spring roll
sempat dapat langit biru

Dan kami kembali ke Hanoi setelah 3,5 jam. Dari Hanoi kami meneruskan perjalanan k Sapa. Untuk cerita di Sapa cek di sini yah😊 https://travel4soul.id/2019/08/07/sensasi-empat-musim-dalam-satu-hari-di-sapa/

Sensasi empat musim dalam satu hari di Sapa

posted in: Vietnam | 0

Emangnya bisa dan ada tempat seperti itu? Merasakan empat musim dalam satu hari? Jawabnya, ada lho! Cobain deh berkunjung ke Sapa, salah satu kota di Vietnam yang katanya cuaca di sana tidak menentu.

Vietnam sendiri merupakan negara dengan posisi geografis unik seperti Jepang, memanjang dari utara ke selatan. Secara garis besar, Vietnam dibagi menjadi tiga bagian, Vietnam bagian utara, tengah & selatan.

Untuk mengunjungi Vietnam dari ujung ke ujung perlu waktu cukup lama. Jadi untuk travelers yang berkunjung biasanya  sih pilih salah satu atau dua bagian saja. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Vietnam bagian utara.

Yang menjadi tujuan favorit travelers di Vietnam bagian utara adalah Hanoi, Halong Bay, dan Ninh Binh. Jika ada waktu, Sapa bisa menjadi tujuan kamu selain ke-3 tempat tadi. Sapa terletak di sebelah barat daya Vietnam di Provinsi Lao Cai, berjarak sekitar 350km dari Hanoi. Memerlukan waktu sekitar 5-8 jam perjalanan darat dari Hanoi untuk ke Sapa. Sapa merupakan salah satu bucket list saya dan Mba Ruli, dan kita sudah beberapa kali bahas mengenai trip ke sini. Alhamdulillah, kesampean juga bisa ke sini.

Trus, sensasi empat musimnya itu gimana ceritanya?

Sapa berada berada di bawah lereng Gunung Fansipan (3.134 mdpl), yang merupakan bagian dari gugusan Himalayan Range. Gunung Fansipan merupakan gunung tertinggi di Vietnam yang disebut juga dengan β€˜The Roof of Indochina’. Kota dengan ketinggian 1.600 mdpl ini memiliki hawa sejuk dengan suhu rata-rata di bawah 20˚ C (mirip-mirip Lembang dan Puncak kali yah). Karena  cuaca yang sering berubah-ubah, Sapa dikenal sebagai kota dengan empat musim dalam sehari, yaitu musim semi di pagi hari, musim panas di siang hari, musim gugur di sore hari, dan musim dingin di malam hari.

perubahan cuaca di Sapa hanya dalam hitungan detik

Untuk mencapai Sapa dari Hanoi cukup mudah dan tersedia banyak pilihan. Kamu bisa pilih menggunakan kereta, bus, atau tour dari Hanoi. Kalo kamu milih bus, tersedia banyak operator bus dengan rute Hanoi – Sapa dan sebaliknya. Rata-rata jadwal keberangkatan ada dua kali dalam sehari, di pagi dan malam hari. Untuk jenis bus-nya pun ada yang jenis seat dan sleeper bus.

Kalau mau menghemat budget, sleeper bus sangat disarankan karena bisa hemat akomodasi. Nah ini yang saya dan teman-teman pilih waktu ke Sapa. Tiket bisa dibeli di hotel atau agent di Hanoi, atau bisa pesan langsung via web operator bus. Dengan harga sekitar USD 14 (tergantung tipe seat dan operator bus). Pihak operator bus akan menjemput kita di hotel sekitar Old Quarter di Hanoi.

Selama perjalanan bus akan berhenti sekitar 1-2 kali untuk memberikan penumpang kesempatan ke toilet dan/atau makan di rest area. Rata-rata sih sleeper bus malam akan menempuh waktu sekitar 5-6 jam, berangkat sekitar pkl. 21.00 – 22.00 dan sampai di Sapa sekitar pkl. 03.00 – 04.00 dini hari. Bus akan berhenti di sekitar alun-alun Sapa dan penumpang dibolehkan untuk tetap tinggal di bus hingga pkl. 06.00.

view kalau lagi cerah, mirip Cinque Terre yah πŸ˜„

Saat perjalanan kami dari Hanoi menuju Sapa, hujan mengguyur dengan derasnya hampir sepanjang perjalanan. Padahal, saya sudah mencari-cari referensi waktu terbaik untuk berkunjung ke Sapa. Dan  banyak informasi yang bilang waktu terbaik untuk ke Sapa itu sekitar Maret-Mei dan September-November. Emang sih sempet dengar dan sempat mengobrol dengan salah satu mbak-mbak  operator bus, cuaca di Sapa itu emang tidak bisa diprediksi katanya.

Akhirnya kami sampai di Sapa sekitar jam 03.30, bus berhenti di seberang alun-alun Sapa. Keadaan di luar masih gerimis dan kabutnya cukup tebal. Karena saya sudah pesan hotel dan jarak hotel hanya sekitar 300meter, jadi kami memutuskan langsung menuju ke penginapan dengan berjalan kaki. Jarak pandang hanya sekitar 10meter dan udaranya dingin, seingat saya suhunya sekitar 13-14˚ C. Kondisi jalanan agak sedikit mistis, jalan kaki pagi buta dengan gerimis dan kabut. Berasa di dunia lain sih jalan pagi-pagi buta gini πŸ˜…

Sapa Church & Alun-Alun Sapa di saat cerah

Setelah check in, kami sudah tidak bisa tidur juga karna udah hampir subuh. Jadinya kami cuma ngobrol sambil nunggu pagi dengan harap-harap cemas. Berharap banget hujan berhenti dan kami bisa lihat sunrise dari balkon kamar hotel. Tentu kami juga berharap cuaca cerah saat kami akan explore Sapa. Pagi menjelang, hujan yang sebentar deras sebentar hanya gerimis awet seharian itu πŸ˜” Pupus sudah lihat sunrise, cuma bisa lihat kabut dan awan putih sodara-sodara.

penampakan di waktu Subuh

Menjelang siang hujan juga belum berhenti. Akhirnya kami memutuskan untuk tetep keluar, yah masa udah jauh-jauh ke sini cuma di kamar doank πŸ˜‚. Di Sapa banyak toko peralatan outdoor karena salah satu aktivitas yang bisa dilakukan adalah trekking  (rencana lain yang gagal karna hujan terus). Sebelum mulai berkeliling, kami akhirnya beli jas hujan di toko outdoor yang ada di seberang hotel tempat kami menginap. Disini tersedia jaket, sepatu trekking, ransel, dll dengan merk ternama dan harga miring dibandingkan dengan harga di Jakarta. Dan saya nyesal karena waktu itu sudah kepengen beli jaket, tapi tidak jadi karena mikir hanya punya bagasi kabin. Padahal murah euyyy πŸ˜„

hujan & kabut hampir sepanjang hari
Sapa Station yang terletak di Sun Plaza – penampakan kala hujan
nah ini penampakan lagi cerah

Highlight saya di Sapa itu trekking dan ke Sun World Fansipan. Jadi untuk hari pertama ini kami langung ke Sun Plaza untuk naik ke Sun World Fansipan Legend, dan nyobain cable car ke Puncak Fansipan. Dulu, untuk bisa ke puncak Fansipan perlu trekking selama 2-4 hari tergantung rute yang diambil. Sejak tahun 2016 telah dibangun cable car sampai ke puncak Fansipan tanpa trekking. Biaya untuk cable car sebesar VND 700,000 (sekitar IDR 430,000) sudah termasuk cable car pp (syeddihhh pas nyampe sini bayar mihil cuma bisa liat kabut dan ujan 😰).

menangis luar dan dalam πŸ˜‚

Butuh waktu sekitar 15menit untuk sampai ke stasiun atas. Untuk ke Fansipan Peak-nya bisa dilanjut jalan kaki naik tangga atau bisa naik funicular dengan tambahan biaya sebesar VND 100,000 atau sekitar IDR 61,000.

photo-photo jalan terus melupakan sakit karena view di luar πŸ˜…

Dengan cuaca yang masih tidak menentu, kami mencoba peruntungan kami. Namun sayang, kami memang tidak beruntung. Setelah sampai di station akhir, hujan masih turun ajah. Masih tidak mau menyerah, kami tetap nyoba untuk lanjut ke atas naik tangga ke temple yang terdekat. Walaupun akhirnya nyerah juga karena angin kencang, dinginnya ampuunnn banget ampe ke tulang πŸ˜….

.

jari beku untuk ngambil photo ajaahh

Akhirnya kami nunggu di station akhir berharap hujan berhenti. Untungnya disini ada beberapa restaurant, coffee shop, dan toko souvenir. Bisa jadi tempat untuk menunggu dan menghabiskan waktu. Setelah melihat tanda-tanda hujan tidak berhenti, kami sepakat untuk kembali ke bawah. Sampai di Sun Plaza pun ternyata masih hujan dan kami akhirnya kembali ke hotel dan memutuskan kunjungan ke Cat Cat Village kami tunda esok hari.

Pegunungan Sapa *awannya beneran jalan waktu itu*

Rencana awal kami akan melakukan trekking esok harinya tidak bisa terlaksana juga. Besoknya cuaca masih belum mendukung, gerimis masih turun dan berkabut. Kabutnya itu datang dan pergi dalam hitungan detik. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Cat Cat Village dengan pedoman dari petugas hotel. Dia memberi info dari hotel berjarak hanya sekitar 3km, walaupun ternyata jaraknya aslinya sekitar 5km πŸ˜‚.

Cat Cat Village merupakan suatu desa wisata dan merupakan replika desa suku asli H’Mong. Di jalan ke Cat Cat Village pemandangannya cukup mistis karena tebalnya kabut. Untunglah gerimisnya pelan-pelan mulai hilang jadi kami bisa photo-photo selama perjalanan ke Cat Cat Village.

start point area Cat Cat Village

Sekitar sejam kemudian, tibalah kami di gerbang Cat Cat Village. Untuk masuk ke tempat ini dikenakan biaya sebesar VND 25,000 (sekitar IDR 20,000). Di sini kita bisa melihat bentuk rumah asli suku H’Mong dan berbagai macam kerajinan tangan yang dihasilkan oleh suku ini. Di Cat Cat Village ini juga terdapat Cat Cat Waterfalls, tapi kami tidak sampai ketempat ini, hujannya turun lagi. Jadi kami putar balik arah ke pusat kota untuk makan siang.

view sepanjang jalan di Cat Cat Village
kerajinan tangan suku Hhamong

Setelah makan siang dan istirahat di hotel, kami lanjut mau ke Sapa Lake. Walaupun dengan sedikit galau karena kabut yang masih datang dan pergi. Sepanjang perjalanan ke Sapa Lake, kami disuguhi pemandangan bangunan-bangunan cantik khas Perancis (Vietnam ini negara bekas jajahan Perancis, jadi banyak bangunan bergaya Perancis). Sungguh beruntung, pas sampai di Sapa Lake, akhirnya cuacanya semakin cerah. Kamipun bisa melihat Danau Sapa yang mirip dengan Danau Hallstat di Austria (blom pernah ke sana sih, cuma liat dari internet 😁).

Sapa Lake, udah mirip dengan Hallstatt blom πŸ˜„
Sapa Lake

Memang benar adanya. Kita bisa menikmati empat musim dalam satu hari di Sapa dan saya mengalami sendiri. Sedikit menyesal sih karena tidak berhasil sampai ke Fansipan Peak. Tapi, saya senang bisa menikmati suasana kota yang cantik dan sejuk. Tentu saja, berharap bisa kembali ke sini untuk bisa sampai ke Fansipan Peak tanpa hujan dan kabut πŸ˜‡.